23 August 2007

Jilbab=fashion?

Sudah lama saya ingin mengungkapkan ini, tapi saya ragu dan takut akan menimbulkan reaksi keras dari sampeyan semua. Tapi sepertinya sekarang saya harus menuliskannya di sini, tanpa bermaksud melecehkan, merendahkan atau menghina tapi untuk mendapat masukan dari anda sekalian.

Beberapa waktu yang lalu, saya nganter anak saya berenang. Di tengah perjalanan, ada mobil di belakang saya berusaha mendahului. Klakson dibunyikan berkali-kali. Saya menangkap kesan pengemudinya marah karena saya tidak memberinya jalan untuk mendahului. Sebenarnya saya bukan tidak mau memberinya jalan tapi keadaan jalan tidak memungkinkan. Setelah beberapa meter, mobil tadi berhasil menyalip, di depan saya sang sopir (ibu muda berjilbab) mengacungkan jari tengahnya ke luar jendela. Misuhi (memaki) saya. Saya kaget setangah mati. Tidak menyangka akan mendapatkan reaksi sekeras itu (karena saya tidak bermaksud menghambat laju kendaraannya). Anak saya ( kelas 1 SMP) yang melihat itu langsung emosi. Kejar, Ma, ngko tak pisuhi pisan. Jilbaban kok misuhan. Gak cocok blas, gitu kata anak saya.

Untung hati saya sedang bersih :P. Saya redam kemarahan anak saya. Tapi benak saya masih terganggu kalimat anak saya: jilbaban kok misuhan. Salahkan anak saya berkata begitu? Dia menuntut wanita berjilbab harusnya tidak mengucap kata2 kasar. Untung baru 1 yang dia tahu. Berjilbab tapi tidak keberatan mengucap: fak yu. Bagaimana kalau dia tahu kalau ternyata di luar sana ada yang lebih parah (saya ndak usah sebutkan di sini). Untung juga dia tidak bertanya lagi, jadi saya ngga bingung menjelaskannya. Tapi saya merasa harus meluruskan dan saya ingin mendapat masukan dari anda sekalian.

Masih ingat film Catatan Si Boy? Tokoh film yang booming thn 86-an itu sempat menjadi idol anak-anak muda di jaman itu. Ganteng, kaya, digandrungi cewek2 dan...alim. Solat iya tapi cipokan juga okeeehhhh. Dan untuk menggambarkan kealimannya di mobilnya selalu ada tasbih yg digantung di spion dalam. Seperti itukah gambaran pria alim metropolitan? Sama seperti wanita berjilbab metropolitan yang nyante aja tidur dengan suami orang, apalagi cuma bilang fak yu.

Saya kagum pada Novia Kolopaking yang tidak serta merta menutup kepalanya dengan jilbab meski dia menikah dengan seorang kyai kondang. Dia tidak lantas berganti gaya berpakaian hanya untuk memenuhi tuntutan penggemarnya. Karena jilbab memang bukan hanya sekedar menutup aurat saja. Ada konsekuensi yang mengikutinya supaya tidak ada keutuhan antara penampilan dan perilaku. Ibarat lagu, harus ada harmoni antara musik dan lagunya supaya nadanya tidak sumbang.

Meski tidak ada larangan seorang dengan tubuh penuh tato, lidah dan hidung di piercing, rambut dipilin ala Bob Marley sholat jumat di mesjid (anggap saja preman tobat) tapi apakah anda yakin tidak bertanya2? Ngga salah nih? Begitu juga sebaliknya. Pake jilbab tapi doyan selingkuh. Ngga salah nih? Lalu dia anggap apa jilbabnya itu? Rambut kepala ditutupi tapi rambut yg lain malah di ler. Jadi gimana nih? Masih setuju pakaian dan perilaku gak ada hubungannya.

Saya tidak sekeras Gadis Arivia ato Nawal El Saadawi soal jilbab. Tapi bagi saya jilbab dan kebiasaan misuh atau selingkuh atau hal-hal negatif lainnya jelas bertentangan. Memang betul kata mbah ini bahwa memakai jilbab itu sebuah kewajiban bagi muslimah dan kewajiban harus dilaksanakan. Tapi kok saya ngga setuju kalau dikatakan ngga ada hubungannya antara jilbab dan kebiasaan yang bertentangan dgnnya. Duh gimana ya cara ngomongnya. Saya ngga tahu banyak soal agama. Saya menjadi muslim karena orang tua saya muslim. Saya solat karena Dia memerintahkan begitu. Keimanan saya masih rendah. Pengetahuan saya juga sangat dangkal. Saya tidak layak menggugat soal jilbab. Tapi kejadian bersama anak saya itu membuat saya prihatin, ah bukan..bukan prihatin…marah… ya… yaa.. mungkin itu lebih tepat atau… kecewa… ya K E C E W A. Saya kecewa bukan karena saya tidak bisa membalas makiannya tapi saya kecewa karena perempuan itu memakai jilbab hanya untuk alasan fashion saja. Mudah2an saya keliru. Tapi yang jelas dia selangkah lebih baik daripada saya. Dia berjilbab dan saya belum.

Labels: