Showing posts with label Deeply. Show all posts
Showing posts with label Deeply. Show all posts

17 May 2007

Absurd?

Kalau mau jujur sebenarnya saya tidak memerlukan barang secanggih ini untuk berkomunikasi, karena fungsi HP buat saya hanya untuk menerima telpon dan sms, hp second 400 ribuan saja sudah cukup menjawab kebutuhan saya. Tapi mungkin, Paink, sahabat saya sejak SMP, agak kasihan melihat saya kemana-mana masih menggenggam hp monoponik kelas pembokat. Coba bayangkan pembokat saja sekarang ini sudah punya hp berkamera sementara saya tetap pede dengan hp tanpa kamera apalagi ber-symbian.

Kemudian, dalam sebuah kesempatan, Paink ingin membagikan sedikit dari bonus ribuan dollarnya untuk saya dalam bentuk N73. Dalam hati saya sempat ragu,(maaf Pank) meski saya tahu Paink bukan orang yang suka bohong. Tapi, barang yg dia janjikan kan bukan barang murah, paling tidak untuk ukuran saya.

Keraguan saya terjawab sudah. Dia tidak bohong.



Senang? Tentu, karena sekarang saya punya benda yang tidak akan mampu saya beli dengan uang sendiri. Tapi saya juga sedih karena hingga seusia ini saya masih belum bisa memijakkan kaki ditempat seharusnya saya berada. Absurd, paradox atau apa lah istilah yg tepat buat saya. Menggenggam N73 sementara saya masih naik angkot kemana-mana, masih pusing dengan tingginya harga beras dan minyak goreng yang membuat saya harus pintar-pintar mengatur keuangan keluarga.

Saya merasa belum tidak pantas memiliki benda ini, tapi saya tak mampu menolaknya. Jadi untuk sementara saya anggap ini sebagai nasib baik saya. Eniwei, many thanks to Paink. Mudah2an tahun depan bonusnya lebih gede, jadi bisa beliin aku yg music edition ato N yang lebih canggih lagi (halah!!!!)

04 May 2007

Penat

Saya tidak biasa menye-menye. Saya bukan orang romantis yang selalu membungkus maksud dengan kata-kata bersayap. Saya juga bukan orang yang pandai mengungkapkan isi hati dengan bahasa berbunga-bunga. Saya bukan orang yang dengan mudah begitu saja percaya pada sebuah konsep kebenaran yang disodorkan seseorang untuk saya yakini bahwa itu benar sebelum saya bisa membuktikannya, atau orang itu mampu meyakinkan saya. Tapi saya juga bukan orang tanpa rasa.

Dulu ketika pertama kali saya belajar membuat blog, tujuan saya cuma ingin menambah teman. Blog ini bukan untuk memuat curahan hati saya, karena saya tidak butuh blog untuk mencurahkan isi hati. Tapi ternyata saya harus menjilat ludah sendiri.

Menyenangkan punya banyak teman meski hanya teman maya, tapi sekaligus juga melelahkan karena ternyata saya tidak punya cukup banyak energi untuk melayani mereka sebagaimana seharusnya seorang teman. Dusta kalau saya katakan saya kesepian bila tidak menyentuh alat ajaib bernama internet ini karena saya punya kekasih-kekasih yang mencintai saya sepenuh hati. Bohong kalau saya berkata menjadi terasing bila tidak menelusuri kabel-kabel yang menghubungkanku dengan dunia virtual ini karena saya punya banyak teman d dunia nyata dengan berbagai model.

Yang benar adalah saya merasa tidak modern, gaptek dan tidak up to date jika saya berhenti menyentuhkan jari pada kibord komputer. Dan itu semua hanya untuk kesenangan saya pribadi semata. Tidak ada nilai lebih untuk anak-anak dan suami saya.

Mungkin sudah waktunya saya memanjangkan waktu sujud. Melamakan dzikir. Melapangkan dada. Meruahkan syukur. Menjalani hidup dengan lebih religius. Mengunci mulut dari perkataan yang tidak perlu. Melembutkan ucap dan berbagai kemestian lain sebagai ibu dan istri yang selama ini terabaikan. Sengaja saya tuliskan ini disini sebagai ikrar sekaligus harapan dan pengingat bagi saya bahwa tanggungjawab itu kian hari kian menggunung.

14 February 2007

Coto de Kikil

Berbekal pengetahuan bisnis yang –menurut saya- sudah ndak kalah ama Hermawan Kartajaya, 2 tahun lalu saya mencoba-coba membuka lapangan kerja. Buka warung. Yang dijual? Soto kikil bikinan mama tercintah. Ide ini bukan murni ide saya, tapi ide teman2 yang mengaku kalo soto kikil bikinan mama saya katanya weenak banget.

Modal saya waktu itu cuma uang sekitar 5 jutaan dan sedikit pengetahuan tentang 4P (Place, Product, Price, Promotion, mbuh urutane bener opo ndak). Dengan gagah saya langsung ke P yang pertama. Nyari tempat. Dapet. Warungnya kecil, ukuran 3 kali 3. Setelah renovasi sana-sini dengan berbagai pertimbangan bisnis macem-macem, bahkan soal warna pun dibahas secara detil, bagaimana supaya eye catching, berkesan bersih dll., dsb.

Lalu ke P yang ke dua. Product. Hubungin mama, njelasin sistim kerjanya. Soal tanggung jawabnya dan segala macem. Dasar doyan masak, doi seneng-seneng aja, asal ada yang bantu katanya. Beres, Ma!

P yang ketiga. Masih melibatkan mama, karena dia yang tahu cost untuk membuat sepanci soto kikil. Akhirnya sepakat harga permangkok dijual Rp. 5000, soalnya melayani pegawai negri yang lokasi kantornya di sekitar warung.

Nah sekarang P yang ke 4. Pesan neon sign dan spanduk. Wah pokoknya waktu semangat kita 45 banget dah. Terbayang sukses di depan mata. Soalnya kita buka warung pake ilmunya Hermawan Kartajaya (maaf cuma nama ini yg saya kenal he..he..). Terus terang waktu itu kita agak memandang sebelah mata pada warung-warung yang lebih dulu ada: Soto Cak Miskun, Kikil Wak Jo, Warung Yu Mi, Nasi Goreng Cak To dll. Saya merasa bisnis warung saya lebih well prepared. Sampe di tahap ini saya dan suami sibuk banget dah pokoknya, pulang kerja, di sela2 kerja selalu ngomongin soal warung. Anak-anak sampe bingung. Si sulung juga sempet nanya,

Sulung: Ma, Papa mau brenti kerja tah?
Aku : Iya, kenapa? (tak buju’i de’e)
Sulung: Trus mau jualan kikil tah?
Aku : Iya.
Sulung: Halah Maaa. Trus aku gimana?
Aku : Apanya yang gimana?
Sulung: Aku kan malu. (dia sangat bangga pada profesi papanya yang wartawan meski cuma koran lokal. Apalagi kalo poto papanya muncul di koran, dia seneng banget)
Aku : Kenapa?
Sulung: Nanti kalo ngisi formulir aku nulisnya gimana? Mosok penjual kikil, kan malu Ma.. (dasar anak-anak, dari pada jadi wartawan bodrek alias wartawan amplop kan masih terhormat jadi penjual kikil toh, Leee)

Akhirnya tibalah saat soft opening warung. Sebar-sebar leaflet alias selebaran potokpian lengkap dengan potongan kupon beli 2 gratis satu, saya lakukan, dengan mengerahkan tenaga suami dan saya sendiri, serta satu orang gajian (wwuiiih nggethu yoooo..hahahaha. Jadi pingin ketawa kalo inget waktu itu). Teman-teman yang sebelumnya sudah saya undang lewat SMS mulai datang. Lumayan lah, warung jadi semarak. Kayaknya rame gitu, padahal mereka cuman undangan yang makannya gratis ha..ha.. tapi ndak pa-pa lah, kan memang memang harus ada ongkos promosi, ato apa lah namanya.

Hari kedua, ketiga masih bertahan, meskipun dagangan ngga selalu habis. Hari ke 4 mama mulai mengurangi produksi. Dari yang sepanci gede jadi sepanci kecil. Yang jaga warung mulai ngeluh2, katanya ngantuk jaga warung, soalnya yang beli jarang2. Aku yo heran, wong kikil wenak ngene kok ra eneng sing tuku toh? Ada sih yg beli tapi mereka bukan repetitive buyer. Mungkin mereka baru balik lagi seminggu atau 2 minggu atau bisa saja sebulan kemudian.

Lha terus selama menunggu mereka kembali, siapa yang akan beli. Mosok aku terus2an berdiri di lampu merah mbagi-bagi selebaran. Emang ndak ada kerjaan laen. Plis deeeeh. Akhirnya saya baru sadar, orang-orang seperti Cak Miskun Yu Mi dan Cak To dan Wak Jo dkk itu lebih tough dari saya. Mereka mencurahkan seluruh pikirannya hanya untuk warungnya, jadi mereka akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan warungnya. Sementara saya, buka warung cuma untuk gagah-gagahan eksperimen sambil memamerkan mempraktekkan ilmu marketing dan bisnis saya yang ndak seberapa itu. Akhirnya genap satu bulan setelah soft opening, tepatnya sehari setelah saya memenuhi pesanan untuk sebuah acara di sebuah kantor di sekitar warung saya, warung soto kikil saya tutup.

Saya lalu mencoba merenung mencari penyebab lain kegagalan saya, selain karena kuran total. Akhirnya saya temukan jawabannya. Saya berbisnis bukan murni ingin membuka peluang kerja, tapi ingin mengeruk untung sebanyak2nya. Karena dari beberapa teman, saya tahu berjualan makanan bisa mendapat laba 100% lebih. Tuhan memang sudah menakar rejeki untuk masing-masing umatNya. Dan saya merasa beruntung telah diingatkanNya untuk tidak serakah *sok-wise-mode-on*.

Dengan terpaksa saya mengembalikan pegawai saya yg cuma 1 orang ke profesi aslinya, pengangguran. Yaaahh memang saya ndak ditakdirkan jadi wiraswastawati kali. Nasiiiib jadi orang gajian teruuuussssss… Salut buat pedagang kaki lima yang kucing-kucingan sama kamtib. Maju terus pantang mundur!!

11 February 2007

The Late Anna...

Foto diambil dari sini



Tidak banyak yang saya tahu tentang Anna Nicole Smith (soale pancen dudu koncone). Yang saya tahu tentang dia hanya bahwa dia pernah jadi covernya Playboy, meski saya belum pernah liat majalahnya (maksutnya yg covernya Anna tok yang ndak saya liat he…he..).

Hari ini (Sabtu, 10 February, 2007) ndak cuma stasiun tv ini yang menyiarkan berita ttg Anna lewat The Hollywood Story, bahkan CNN pun lewat acara Larry King Live membahas kematian bintang sensaional itu. Wuaaahhh benar-benar sensasional, mungkin Anna tersenyum di alam sana, melihat masyarakat begitu heboh membicarakan kematiannya.

DR Cyril Wech seorang ahli forensik juga diundang di acara Larry King Live untuk memberikan pendapatnya (sayang aku ra ngerti sing diomongke, dadi cuma ndlahom.com).

Kaget juga ketika pertama kali membaca berita tentang kematiannya yang tragis. Tidak hanya akhir hidupnya yang tragis, perjalanan hidupnyapun sungguh membuat banyak orang -terutama yang mengklaim dirinya sebagai orang baik-baik- geleng kepala. Gimana ngga geleng2 kepala, Anna sudah menikah ketika umur 16 tahun, punya anak lalu 2 tahun kemudian bercerai. Kemudian diusia 26 dia menikah dengan seorang yang lebih pantas menjadi kakeknya. Setahun setelah pernikahannya itu, suami bangkotannya meninggal dunia dan Anna dihadapkan pada masalah rebutan harta waris dengan anak tirinya. Sampe sekarang belum kelar.

Ngga cuma itu, sampai saat kematiannya Anna belum memberikan kepastian pada publik tentang siapa bapak dari anak perempuan yg berusia 5 bulan Dannielynn Smith. Larry Birkhead dan Howard K Stern sama-sama ngotot mengaku ayah si bayi (sampeyan mau ikut ngotot? Monggo, lumayan kan numpang ngetop he..he..). Harusnya tgl 21 Februari nanti Anna harus memberikan kepastian siapa ayah bayinya lewat tes DNA, meskipun di akta kelahirannya, katanya, tertulis nama Howard sebagai ayahnya. Tapi nasib berkata lain, maut keburu menjemput. Anna menyusul anak sulungnya yang tewas 10 September tahun lalu karena overdosis. Kematiannya masih dalam penyelidikan sampai saat ini.

So what should I say? Poor Anna or poor baby?

Ato gini aja: Anna, send my best regards to Marilyn Monroe..

13 December 2006

WALAAAH KALAH LAGIIII

Kageeet plus marah plus kecewa baca berita ini. Kecewa karena ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya kita sudah kalah mematenkan tempe, rendang, batik dan mungkin masih ada sederet kekayaan lain milik kita yang justru dipatenkan negara lain.

Lha piye toh, wong jelas-jelas kita yang menciptakan tempe, kok yo di aku-aku sama wong Jepang. Dia yang kurang ajar ato kita yang lalai. Saya kok condong ke yang terakhir. Ya kita kita yang lengah kalo ngga boleh dibilang bego. Udah kalah memperebutkan tempe harusnya kita waspada dong. Sebagai pemilik negara yang gemah ripah loh jinawi sudah seharusnya orang-orang Deperindag ato siapa lah yang bertanggung jawab, waspada jangan sampai hal yang sama terulang lagi.

Tapi nyatanya kejadian lagi kan. Coba bayangkan masa untuk jualan kunyit aja kita mesti minta ijin sama Jepang? Walaaaah mesakno tenan Yu Marti langganan jamu sing isuk-isuk mesti mampir nang omah. Bisa-bisa gak bisa jualan jamu lagi sampeyan Yu....