Ini kopdarku bukan kopdarmu
Cuma satu kata: Lawan eh Seru! (maklum saya jarang kopdar). Meski yang heboh cuma Siwi dan Zam tapi udah bisa bikin suasana jadi seger dan ngga ngerasa udah berjam-jam kita nongkrong. Kalian yang ngga sempet gabung paling tidak lewat gambar kalian bisa merasakan serunya.
ini kopdar susulan tgl 18 malem sama
vivink
Labels: friends, Madly, Truly
Aku muliiiihhhh
Ahhhh akhirnya saya bisa pulkam setelah 3 tahun berturut2 berlebaran di Surabaya. Sudah kebayang rasanya solat di mesjid ndeso, ketemu sama temen2 saya di desa yg sudah punya cucu (aku sing wes tuwek ato mereka yg kesusu kawin?). Kebayang juga berjalan-jalan di pematang sawah, bantuin adik ngawinin timun, ngajak anakku mandi di sungai (tapi aku gak melok adus). Sumpah bukan sok romantis, tapi memang saya ngga pernah bisa jenak setiap kali berlebaran di desa. jadwal cuti di pabrik tempat saya kerja agak susah. Maklum pabriknya ndak pernah libur. mau tanggal merah, ijo apalagi item. mau merahnya natal, lebaran, imlek ato kuningan, pabrik jalan terooosssss. Jadi jadwal kopdar dengan seleb terpaksa di reskedul. Tapi saya masih bersyukur. Temen saya yg perawat malah baru dapet giliran cuti lebaran tahun 2010 nanti. Wedew, ada yg lebih parah ternyata.
Mungkin karena terlalu nepsong (napsu) saya lupa bawa sikat gigi ke kantor. Heran biasanya selama puasa ini sikat gigi dan odol selalu sten bai dalam tas. Alhasil, saya bersihkan mulut dengan cara; olesin odol (minta ama temen) ke gigi, trus digosok2 kayak orang gosok gigi pake sikat, trus kumur2. Setelah itu flossing. Ya jelas nggilani ngga bersih lah, tapi daripada ngga sama sekali? Pingin tahu rasanya? Berhubung saya sahur pake sayur seledri, jadi sampe jam segini mulutku masih beraroma seledri hehehe. Berita buruk yang lain hari ini saya minum cuma setengah gelas :((. Ya wes ndak papa lah, mudah2an ndak dehidrasi :P. Saya mudik yaaaaa...doain selamat. ngeblognya ndak libur kok (sopo sing takon??)
Labels: Truly
Mahameru
Saya menyebutnya sisa-sisa masa kejayaan. Bayangin aja naik gunung pertama kali ke gunung tertinggi se Jawa pula. Siapa yang ngga bangga. Tapi rasa bangga itu justru muncul bertahun-tahun sesudah kejadian. Saya lupa tepatnya tahun berapa yang pasti bulan Agustus, saya -tanpa direncanakan sebelumnya- bergabung dengan teman-teman satu kost yang akan mendaki gunung Semeru. Keputusan saya untuk ikut mendaki saya buat hanya beberapa jam sebelum berangkat. Misi saya juga tidak sehebat misi Gie. Saya cuma ngga mau kesepian di kost karena semua pada mudik.
Karena memang bukan pendaki gunung (tapi saya pecinta alam lhooo) saya tidak punya perlengkapan untuk mendaki. Akhirnya sambil di susu-susu (diobrak teman2 maksute)saya cari pinjaman sepatu (sepatuku wes elek), jaket dan lain-lain. Pendek kata semuanya barang pinjeman kecuali sidi dan kutang hehe.. Jangan tanya soal kemampuan baca peta dan kompas karena kami tidak membawa 2 benda itu (pokoke benar2 bonek alias bondo nekat). Bekal? Kami cuma bawa mi instan tok!! Plus susu bubuk dan kornet. Perlengkapan lain saya tidak tahu menahu, karena backpack saya (yang biasa saya pake buat kuliah) cuma berisi mukenah (ben ketok alim), dan perlengkapan daleman, baju ganti, sarung tangan, topi plus makanan kecil dan air minum. Jadi bek pek nya kempes ngga seperti pendaki2 lain yang bek pek nya bisa melebihi tinggi kepalanya. Bahkan ada yang ditaruh di dada pula. Celana yang saya pakai pun celana jins. Norman Edwin pasti ketawa kalo lihat persiapan saya mendaki. Pokoknya perlengkapan yang kami bawa sangat standar kalau tidak boleh dibilang minim.
Sampai di Ranu Pane hari masih sore. Poto-poto merupakan acara utama. Ini salah satunya.

Malamnya saya kedinginan karena jaket dan celana saya dari bahan jins (oon tenan). Untung semua bisa teratasi sehingga perjalanan ke Ranu Kumbolo bisa dilanjutkan keesokan harinya. Disana poto2 lagi laaahhh�. Ini salah satunya.

Ranu Kumbolo ini lebih luas (14 ha) dan lebih indah dari Ranu Pane. Airnya pun jernih. (kami langsung meminumnya tanpa dimasak, ngeman parafin kata temen saya hahahaha kere tenan). Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami (6 cowo 2 cewe) berangkat menuju pos terakhir di Kalimati. Di awal perjalanan kami langsung dihadang bukit terjal kemudian melewati padang rumput luas yg dikelilingi bukit dan gunung. Namanya Oro-oro Ombo. Pokoknya indaaaaaaahh sekali. Setelah itu kami masuk hutan cemara, Cemoro Kandang (duuuhh pingin kesana lagi).
Sampai di pos Kalimati (2.700 m) kami (eh teman2ku ding) mendirikan tenda. Sudah magrib waktu itu. Aduuuuhhh indah sekali melihat sunset di alam terbuka tanpa diganggu suara mesin mobil dan dering telpon. Sambil menunggu tendanya berdiri. (aku dan Yeti, cuma duduk-duduk bak juragan :D). Yang ngambil air ke sumber (lupa namanya) juga yang cowok-cowok. Jadi kami berdua (aku dan Yeti) benar-benar tidak berguna sama sekali hehehe. Malamnya, lagi-lagi saya kedinginan gara-gara celana jins itu.
Besoknya perjalanan berlanjut ke Arcopodo (2900m) Sekitar 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang di tepi jalannya terdapat jurang yg sangat curam. Arcopodo ini adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Kami berangkat dini hari sekitar jam 2 karena estimasi waktu pendakian ke puncak Semeru sekitar 3-4 jam dengan medan yang cukup berat. Sungguh, seandainya saya tahu sebelumnya medannya akan seberat itu, saya yakin tidak akan ikut dalam pendakian. Saya sempat putus asa dan ingat mati (sungguh!!!) karena puncak yang kelihatannya dekat itu tak kunjung tercapai. Tanah (baca: pasir) yang saya injak selalu longsor. Kemiringan 45 derajat (mungkin lebih) membuat kami tidak bisa disebut berjalan tapi merangkak. Di sini kelihatan sekali watak asli teman-teman saya. Ada seorang teman yang mulai berhalusinasi berteriak-teriak minta kiriman helikopter. Ada bakat schizophrenia kayaknya hehehe (piiiissss Anen). Tapi akhirnya, meski tidak sempat menyaksikan asap dari Kawah Jonggringseloko, kami puas berhasil menjejakkan kaki di Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa....

Ini poto perjalanan pulang dengan latar belakang gunung Semeru

NB: Maaf fotonya agak burem. ini poto yg dipoto lagi pake kamera hp :P (mekso.com)
Labels: Madly, Truly
Shame on...me
Entah ini kebiasaan buruk atau hanya bentuk kehati-hatian yang berlebihan. Setiap saya berenang (di kolam renang umum) saya selalu tidak pernah membawa perlengkapan apapun yg tidak ada hubungannya dengan kegiatan berenang. Takut ilang. Dompet dan segala isinya saya tinggalkan di rumah, lebih-lebih henpon. Uang saya masukkan di saku celana saja, itupun secukupnya. Untuk keperluan beli tiket dan makan.
Hari itu, dengan diantar suami pergilah kami berenang. Seingat saya, saya sudah bawa uang cukup, makanya ketika anak saya ( 2 orang) mengajak makan di Sari Bundo sepulang berenang, saya oke-in aja. Tempatnya tepat di depan kolam renang. Karena kelaparan abis berenang mereka makan lahap banget. Agak ngeper juga saya, melihat mereka makan begitu rakusnya, comot ini, comot itu. Lalu iseng-iseng saya raba kantong saya. Hah!!! Cuma 70 puluh sekian ribu. Cukup ngga ya buat bayar makanan ini?
Otak saya langsung berputar (biasanya gak pernah dipake hehehe) gimana nyari jalan keluar, kalau nanti ketika bill (halah bill, bon maksute) diserahkan ternyata uang saya kurang. Ada beberapa alternatif solusi yang sudah terbayang di benak saya:
- Nelpon temen (pake telp koin tentunya) yg rumahnya paling dekat dengan lokasi untuk minta bantuan.
- Ninggal anak-anak di tempat dan saya pulang ngambil duit. (jarak rumah dan lokasi tidak terlalu jauh, tapi kalo naik becak kayaknya kasian juga anak-anak kelamaan jadi jaminan hahaha)
- Nyuruh si sulung pulang naik becak buat ngambil duit (tapi kok kayaknya kelamaan)
- Nelpon suami di kantor, minta solusi (halah kok repot tenan, dia dimana aku dimana)
Untuk sementara saya agak tenang sambil liat kiri kanan kira2 makan saya abis berapa ya... Di meja sebelah saya ada pasangan suami istri dengan seorang anak kecil. Kalo dilihat sisa menunya, dia menghabiskan makanan lebih sedikit dari yang kami konsumsi. Ketika waiter datang menghampiri mereka untuk mengantarkan bon, saya pasang kuping baik-baik. Wah kok habisnya melebihi jumlah uang yg ada dikantongku, padahal mereka kan makannya lebih sedikit. Modar aku!! Akhirnya supaya ngga perlu menjalankan 3 alternatif solusi di atas eh 4 ding, saya berhenti makan. Pura-pura kenyang. Biar anak-anak aja yang makan. Aku makan nasi ama kuah aja (kayak yg di iklan itu hahaha). Soalnya malu udah kebayang di depan mata nih.
Akhirnya tibalah saat yang menegangkan itu. Saya panggil mas-mas nya, minta bill (halah bill maneh, bon gitu looohh).
Saya: Berapa mas?Waiter: Seratus sekian ribu, Bu. (modiaaarrrr tenan…) Tapi karena hari ini ada diskon 25%, jadi totalnya tinggal sekian, Bu.Setelah saya lihat jumlahnya, saya lega, kayaknya masih cukup nih uang dikantong. lalu saya keluarkan semua uang (yg kucel bin lecek) di saku celana. Semuanya, termasuk recehan. Jumlahnya pas, sisanya cuma 3 ratus perak. Ongkos becak buat pulang? Bayar di rumah aja. Oh ya, masih ada lagi cerita memalukan dari kolam renang selain yang
ini. Tunggu besok.
Moral of this story: money can't buy everything (halah..)
Labels: Madly, Truly
My first income
Sebenarnya saya ngga yakin saya bisa meraih ratusan dollar dari adsense, tapi saya pikir mencoba tidak ada salahnya, sambil terus belajar dari sana sini termasuk sama ahlinya.
Soal belajar ini saya sampe ngga bisa tidur gara2 adsense hahaha. Nggilani tenan. Yang kebayang kode banner dan earning report saya hehehe... Sumpah nggilani.
Postingan ini sudah mengalami perubahan. Skrinsyut earning report saya hapus krn ternyata melanggar TOS, yg ngga saya baca hehehe.
Suwun yo Mas
Labels: Truly
Adsense

Akhirnya adsenseku di approved. Legaaaa. Bukan uangnya yang kebayang tapi asiknya punya mainan baru. Saya ngga tahu banyak soal adsense ini, tos-nya langsung saya terima, soalnya semuanya dalam bahasa Inggris. Yang penting saya tempel2 dulu lah. Maaf kalo tampilannya bikin mata anda jadi sepet hehehehe. Maap juga kalo beberapa hari ini saya jarang berkunjung balik ke tempat anda (emang siapa gua hehehe). Soalnya lagi sibuk ngutek-ngutek html e adsen yang kayaknya masih butuh waktu lama, soalnya saya termasuk slow-learner. Masih mau tanya2 gimana caranya tampilan blog bisa 3 kolom.
Labels: Truly
Il fil
Pergi bersama keluarga meski cuma makan-makan di warung lesehan kaki lima buat saya sudah cukup menyenangkan. Apalagi kalau kesempatan untuk itu sangat jarang sekali didapat. Kebersamaan yang sangat ditunggu dan tentu dengan harapan semua peserta menikmati kebersamaan dan bergembira.
Mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi, maka ketika ada sedikit saja yang salah di acara keluar bersama itu, saya langsung kecewa dan buntut2nya apalagi kalo bukan marah. Lebih marah lagi karena yang bikin suasana rusak adalah orang yang sudah ndak lucu lagi alias bojo dewe. Yang bikin tambah mangkel, kejadian ini gak cuma sekali dua tapi berkali-kali. Huuhhh!!! Akhirnya bayangan saya ttg suasana gembira penuh tawa hilang berganti dengan acara tukaran (berantem) sepanjang perjalanan. Sampeyan mau tahu rasanya? Seperti menemukan sehelai rambut di menu makan siang. Marah plus pingin muntah!!! Rrrrrggghhhh...
Wes sakmene wae nulise, daripada nulis panjang isine pisuhan tok!!!
gambar diambil dari sini
Labels: Madly, Truly
Absurd?
Kalau mau jujur sebenarnya saya tidak memerlukan barang secanggih ini untuk berkomunikasi, karena fungsi HP buat saya hanya untuk menerima telpon dan sms, hp second 400 ribuan saja sudah cukup menjawab kebutuhan saya. Tapi mungkin, Paink, sahabat saya sejak SMP, agak kasihan melihat saya kemana-mana masih menggenggam hp monoponik kelas pembokat. Coba bayangkan pembokat saja sekarang ini sudah punya hp berkamera sementara saya tetap pede dengan hp tanpa kamera apalagi ber-symbian.
Kemudian, dalam sebuah kesempatan, Paink ingin membagikan sedikit dari bonus ribuan dollarnya untuk saya dalam bentuk N73. Dalam hati saya sempat ragu,(maaf Pank) meski saya tahu Paink bukan orang yang suka bohong. Tapi, barang yg dia janjikan kan bukan barang murah, paling tidak untuk ukuran saya.
Keraguan saya terjawab sudah. Dia tidak bohong.
.jpg)
Senang? Tentu, karena sekarang saya punya benda yang tidak akan mampu saya beli dengan uang sendiri. Tapi saya juga sedih karena hingga seusia ini saya masih belum bisa memijakkan kaki ditempat seharusnya saya berada. Absurd, paradox atau apa lah istilah yg tepat buat saya. Menggenggam N73 sementara saya masih naik angkot kemana-mana, masih pusing dengan tingginya harga beras dan minyak goreng yang membuat saya harus pintar-pintar mengatur keuangan keluarga.
Saya merasa belum tidak pantas memiliki benda ini, tapi saya tak mampu menolaknya. Jadi untuk sementara saya anggap ini sebagai nasib baik saya. Eniwei, many thanks to Paink. Mudah2an tahun depan bonusnya lebih gede, jadi bisa beliin aku yg music edition ato N yang lebih canggih lagi (halah!!!!)
Labels: Deeply, Truly
Menunggu
Dia bilang : barangnya dikirim senin ini. Horeeeeeeee!!!!!!
Labels: Truly
Pailit :P
Kemarin dapet SMS 'cinta' ini...he..he..


Gara-gara kakean melu arisan, tabunganku kosong :P. Ada yang mau nyumbang? Segera kontak saya by email.
NB: Mas ..mas mbok aku diutangi he..he..
Labels: Truly
Diganggu kampret
Sudah seminggu ini saya di telpon orang ngga jelas, miskol, sms gak mutu. Huh!!! Menjengkelkaaaaaannn. Ndak mutuuu. Kampreeeet (maaf terpaksa harus keluar kata ini, mangkel jeeee). Mungkin ada yang tau gimana cara ngatasi orang usil seperti ini. Hp saya tidak dilengkapi fitur screened list, jadi semua sms masuk ke inbox.
Tolong�
NB: tadinya saya mau mencantumkan no telp pengganggu itu di sini, tapi saya takut terornya tambah dahsyat. Jadi gimana?
Labels: Truly
Bosan

Labels: Truly
Bengkok deh.....
.jpg)
Inilah akibat tindakan kekerasan kemarin. Sampai siang ini si mas belom dateng juga. Rupanya dia sudah cukup puas menyimpan name tag saya yang sakti itu hehehehe...
Labels: Truly
Yaaaaahhh..nabrak deh...
Pagi ini saya berangkat ke kantor jam 4.25 wib. Shift pagi. Ngga ada firasat apa2. Tapi tau-tahu di perjalanan, entah siapa yang salah, mobil saya srempetan sama sedan biru. Nyenggolnya cuma dikit sih, cuma bunyi duk gitu. Saya cuek aja, toh mobil saya sudah banyak goresannya, lagian saya juga mesti buru2. Harus on time. Jam lima harus sudah nyalain radio. Babu gitu loh.
Saya jalan aja terus, ngga nambah kecepatan, karena saya pikir senggolannya cuma dikiiiit banget. Eh ternyata mas itu mencoba mengejar dan menghalangi mobil saya. Wah kayak di film2 aja. Ya sudah akhirnya saya menepi meskipun sebenarnya saya bisa aja ngebut terus.
Dia turun dari mobilnya. Jendela saya buka. Lebar. Tanpa curiga.
Saya: kenapa mas
Dia: mana KTP nya!!
Saya: ngga!!
Karena saya ngga mau ngasih KTP, tiba-tiba dia langsung meraih kontak mobil saya. Untung saya juga sigap. Saya lebih dulu menyelamatkan. Jadi posisi tangan saya memegang kontak yg masih nempel ditempatnya sementara tangannya masih berusaha merebut dari tangan saya.
saya: mas saya lagi buru2. Jam lima saya harus siaran. saya ngga boleh telat. kalo mas mau mas bisa ikut saya ke kantor. Kita bicara disana.
dia: saya juga mau kekantor (dia ndak nyebutin kantornya dimana? Penyiar juga kali. Makanya sama2 buru-buru)
dia: mana KTP nya
saya: Memangnya anda siapa? Gini aja, ikut saya ke kantor. Kita ngobrol di sana. tolong lepasin tangannya.
dia: ngga bisa! KTP! (masih ngotot dan pake nada tinggi)
saya: Oke. ini name tag saya. Alamat kantor ada disitu. Saya harus ke kantor.
dia: saya bisa bikin ibu ngga nyampe kantor (wah ngancem nih)
saya: kenapa? Sampeyan mau bunuh saya?!!!! (nada saya tinggi)
Dia diem sambil tangannya terus berusaha meronta merebut kunci kontak. Akhirnya karena saya juga ngotot ngga mau ngasih KTP, dia pergi juga sambil membawa name tag saya. Cuma itu percakapan yg saya ingat. Saya bukan pemberani kalo lagi salah. Tapi bila pada kondisi sebaliknya saya bisa segarang macan!!! (macan betina boooo). Saya ngga merasa salah, kalaupun saya salah, dia juga ikut menyumbang kesalahan. Wes mbuh!!!
Kalo anda tanya kenapa saya berikan name tag (yang sudah beberapa kali menyelamatkan saya dari tilang he..he..). Jawabannya: kalau saya ngasih KTP, ngurusnya lebih susah. Penyerahan name tag itu bukan sebagai bentuk pengakuan rasa bersalah saya, tapi hanya untuk meyakinkan mas itu bahwa saya tidak berniat kabur dan saya mau menyelesaikan masalah ini plus saya mau cepet2 sampe kantor.
Mudah2an aja urusannya ngga jadi panjang. Males! Apalagi disuruh ganti rugi.
Maaf tulisane kacau. Lagi esmosi nih!!!
Labels: Madly, Truly
Drive save

gambar diambil dari dari sini
Kiri...kiri...poll kiri.. balasss...balaaaaaassss...balas Mbaaaakk. Braaaak. Waduh nabrak deh. Makanya toh Mbaaaakk, kalo mau parkir, kaca jendelanya diturunin, radionya dimatiin. Jadi ngga denger aba-aba saya kan. punya SIM ngga sih, Mbak?
J 1, liat tukang parkir itu saya jadi pingin ngaplok 2. Saya sudah punya SIM jauh sebelum saya bisa nyetir, Paaaakk!! Tapi gimana lagi, udah terjadi jee. Tambah lagi goresan di mobil tua saya dan di mobil yang saya senggol he..he.. Lumayan juga gara-gara sering nyenggol itu, saya jadi banyak kenalan. Kenalan ama tembok, pohon, becak, sepeda motor, bok 3 dan banyak bon yang harus dibayar he..he..
Tapi apa bener sih perempuan katanya nyetirnya ngga becus. Perasaan setelah sekian belas tahun, nyetir saya udah bagusan sekarang. Parkir juga udah pinter. Kata artikel ini kita para perempuan tidak perlu merasa kecil hati atau malu kalau sering kena tilang karena melanggar rambu lalulintas atau kesalahan2 lain. Hormon testosteron kita sedikit!! Padahal -masih kata artikel itu- untuk bisa menyetir dengan cantik dibutuhkan testosteron dalam jumlah yg cukup besar. Wah berarti cuma lelaki dong yang bisa nyetir oke? Perempuan tidak? Ndak juga ah..
1: Misuh yang artinya jorok itu lhoooo he..he..
2: Namparrrrr
3: waduh apa ya artinya? Aku bingung jeee..mmm anu paling jembatan..ya..ya.. jembatan
Labels: Truly
Coto de Kikil
Berbekal pengetahuan bisnis yang –menurut saya- sudah ndak kalah ama Hermawan Kartajaya, 2 tahun lalu saya mencoba-coba membuka lapangan kerja. Buka warung. Yang dijual? Soto kikil bikinan mama tercintah. Ide ini bukan murni ide saya, tapi ide teman2 yang mengaku kalo soto kikil bikinan mama saya katanya weenak banget.
Modal saya waktu itu cuma uang sekitar 5 jutaan dan sedikit pengetahuan tentang 4P (Place, Product, Price, Promotion, mbuh urutane bener opo ndak). Dengan gagah saya langsung ke P yang pertama. Nyari tempat. Dapet. Warungnya kecil, ukuran 3 kali 3. Setelah renovasi sana-sini dengan berbagai pertimbangan bisnis macem-macem, bahkan soal warna pun dibahas secara detil, bagaimana supaya eye catching, berkesan bersih dll., dsb.
Lalu ke P yang ke dua. Product. Hubungin mama, njelasin sistim kerjanya. Soal tanggung jawabnya dan segala macem. Dasar doyan masak, doi seneng-seneng aja, asal ada yang bantu katanya. Beres, Ma!
P yang ketiga. Masih melibatkan mama, karena dia yang tahu cost untuk membuat sepanci soto kikil. Akhirnya sepakat harga permangkok dijual Rp. 5000, soalnya melayani pegawai negri yang lokasi kantornya di sekitar warung.
Nah sekarang P yang ke 4. Pesan neon sign dan spanduk. Wah pokoknya waktu semangat kita 45 banget dah. Terbayang sukses di depan mata. Soalnya kita buka warung pake ilmunya Hermawan Kartajaya (maaf cuma nama ini yg saya kenal he..he..). Terus terang waktu itu kita agak memandang sebelah mata pada warung-warung yang lebih dulu ada: Soto Cak Miskun, Kikil Wak Jo, Warung Yu Mi, Nasi Goreng Cak To dll. Saya merasa bisnis warung saya lebih well prepared. Sampe di tahap ini saya dan suami sibuk banget dah pokoknya, pulang kerja, di sela2 kerja selalu ngomongin soal warung. Anak-anak sampe bingung. Si sulung juga sempet nanya,
Sulung: Ma, Papa mau brenti kerja tah?
Aku : Iya, kenapa? (tak buju’i de’e)
Sulung: Trus mau jualan kikil tah?
Aku : Iya.
Sulung: Halah Maaa. Trus aku gimana?
Aku : Apanya yang gimana?
Sulung: Aku kan malu. (dia sangat bangga pada profesi papanya yang wartawan meski cuma koran lokal. Apalagi kalo poto papanya muncul di koran, dia seneng banget)
Aku : Kenapa?
Sulung: Nanti kalo ngisi formulir aku nulisnya gimana? Mosok penjual kikil, kan malu Ma.. (dasar anak-anak, dari pada jadi wartawan bodrek alias wartawan amplop kan masih terhormat jadi penjual kikil toh, Leee)
Akhirnya tibalah saat soft opening warung. Sebar-sebar leaflet alias selebaran potokpian lengkap dengan potongan kupon beli 2 gratis satu, saya lakukan, dengan mengerahkan tenaga suami dan saya sendiri, serta satu orang gajian (wwuiiih nggethu yoooo..hahahaha. Jadi pingin ketawa kalo inget waktu itu). Teman-teman yang sebelumnya sudah saya undang lewat SMS mulai datang. Lumayan lah, warung jadi semarak. Kayaknya rame gitu, padahal mereka cuman undangan yang makannya gratis ha..ha.. tapi ndak pa-pa lah, kan memang memang harus ada ongkos promosi, ato apa lah namanya.
Hari kedua, ketiga masih bertahan, meskipun dagangan ngga selalu habis. Hari ke 4 mama mulai mengurangi produksi. Dari yang sepanci gede jadi sepanci kecil. Yang jaga warung mulai ngeluh2, katanya ngantuk jaga warung, soalnya yang beli jarang2. Aku yo heran, wong kikil wenak ngene kok ra eneng sing tuku toh? Ada sih yg beli tapi mereka bukan repetitive buyer. Mungkin mereka baru balik lagi seminggu atau 2 minggu atau bisa saja sebulan kemudian.
Lha terus selama menunggu mereka kembali, siapa yang akan beli. Mosok aku terus2an berdiri di lampu merah mbagi-bagi selebaran. Emang ndak ada kerjaan laen. Plis deeeeh. Akhirnya saya baru sadar, orang-orang seperti Cak Miskun Yu Mi dan Cak To dan Wak Jo dkk itu lebih tough dari saya. Mereka mencurahkan seluruh pikirannya hanya untuk warungnya, jadi mereka akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan warungnya. Sementara saya, buka warung cuma untuk gagah-gagahan eksperimen sambil memamerkan mempraktekkan ilmu marketing dan bisnis saya yang ndak seberapa itu. Akhirnya genap satu bulan setelah soft opening, tepatnya sehari setelah saya memenuhi pesanan untuk sebuah acara di sebuah kantor di sekitar warung saya, warung soto kikil saya tutup.
Saya lalu mencoba merenung mencari penyebab lain kegagalan saya, selain karena kuran total. Akhirnya saya temukan jawabannya. Saya berbisnis bukan murni ingin membuka peluang kerja, tapi ingin mengeruk untung sebanyak2nya. Karena dari beberapa teman, saya tahu berjualan makanan bisa mendapat laba 100% lebih. Tuhan memang sudah menakar rejeki untuk masing-masing umatNya. Dan saya merasa beruntung telah diingatkanNya untuk tidak serakah *sok-wise-mode-on*.
Dengan terpaksa saya mengembalikan pegawai saya yg cuma 1 orang ke profesi aslinya, pengangguran. Yaaahh memang saya ndak ditakdirkan jadi wiraswastawati kali. Nasiiiib jadi orang gajian teruuuussssss… Salut buat pedagang kaki lima yang kucing-kucingan sama kamtib. Maju terus pantang mundur!!
Labels: Deeply, Truly
Saya terjerat pasal 263
Kemarin pagi materi siaran saya tentang penularan virus flu burung melalui hewan adaptor kucing. Sampai setengah perjalanan acara berjalan seperti biasa. Pendengar yang bergabung pun sebagian besar sudah saya kenal. Tapi menjelang acara berakhir ada telpon dari seseorang yang belum saya kenal. Yang bikin saya kaget bukan karena dia mengaku di tempat tinggalnya ada 82 kucing liar, tapi justru tempat dimana dia tinggal. LP Medaeng!! Wah seumur-umur saya kerja, baru kali ini saya dapet telpon dari penghuni LP. Dalam hati saya berdoa, mudah2an ndak ada pemasang iklan yang sedang mendengarkan, kalo ndak bisa urung niat mereka pasang iklan di tempat saya. Lha yang telpon bukan target market jeeee..
Sebenarnya yang saya tanyakan apakah 82 kucing itu menetap disana atau datang pergi, tapi rupanya dia salah persepsi. Lalu dia jawab begini,"Saya penghuni tetap disini, Mbak. Ini pengalaman pertama saya. Saya terjerat pasal 263. Pasal 263 iku opo toh. Lalu saya tanya paman Google, ooo ternyata perkara pemalsuan surat, kalo ndak salah lho ini. Tapi saya bersyukur pendengar saya bukan pembunuh ato pemerkosa, walaupun sebenarnya sedih juga sih. Punya fans kok ya napi :-(
NB: Napi kok boleh punya HP ya? *oon.com*
Labels: Truly
I was a swinger :)
Beberapa hari yang lalu, seorang teman chat (baca: mantan gebetan virtual) yang saya temui di 'join room' tiba2 kirim mesej di YM saya. Isinya mengabarkan (dengan bangganya) bahwa dia sudah dapat gebetan baru. Yang bikin saya kaget, ternyata saya tahu gebetan barunya itu. Akhirnya setelah diberitahu ID sang pacar, saya kenalan, ngobrol. Sedikit ttg pria itu, lalu dilanjutkan dengan rumpian ttg diri masing2.
Mungkin hari ini lagi hari apes saya, baru saja ol langsung disapa begini:
(pake meebo niih, YM nya di blok ama kantor, makanya tampilannya jadi begini)
[10:16] Dia: kenapa aku jadi bertengkar terus ama R***, sejak aku bilang kalau pernah kenal sama kamu??
[10:16] Dia: :S
('kamu'? Padahal, dulu dia panggilnya 'Babe' wakakakak. Dalam hati saya berkata: lha mbuh lho mas, kok nanya saya? Aku bingung, udah lama ndak pernah chat, tau-tau dpt pertanyaan spt itu. Karena masih menghormati temen blog ku itu, yaaa.. aku jawab lah dengan 'sabar')
[10:18] Aku: lho kok aku dibawa2?
[10:18] Aku: apa salahku?
[10:19] Dia: salahmu?
[10:19] Dia: tanyalah sama rumput yg berogyang
( kok jadi aku yang salah ya? Dan jawabannya itu lho, bikin ndak napsu)
[10:20] Aku: :S
[10:21] Aku: Mulai bosen kali
[10:22] Dia: bosen apanya?
[10:22] Dia: yg jelas aku bertengkar terus ama dia
[10:23] Dia: krn dr semua pertanyaanmu atau apa yg ada di kamu, dia pasti curiga kalau kita perna / ada apa2
[10:23] Dia: :S
[10:24] Aku: Lho? Aku jarang chat ama R***. Cuma pas hari perkenalan itu dan sehari setelahnya. Itupun ngobrolnya soal blog. Not about u. Tenang aja, lagi PMS kali dia..
(di bagian ini, sebenernya saya udah pingin misuh2. Tapi sekali lagi, karna dia pacar temen blog saya, maka saya pendam hasrat untuk misuh2 (hayyah))
[10:33] Dia: :S
Obrolan di atas semakin menguatkan kesimpulan saya (halah)tentang teman-teman yang saya temui di chat room. NDAK MUTU!!! (sama ndak mutunya dengan saya he..he..)
NB: Buat 'R', ampuuuuuunnnn, jangan hukum aku atas kejahilanku mempostingkan ini. Mudah2an tidak ada seorangpun yang cerdas dan menemukanmu he..he..
Labels: Truly
Are you a swinger?
Saya langsung pasang status 'busy' di YM saya begitu saya mendapat pertanyaan itu. Bukan sok sibuk tapi saya memang bener-bener sibuk buka ini he..he.. Maklum, wong ndeso kayak saya mesti rajin nanya ke mbak Miriam itu biar ndak keliatan ndesonya ato paling ndak berkuranglah.
Waduh, ya jelas I'm not, nuuuu. Kalo swing yang dansa-dansa itu boleh lah. Tapi kalo untuk definisi yg b, saya ndak berani. Bukan takut dosa, tapi takut ketahuan he..he..
Kembali ke pertanyaan teman chat tadi. Dulu sebelum punya blog, saya sering kali ketemu teman (baca: lawan) bicara seperti itu. Suka nanya yang aneh-aneh. Tapi itu saya maklumi karena memang ketemunya di join room (he..he.. ketahuan belangnya). Lama-lama bosen juga ditanya seperti itu dengan berbagai versi, mulai dari yang sopan sampe yang vulgar seperti yang diatas itu. Intinya, semua ngajak ngesex (maaf saya ndak suka pake gaya bahasa eufimisme).
Belum lagi kejengkelan yang lain: mau join dimana aja, selalu ketemu orang India (maaf), yang bukannya memperbaiki bahasa inggris saya, tapi malah merusaknya. Masih mending kalo sopan. Tapi dari sekian banyak lelaki yang saya temui di chatroom, buat saya mereka semua lelaki hidung belang dan mata keranjang.
Ngomong2 ttg istilah mata keranjang, saya jadi inget waktu hadir di acara peluncuran buku Remy Sylado, Sam Po Kong, dia bercerita istilah mata keranjang sebenarnya bukan berarti mata dan keranjang atau matanya sekeranjang tapi mata menuju ranjang. Tetapi karena penulisan awalan ke di sambung pada kata ranjang, maka artinya menjadi lain, karena dalam bahasa Indonesia keranjang berarti tempat atau wadah barang dari anyaman, ato liat sendiri lah di KBBI, saya ndak mau sok ilmiah.
Kembali ke masalah join room. Mungkin saya termasuk yang apes, karena mau join di room mana aja, mau yang room dalam negri ato yang English-speaking room (dengan bekal bahasa Inggris yang pas-pasan) selalu saja saya ketemu dengan 2 tipe pria yang di atas. Lama-lama jadi eneg, makanya kemudian lahirlah blog ndak mutu ini... because I'm not (yet) a swinger he..he..
Oh ya..hampir lupa, sampeyan termasuk lelaki yang mana? Mata ke ranjang atau hidung belang?
Labels: Truly
No Pain No Bra
Ulangan anak-anak selesai. Seperti biasa, anak-anak menuntut perhatian lebih. Ngga peduli mamanya sudah teler karena kerjaan di kantor nambah (tapi tidak berbanding lurus dengan gaji), kemarin pulang kantor mereka nodong ngajak renang. Karena masih terlalu siang, saya minta ijin untuk tidur dulu sejenak, karena sejak di perjalanan saya sudah ngantuk banget. Tidak lupa saya pesan anak-anak untuk membereskan perlengkapan berenang. Sementara saya pesan si mbak untuk menyiapkan punya saya (bukan contoh yang baik hihihi).
Bagun tidur, seperti biasa kalau mau berenang, baju renang saya pakai sejak dari rumah, jadi di kolam tingal copot baju saja. Tanpa memeriksa isi tas, saya langsung cabut sama anak-anak.
Di kolam, seperti biasa, TP-TP (walah gak nyebuuuttt). Maksudnya pamer sama orang-orang yang ada di kolam (terutama brondong-brondong dan bapak-bapak yg bisanya cuma berendam doang), liat gue nih, biar udah emak-emak, masih kuat berenang 3-4 putaran tanpa jeda. *sombong.mode*
Setelah cape, kami mentas. Lebih dulu saya mandikan si kecil. Acara mandi bilas ini tidak terlalu makan waktu karena hari itu kolamnya sepi pengunjung. Maklum weekdays. Setelah saya selesai mandi dan mengeringkan badan, giliran selanjutnya pake kutang dan CD kan? Tapi kemana 2 benda sakti itu? Ubek-ubek seluruh isi tas, tak berhasil juga kutemukan. Telpon rumah? Buat apa? Lagian kalo berenang saya tidak pernah bawa HP ato barang-barang berharga lainnya. Apalagi setelah Jeng Kenny pernah kecopetan di kolam renang.
Setelah ngga ada lagi tempat untuk mencari, akhirnya aku simpulkan si Mbak lupa memasukkan 2 benda itu dan aku pasrah. Maksudnya? Yo muleh ra nganggo kutang dan CD hehehe. Waduh, isiiisss meen..wakakak (tragicomedy). Untungnya benda sakti saya yg tertinggal itu tipenya (?)34 A, jadi ngga terlalu ngefek lah meski ndak pake. Malah keliatan seksi kayaknya, ngga perlu pake nipple tiruan. Wakakakak (kenthir). Makanya, Bu…siapin sendiri perlengkapannya. Kaya putri aja, segalanya minta diladenin) No pain..No Bra xixixixi.
Maap postingannya agak panjang.
Labels: Madly, Truly