27 February 2007

Atas Nama Kehormatan

Foto diambil dari sini


Andai boleh memilih, mungkin Souad memilih untuk tidak dilahirkan atau memilih mati saja. Terlahir sebagai perempuan berarti lekat dengan ketidak berdayaan, kepatuhan dan sederet penderitaan lain. Tidak ada hak apapun bagi perempuan di tempat ini, bahkan dia tidak berhak atas tubuhnya sekalipun. Semuanya menjadi milih lelaki; ayah dan suaminya kelak.

Stempel charmuta (pelacur) akan diberikan hanya karena seorang perempuan bertatap mata dengan sengaja dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Selanjutnya, pukulan dengan tongkat atau cambuk dengan sabuk akan menjadi ganjarannya untuk kesalahan -yang bagi orang-orang modern- sepele itu. Semua dilakukan dengan alasan membela kehormatan.

Atas nama kehormatan perempuan harus menerima nasib mati di tangan para lelaki. Atas nama kehormatan seorang ibu bahkan tega membunuh bayi-bayinya sesaat setelah dia sadar bayi itu punya vagina diantara selangkangannya. Rasanya para pejuang kesetaraan gender harus bekerja lebih keras lagi untuk mengurangi jumlah negara yang memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua, yang menghargai perempuan tidak lebih dari seekor hewan.

Souad lahir di sebuah dusun di Tepi Barat dimana tatanan sosial disana mengharuskan perempuan tunduk dan patuh hingga taraf yang -menurut saya- paling menjijikkan. Amarah saya serasa bangkit menatap huruf demi huruf di buku ini. Betapa makhluk yang bernama lelaki itu bisa seenak perutnya memaksakan kehendak mereka atas perempuan. Rasanya ingin sekali membalaskan sakit hati Souad pada para lelaki itu, pada sistim yang menempatkan perempuan di posisi yang sangat lemah. Buat saya novel ini punya alur yang tidak bertele-tele sehingga saya nyaman membacanya. Dan selalu saja buku yang berisi testimoni menarik untuk dibaca tak terkecuali buku ini. Bagi orang yang sangat mendukung kesetaraan gender seperti saya pengakuan Souad benar-benar membuat hati saya teriris sekaligus kagum; saya tidak menemukan satupun kalimat keras yang menyiratkan dendam Souad pada kakak iparnya yang telah membakarnya hidup-hidup.

Souad memang tidak bisa memilih di mana dan dari ibu mana dia dilahirkan tapi dia beruntung masih bisa memilih kehidupan mana yang akan ditempuhnya. Souad, perempuan luar biasa yang mampu mengusir kesumat dari dalam hatinya dengan cinta seperti matahari memudarkan wangi melati dengan sinarnya.

Judul Buku: Burned Alive
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet
Harga: Rp. 35.000

26 February 2007

S.O.S

Lagi ndak enak bodi.... :-(

20 February 2007

Mari mulai nguli berbisnis

foto diambil dari sini

Bukannya tidak percaya atau meremehkan buku-buku motivasi macam Rich Dad Poor Dad dan semacamnya, tapi karena saya selalu gagal berbisnis, saya jadi ogah membaca buku-buku beginian. Mending baca novel. Alasannya kita tidak bisa meniru kesuksesan seseorang (baca: nasib baik), yang bisa kita tiru cuma usahanya saja. Soal hasil itu sepenuhnya urusan Yang Di Atas. Masalahnya, ketika kita membaca buku-buku itu, harapan kita, hasil yang kita dapat dari usaha kita –dengan mengikuti petunjuk buku- akan sama atau paling tidak mendekati hasil yang dicontohkan dalam buku. Kenyataannya? 2 kali saya mencoba memraktekkan tips sukses berbisnis selalu saja gagal (baru dua kali udah keok he..he..).

Tapi buku karangan Lisa Rogak ini sempat membuat tangan saya meraihnya. Iseng aja. Di halaman daftar isi saya lihat satu persatu, barang kali ada pekerjaan yang tidak saya kenal. Tapi ternyata hampir semua jenis pekerjaan yang terteta di situ saya kenal, atau paling tidak dari judulnya saya bisa meraba. Ada 100 pilihan pekerjaan yang bisa anda pilih. Tiap-tiap pekerjaan dilengkapi dengan deskripsi, alasan mengapa pekerjaan ini layak dicoba, investasi yang dibutuhkan, informasi lebih lanjut ttg bisnis tsb. Kuncinya pilih pekerjaan yang 100% menyenangkan.

Mata saya lalu terhenti pada tulisan 'Tukang Bangunan' (hal 118).Wah ini pasti tukang bangunan yang ngga biasa, begitu pikir saya.

Saya buka halaman 118 dan inilah yang saya temui:

Tukang bangunan
Deskripsi bisnis: sebuah jasa di mana para pekerja menyusun batu untuk membuat tembok dan lantai
Ketrampilan yg dibutuhkan: ketahanan dan kekuatan fisik dan kecermatan penempatan dan detail.
Tukang banguan tenan jebule. Benar-benar tanpa resiko, paling banter kulit item karena terbakar.

Lalu saya kembali lagi ke halaman index. Ketemu ini: Membersihkan jendela (hal 90). Saya buka halamannya, sambil menduga-duga, jangan-jangan kayak tukang bangunan tadi. dan inilah yang saya temukan.

Membersihkan Jendela

Deskripsi Bisnis: tugasnya membersihkan jendela bagian luar dan dalam. Untuk kantor dan pemukiman.
Ketrampilan yang dibutuhkan: ketelitian, berorientasi kesempurnaan dan memiliki kekuatan dan yg pasti tidak takut ketinggian. (Bisnis ini bisa cepat menghasilkan dan tanpa resiko terutama kalau anda sendiri yang menjadi tenaga pembersihnya ).

Saya ndak melanjutkan membaca buku ini, pemiliknya sudah ada di depan saya sambil berkacak pinggang karena saya meminjamnya tanpa ijin he..he..










16 February 2007

Selingkuh? Ayo, siapa takut.

India's National Commission for Women (NCW) has proposed that adultery by a married man should be considered as social offense and not criminal offense. Surprisingly women are excluded. Woman involved in illicit relationship with a married man should be considered as victim than a wrongdoer .

Begitu pesan offline yang ditinggalkan teman maya di YM saya kemarin (14 feb 2007). Di akhir kalimat dia juga menanyakan kondisi di Indonesia dan pendapat saya.

Saya jadi bertanya2 apa motif dibalik proposal itu (weleh). Sungguh saya ndak habis pikir, bagaimana mungkin perselingkuhan tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Kalau iya proposal itu disetujui dan dijadikan UU, enak dong para lelaki itu, ngga ada sanksi hukum kalau mereka berselingkuh.

Menurut teman saya itu, hari itu masalah tsb dibicarakan di hampir seluruh koran terbitan ibukota India. Beberapa informasi di sini sebenarnya menarik dan bisa menjawab pertanyaan mengapa harus ada proposal semacam itu, tapi karena keterbatasan waktu dan kemampuan berbahasa, saya cuma sempat membuka tanpa sempat membaca.

Saya jadi ingat novel Burned Alive, yang menceritakan bagaimana menderitanya terlahir sebagai wanita di sebuah desa di Tepi Barat. Mereka tidak lebih berharga dari hewan. Tidak ada istilah bermain dimasa kanak-kanak mereka. Hari-hari anak perempuan di sana hanya berisi bekerja dan disiksa setiap hari. Perempuan berselingkuh? Mati imbalannya. Salah satunya dengan cara dibakar hidup-hidup seperti yang diceritakan di novel itu. Jadi kondisi perempuan disana -menurut novel itu- memang -bisa dibilang- samasekali tanpa perlindungan.

Kembali ke proposal tadi, saya jadi tertarik mengetahui seberapa beratkah hukuman bagi pria berselingkuh sampai-sampai NCW mengusulkan pelakunya dianggap sebagai pelanggar etika saja bukan pelanggar hukum (denger-denger sih katanya 5 th penjara), dan sudah sedemikian parahkah hukuman bagi wanita pezinah, sehingga mereka perlu melindungi mereka dgn menganggap para wanita peselingkuh itu hanya korban, bukan pelaku kesalahan? (wah enak banget dong, ayooo rame-rame selingkuh..).

Mungkin temen-temen yang sekarang sedang belajar di India bisa memberikan pencerahan (kalo bisa dalam bahasa Indonesia saja).

14 February 2007

Coto de Kikil

Berbekal pengetahuan bisnis yang –menurut saya- sudah ndak kalah ama Hermawan Kartajaya, 2 tahun lalu saya mencoba-coba membuka lapangan kerja. Buka warung. Yang dijual? Soto kikil bikinan mama tercintah. Ide ini bukan murni ide saya, tapi ide teman2 yang mengaku kalo soto kikil bikinan mama saya katanya weenak banget.

Modal saya waktu itu cuma uang sekitar 5 jutaan dan sedikit pengetahuan tentang 4P (Place, Product, Price, Promotion, mbuh urutane bener opo ndak). Dengan gagah saya langsung ke P yang pertama. Nyari tempat. Dapet. Warungnya kecil, ukuran 3 kali 3. Setelah renovasi sana-sini dengan berbagai pertimbangan bisnis macem-macem, bahkan soal warna pun dibahas secara detil, bagaimana supaya eye catching, berkesan bersih dll., dsb.

Lalu ke P yang ke dua. Product. Hubungin mama, njelasin sistim kerjanya. Soal tanggung jawabnya dan segala macem. Dasar doyan masak, doi seneng-seneng aja, asal ada yang bantu katanya. Beres, Ma!

P yang ketiga. Masih melibatkan mama, karena dia yang tahu cost untuk membuat sepanci soto kikil. Akhirnya sepakat harga permangkok dijual Rp. 5000, soalnya melayani pegawai negri yang lokasi kantornya di sekitar warung.

Nah sekarang P yang ke 4. Pesan neon sign dan spanduk. Wah pokoknya waktu semangat kita 45 banget dah. Terbayang sukses di depan mata. Soalnya kita buka warung pake ilmunya Hermawan Kartajaya (maaf cuma nama ini yg saya kenal he..he..). Terus terang waktu itu kita agak memandang sebelah mata pada warung-warung yang lebih dulu ada: Soto Cak Miskun, Kikil Wak Jo, Warung Yu Mi, Nasi Goreng Cak To dll. Saya merasa bisnis warung saya lebih well prepared. Sampe di tahap ini saya dan suami sibuk banget dah pokoknya, pulang kerja, di sela2 kerja selalu ngomongin soal warung. Anak-anak sampe bingung. Si sulung juga sempet nanya,

Sulung: Ma, Papa mau brenti kerja tah?
Aku : Iya, kenapa? (tak buju’i de’e)
Sulung: Trus mau jualan kikil tah?
Aku : Iya.
Sulung: Halah Maaa. Trus aku gimana?
Aku : Apanya yang gimana?
Sulung: Aku kan malu. (dia sangat bangga pada profesi papanya yang wartawan meski cuma koran lokal. Apalagi kalo poto papanya muncul di koran, dia seneng banget)
Aku : Kenapa?
Sulung: Nanti kalo ngisi formulir aku nulisnya gimana? Mosok penjual kikil, kan malu Ma.. (dasar anak-anak, dari pada jadi wartawan bodrek alias wartawan amplop kan masih terhormat jadi penjual kikil toh, Leee)

Akhirnya tibalah saat soft opening warung. Sebar-sebar leaflet alias selebaran potokpian lengkap dengan potongan kupon beli 2 gratis satu, saya lakukan, dengan mengerahkan tenaga suami dan saya sendiri, serta satu orang gajian (wwuiiih nggethu yoooo..hahahaha. Jadi pingin ketawa kalo inget waktu itu). Teman-teman yang sebelumnya sudah saya undang lewat SMS mulai datang. Lumayan lah, warung jadi semarak. Kayaknya rame gitu, padahal mereka cuman undangan yang makannya gratis ha..ha.. tapi ndak pa-pa lah, kan memang memang harus ada ongkos promosi, ato apa lah namanya.

Hari kedua, ketiga masih bertahan, meskipun dagangan ngga selalu habis. Hari ke 4 mama mulai mengurangi produksi. Dari yang sepanci gede jadi sepanci kecil. Yang jaga warung mulai ngeluh2, katanya ngantuk jaga warung, soalnya yang beli jarang2. Aku yo heran, wong kikil wenak ngene kok ra eneng sing tuku toh? Ada sih yg beli tapi mereka bukan repetitive buyer. Mungkin mereka baru balik lagi seminggu atau 2 minggu atau bisa saja sebulan kemudian.

Lha terus selama menunggu mereka kembali, siapa yang akan beli. Mosok aku terus2an berdiri di lampu merah mbagi-bagi selebaran. Emang ndak ada kerjaan laen. Plis deeeeh. Akhirnya saya baru sadar, orang-orang seperti Cak Miskun Yu Mi dan Cak To dan Wak Jo dkk itu lebih tough dari saya. Mereka mencurahkan seluruh pikirannya hanya untuk warungnya, jadi mereka akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan warungnya. Sementara saya, buka warung cuma untuk gagah-gagahan eksperimen sambil memamerkan mempraktekkan ilmu marketing dan bisnis saya yang ndak seberapa itu. Akhirnya genap satu bulan setelah soft opening, tepatnya sehari setelah saya memenuhi pesanan untuk sebuah acara di sebuah kantor di sekitar warung saya, warung soto kikil saya tutup.

Saya lalu mencoba merenung mencari penyebab lain kegagalan saya, selain karena kuran total. Akhirnya saya temukan jawabannya. Saya berbisnis bukan murni ingin membuka peluang kerja, tapi ingin mengeruk untung sebanyak2nya. Karena dari beberapa teman, saya tahu berjualan makanan bisa mendapat laba 100% lebih. Tuhan memang sudah menakar rejeki untuk masing-masing umatNya. Dan saya merasa beruntung telah diingatkanNya untuk tidak serakah *sok-wise-mode-on*.

Dengan terpaksa saya mengembalikan pegawai saya yg cuma 1 orang ke profesi aslinya, pengangguran. Yaaahh memang saya ndak ditakdirkan jadi wiraswastawati kali. Nasiiiib jadi orang gajian teruuuussssss… Salut buat pedagang kaki lima yang kucing-kucingan sama kamtib. Maju terus pantang mundur!!

11 February 2007

The Late Anna...

Foto diambil dari sini



Tidak banyak yang saya tahu tentang Anna Nicole Smith (soale pancen dudu koncone). Yang saya tahu tentang dia hanya bahwa dia pernah jadi covernya Playboy, meski saya belum pernah liat majalahnya (maksutnya yg covernya Anna tok yang ndak saya liat he…he..).

Hari ini (Sabtu, 10 February, 2007) ndak cuma stasiun tv ini yang menyiarkan berita ttg Anna lewat The Hollywood Story, bahkan CNN pun lewat acara Larry King Live membahas kematian bintang sensaional itu. Wuaaahhh benar-benar sensasional, mungkin Anna tersenyum di alam sana, melihat masyarakat begitu heboh membicarakan kematiannya.

DR Cyril Wech seorang ahli forensik juga diundang di acara Larry King Live untuk memberikan pendapatnya (sayang aku ra ngerti sing diomongke, dadi cuma ndlahom.com).

Kaget juga ketika pertama kali membaca berita tentang kematiannya yang tragis. Tidak hanya akhir hidupnya yang tragis, perjalanan hidupnyapun sungguh membuat banyak orang -terutama yang mengklaim dirinya sebagai orang baik-baik- geleng kepala. Gimana ngga geleng2 kepala, Anna sudah menikah ketika umur 16 tahun, punya anak lalu 2 tahun kemudian bercerai. Kemudian diusia 26 dia menikah dengan seorang yang lebih pantas menjadi kakeknya. Setahun setelah pernikahannya itu, suami bangkotannya meninggal dunia dan Anna dihadapkan pada masalah rebutan harta waris dengan anak tirinya. Sampe sekarang belum kelar.

Ngga cuma itu, sampai saat kematiannya Anna belum memberikan kepastian pada publik tentang siapa bapak dari anak perempuan yg berusia 5 bulan Dannielynn Smith. Larry Birkhead dan Howard K Stern sama-sama ngotot mengaku ayah si bayi (sampeyan mau ikut ngotot? Monggo, lumayan kan numpang ngetop he..he..). Harusnya tgl 21 Februari nanti Anna harus memberikan kepastian siapa ayah bayinya lewat tes DNA, meskipun di akta kelahirannya, katanya, tertulis nama Howard sebagai ayahnya. Tapi nasib berkata lain, maut keburu menjemput. Anna menyusul anak sulungnya yang tewas 10 September tahun lalu karena overdosis. Kematiannya masih dalam penyelidikan sampai saat ini.

So what should I say? Poor Anna or poor baby?

Ato gini aja: Anna, send my best regards to Marilyn Monroe..

08 February 2007

Bubur Sengkolo

Foto by Rudi Sujanto. Diambil tanpa ijin

Namanya Bubur Sengkolo. Nenek saya dulu bikin bubur ini untuk menolak balak (bencana). Bahannya dari tepung beras, santan gula dan pewarna bangjoningtireng, abang ijo kuning putih ireng (merah, hijau, kuning, putih hitam). Biasanya setelah matang bubur dibagi-bagikan ke tetangga, dengan harapan mereka yang menerima bubur ikut mendoakan keselamatan pemberinya. Cara menyajikannya bisa dengan cara disusun atau bisa juga dipisah-pisah. Warga Jakarta mungkin perlu juga bikin bubur kayak gini, sambil berdoa mudah2an banjir ngga datang lagi he..he.. Paling ngga kalo seluruh warga Jakarta bikin bubur kayak gini di hari yg bersamaan, banjirnya bukan banjir air lagi, tapi banjir lumpur eh bubur ding he..he..


07 February 2007

Ciliwung.....

Ciliwung th 1872. Foto diambli dari sini


Jakarta kaline banjir, ojo sumelang ra dipikir...


Mudah-mudahan Waljinah ndak marah Semarang nya saya ganti Jakarta. Tapi apa ya kita masih bisa ojo sumelang kalo korban meninggal sampai hari ini sudah 29 orang, hanya karena Ciliwung banjir.

Kalau kita melihat sungai-sungai yang ada di berbagai negara (negara maju tentu saja), banyak yang bisa dimanfaatkan dari situ. Sungai Thames misalnya: kita bisa melihat Istana Westminster beserta menara jam legendaris, Big Ben. Selain itu dengan feri orang bisa melihat Tower Bridge, jembatan dengan dua menara klasik yang dibangun pada abad ke-19. Belum lagi bangunan-bangunan klasik lainnya, termasuk Tower of London, bisa disaksikan dengan menyusuri Sungai Thames.

Atau sungai Potomac misalnya, meskipun tidak seindah sungai Thamess, tapi sungai ini tidak pernah marah pada warga Washington DC. Airnya tidak pernah meluber bahkan di saat awal musim semi pun, saat salju mulai mencair. Atau sungai-sungai di Venesia yang begitu romantis bagi mereka yang berasyik masyuk di atas gondola. Hmmmm…I wish I could be there..

Lalu, bagaimana dengan Ciliwung? Ah sampeyan mbok jangan ngenyeeek. Mosok mbandingin Ciliwung sama sungai Thames. Yang bener aja. Lha kalo mau bandingin ya ama yang bagus sekalian. Bukankah untuk hal-hal yang positif kita harus melihat ke atas dan kayaknya bukan ngga mungkin sungai kita seperti sungai-sungai itu. Toh konsep megapolitan sudah di galang mantan gubernur DKI Ali Sadikin dulu. Gimana supaya sungainya ndak bikin banjir. Tapi kok ya ndak jalan juga sampe sekarang. Ah mbuh, saya ndak ngerti. Saya cuma bisa nggedabrus he..he..

Konon katanya dulu muara Ciliwung memungkinkan kapal-kapal dagang , perahu-perahu Melayu, Jepang, Cina dan berbagai ragam kapal dari sebelah timur masuk dan berlabuh dengan aman. Airnya tidak berlumpur dan penuh endapan seperti sekarang. Kapal-kapal yang singgah dulu bahkan bisa mengambil airnya untuk mengisi botol dan guci mereka sebagai persediaan untuk pelayaran. Dulu, muara Ciliwung juga jadi tempat hiburan warga Belanda, termasuk muda-mudi yang tengah kasmaran menyanyi dan bermain gitar di perahu-perahu, persis seperti di Venesia. Lengkapnya ttg Ciliwung tempoe doeloe bisa dibaca di sini

Ciliwung sekarang beda dengan yang dulu. Sekarang Ciliwung ringkih, suka muntah-muntah kalo kena hujan sedikit aja. Yaaahh mudah-mudahan saja, Ciliwung ndak muntah lagi, soalnya menurut BMG katanya puncak hujan tertinggi akan terjadi akhir Februari dan Jakarta masih berpotensi hujan lebat. Maaf bukan nakut-nakuti, tapi sebaiknya mulai belajar berenang atau siapkan selalu pelampung di rumah.

Foto diambil dari sini, sini dan sini

04 February 2007

Lain di kuping lain di mulut

“Ma..Ma..mosok bunyi senapan kok bang..bang..bang..emange bang-bang tut? Kan mestinya dor..dor..dor?"


Buat anak usia 7 tahun yang tidak begitu familiar terhadap Bahasa Inggris, istilah bang, bang, bang untuk menggambarkan bunyi senapan sangat tidak bisa dimengerti.

Ngga berhenti sampai disitu, di komik-komik yang saya baca terutama komik (kalo ndak salah) Batman ato Superman, sering saya jumpai istilah yang aneh buat saya. Misalnya saja ketika superhero kesayangan saya itu sedang menghajar para penjahat harusnya bunyi yang keluar adalah buk, braaak, klontang, glodag, kreeek dll dll. Tapi yang ditulis di komik itu kok pow, crunch, wham , yang kalo dicari di kamus ndak ada. Maklum kamusnya cuma 100 ribu kata. Ibu saya juga ndak bisa njawab waktu saya tanya kenapa kalo orang inggris berantem bunyinya beda dengan orang Indonesia. Maklum, wong ndeso. Beliau juga ndak bisa njawab waktu saya tanya kenapa bunyi bel kalo dalam bahasa Inggris jadi ting a ling a ling kok ngga teng-teng-teng. Perasaan bunyinya lebih mirip teng-teng-teng deh daripada ting a ling a ling. Kalau bunyi anjing masih bisa lah ditolerir mereka menyebutnya woof..woof..woof.. bukankah memang seperti itu bunyinya kalau mereka habis berlari-lari?

Setelah sekian puluh tahun dan mulai akrab dengan internet saya baru tahu itu namanya onomatopoeia . Buat saya, ini semakin melengkapi arti peribahasa: lain ladang lain belalang, ternyata ndak cuma bahasa yang berbeda tapi pendengaranpun juga berbeda. Atau karena perbedaan bahasa itu maka terjadi perbedaan dalam menerjemahkan bunyi ke dalam tulisan. Ah mbuh lah. Biar yang lebih pinter yang njelasin bagaimana suara-suara binatang dalam berbagai bahasa.

Tapi ada satu yang ingin sekali saya tahu. Bagaimana suara kentut dalam berbagai bahasa? he..he.. Ada yang tahu?

30 January 2007

Saya terjerat pasal 263

Kemarin pagi materi siaran saya tentang penularan virus flu burung melalui hewan adaptor kucing. Sampai setengah perjalanan acara berjalan seperti biasa. Pendengar yang bergabung pun sebagian besar sudah saya kenal. Tapi menjelang acara berakhir ada telpon dari seseorang yang belum saya kenal. Yang bikin saya kaget bukan karena dia mengaku di tempat tinggalnya ada 82 kucing liar, tapi justru tempat dimana dia tinggal. LP Medaeng!! Wah seumur-umur saya kerja, baru kali ini saya dapet telpon dari penghuni LP. Dalam hati saya berdoa, mudah2an ndak ada pemasang iklan yang sedang mendengarkan, kalo ndak bisa urung niat mereka pasang iklan di tempat saya. Lha yang telpon bukan target market jeeee..

Sebenarnya yang saya tanyakan apakah 82 kucing itu menetap disana atau datang pergi, tapi rupanya dia salah persepsi. Lalu dia jawab begini,"Saya penghuni tetap disini, Mbak. Ini pengalaman pertama saya. Saya terjerat pasal 263. Pasal 263 iku opo toh. Lalu saya tanya paman Google, ooo ternyata perkara pemalsuan surat, kalo ndak salah lho ini. Tapi saya bersyukur pendengar saya bukan pembunuh ato pemerkosa, walaupun sebenarnya sedih juga sih. Punya fans kok ya napi :-(

NB: Napi kok boleh punya HP ya? *oon.com*

27 January 2007

Love Triangle, Threesome, Three Mus Kenthir...

Saat ku pertama
Menatap dalam dirimu
Ku begitu yakin ini cinta

Kutatap dirinya
Rasakupun juga sama
Ku mencintai dirimu dan mencintai dirinya

Tak ingin hidup
Tanpa rasa bahagia
Bahagiaku bila banyak cinta

Pernah ku setia
Namun hidup trasa hampa
Bukannya aku jahanam
Ku hanya mencari senang

Hatiku tak kan bisa kuberdusta
Cinta ini memang
Untuk dirimu dan untuk dirinya

Dan bila
Antara kita menghilang
Tak kembali untuk slama-lamanya
Tak mungkin kusendiri
Kan kucari lagi

Tak kan ku buang waktu
Tanpa cinta
Kumerana



Masih ingat bagaimana Betharia Sonata, Iis Sugianto, Nia Daniaty, Hetty Koes Endang berhasil membius penggemarnya dengan lagu-lagunya yang menyayat hati? Rinto Harahap yang menjadi pencipta mayoritas lagu-lagu mereka, entah sengaja ato tidak, menempatkan mereka sebagai perempuan cengeng dan tak berdaya. Mereka dikhianati, diduakan, dicampakkan dan perlakuan-perlakuan lain oleh lelaki yang membuat mereka akhirnya merana (dan mereka ya mau-mau aja, guoblooookk ). Entah karena merasa terwakili atau karena alasan lain, lagu-lagu jenis itu bisa bertahan cukup lama di hati para penggemarnya. Hingga sekitar awal tahun 90-an kelompok Potret berhasil mendobraknya. Melly memberontak lewat lagu-lagunya seperti Terbujuk dan Mak Comblang. Lalu Ratu dengan Jangan Bilang Siapa-Siapa dan juga lagu di atas Dirimu Dirinya. Isinya tentang perselingkuhan dan ketidak setiaan yang dilakukan perempuan. Mungkin ada sih lagu2 lain yang isinya juga bukan tentang perempuan yang manis-manis ataupun tentang perempuan setia tapi luput dari perhatian saya. Dari sisi moral mungkin ini ngga baik tapi sisi kreativitas penulisan lirik saya pikir ini bagus juga, dari pada kita disodori lagu2 yang isinya cinta-cintaaaa melulu, pengabdiaaaaann melulu.

Ngomong soal keragaman lirik, lirik lagu campursari malah lebih beraneka. Beberapa hari belakangan ini saya sering mendengarkan stasiun radio yang memutarkan lagu-lagu campursari plus penyiarnya yang gayeng puoolll gaya bicaranya. Saya jadi tahu lagu berjudul Mapak Sinden yang menceritakan ttg kesanggupan seseorang menjemput sinden idolanya untuk manggung di hajatannya. Lalu ada lagi lagu berjudul Bakso Mi Ayam yg isinya tentang kangen-kangenan sepasang kekasih tapi disampaikan dengan cara yang jenaka. Coba simak ini:

nyangking timbo kiwo tengen, lungguh jejer nggo tombo kangen

Enteng dan cukup bikin saya senyum-senyum..he..he..

Gimana dengan lagu barat? Waduh, saya ndak ngamati, wong bahasa inggris saya parah jeee. Trus apa hubungannya dengan judul postingan ini? Halah ndak usah pake hubungan2, wong ini nulisnya juga ndak pake mikir, jadi ya sudah ndak usah banyak omong, dengerin aja lagunya disini. Saya tak petan dulu he..he.. ubannya udah tambah banyak..

Ditulis oleh Sok_Bens_Leo

24 January 2007

I was a swinger :)

Beberapa hari yang lalu, seorang teman chat (baca: mantan gebetan virtual) yang saya temui di 'join room' tiba2 kirim mesej di YM saya. Isinya mengabarkan (dengan bangganya) bahwa dia sudah dapat gebetan baru. Yang bikin saya kaget, ternyata saya tahu gebetan barunya itu. Akhirnya setelah diberitahu ID sang pacar, saya kenalan, ngobrol. Sedikit ttg pria itu, lalu dilanjutkan dengan rumpian ttg diri masing2.

Mungkin hari ini lagi hari apes saya, baru saja ol langsung disapa begini:

(pake meebo niih, YM nya di blok ama kantor, makanya tampilannya jadi begini)

[10:16] Dia: kenapa aku jadi bertengkar terus ama R***, sejak aku bilang kalau pernah kenal sama kamu??
[10:16] Dia: :S


('kamu'? Padahal, dulu dia panggilnya 'Babe' wakakakak. Dalam hati saya berkata: lha mbuh lho mas, kok nanya saya? Aku bingung, udah lama ndak pernah chat, tau-tau dpt pertanyaan spt itu. Karena masih menghormati temen blog ku itu, yaaa.. aku jawab lah dengan 'sabar')

[10:18] Aku: lho kok aku dibawa2?
[10:18] Aku: apa salahku?
[10:19] Dia: salahmu?
[10:19] Dia: tanyalah sama rumput yg berogyang


( kok jadi aku yang salah ya? Dan jawabannya itu lho, bikin ndak napsu)

[10:20] Aku: :S
[10:21] Aku: Mulai bosen kali
[10:22] Dia: bosen apanya?
[10:22] Dia: yg jelas aku bertengkar terus ama dia
[10:23] Dia: krn dr semua pertanyaanmu atau apa yg ada di kamu, dia pasti curiga kalau kita perna / ada apa2
[10:23] Dia: :S
[10:24] Aku: Lho? Aku jarang chat ama R***. Cuma pas hari perkenalan itu dan sehari setelahnya. Itupun ngobrolnya soal blog. Not about u. Tenang aja, lagi PMS kali dia..


(di bagian ini, sebenernya saya udah pingin misuh2. Tapi sekali lagi, karna dia pacar temen blog saya, maka saya pendam hasrat untuk misuh2 (hayyah))
[10:33] Dia: :S

Obrolan di atas semakin menguatkan kesimpulan saya (halah)tentang teman-teman yang saya temui di chat room. NDAK MUTU!!! (sama ndak mutunya dengan saya he..he..)

NB: Buat 'R', ampuuuuuunnnn, jangan hukum aku atas kejahilanku mempostingkan ini. Mudah2an tidak ada seorangpun yang cerdas dan menemukanmu he..he..

22 January 2007

Are you a swinger?

Saya langsung pasang status 'busy' di YM saya begitu saya mendapat pertanyaan itu. Bukan sok sibuk tapi saya memang bener-bener sibuk buka ini he..he.. Maklum, wong ndeso kayak saya mesti rajin nanya ke mbak Miriam itu biar ndak keliatan ndesonya ato paling ndak berkuranglah.

Waduh, ya jelas I'm not, nuuuu. Kalo swing yang dansa-dansa itu boleh lah. Tapi kalo untuk definisi yg b, saya ndak berani. Bukan takut dosa, tapi takut ketahuan he..he..

Kembali ke pertanyaan teman chat tadi. Dulu sebelum punya blog, saya sering kali ketemu teman (baca: lawan) bicara seperti itu. Suka nanya yang aneh-aneh. Tapi itu saya maklumi karena memang ketemunya di join room (he..he.. ketahuan belangnya). Lama-lama bosen juga ditanya seperti itu dengan berbagai versi, mulai dari yang sopan sampe yang vulgar seperti yang diatas itu. Intinya, semua ngajak ngesex (maaf saya ndak suka pake gaya bahasa eufimisme).

Belum lagi kejengkelan yang lain: mau join dimana aja, selalu ketemu orang India (maaf), yang bukannya memperbaiki bahasa inggris saya, tapi malah merusaknya. Masih mending kalo sopan. Tapi dari sekian banyak lelaki yang saya temui di chatroom, buat saya mereka semua lelaki hidung belang dan mata keranjang.

Ngomong2 ttg istilah mata keranjang, saya jadi inget waktu hadir di acara peluncuran buku Remy Sylado, Sam Po Kong, dia bercerita istilah mata keranjang sebenarnya bukan berarti mata dan keranjang atau matanya sekeranjang tapi mata menuju ranjang. Tetapi karena penulisan awalan ke di sambung pada kata ranjang, maka artinya menjadi lain, karena dalam bahasa Indonesia keranjang berarti tempat atau wadah barang dari anyaman, ato liat sendiri lah di KBBI, saya ndak mau sok ilmiah.

Kembali ke masalah join room. Mungkin saya termasuk yang apes, karena mau join di room mana aja, mau yang room dalam negri ato yang English-speaking room (dengan bekal bahasa Inggris yang pas-pasan) selalu saja saya ketemu dengan 2 tipe pria yang di atas. Lama-lama jadi eneg, makanya kemudian lahirlah blog ndak mutu ini... because I'm not (yet) a swinger he..he..

Oh ya..hampir lupa, sampeyan termasuk lelaki yang mana? Mata ke ranjang atau hidung belang?

17 January 2007

No Pain No Bra

Ulangan anak-anak selesai. Seperti biasa, anak-anak menuntut perhatian lebih. Ngga peduli mamanya sudah teler karena kerjaan di kantor nambah (tapi tidak berbanding lurus dengan gaji), kemarin pulang kantor mereka nodong ngajak renang. Karena masih terlalu siang, saya minta ijin untuk tidur dulu sejenak, karena sejak di perjalanan saya sudah ngantuk banget. Tidak lupa saya pesan anak-anak untuk membereskan perlengkapan berenang. Sementara saya pesan si mbak untuk menyiapkan punya saya (bukan contoh yang baik hihihi).

Bagun tidur, seperti biasa kalau mau berenang, baju renang saya pakai sejak dari rumah, jadi di kolam tingal copot baju saja. Tanpa memeriksa isi tas, saya langsung cabut sama anak-anak.

Di kolam, seperti biasa, TP-TP (walah gak nyebuuuttt). Maksudnya pamer sama orang-orang yang ada di kolam (terutama brondong-brondong dan bapak-bapak yg bisanya cuma berendam doang), liat gue nih, biar udah emak-emak, masih kuat berenang 3-4 putaran tanpa jeda. *sombong.mode*

Setelah cape, kami mentas. Lebih dulu saya mandikan si kecil. Acara mandi bilas ini tidak terlalu makan waktu karena hari itu kolamnya sepi pengunjung. Maklum weekdays. Setelah saya selesai mandi dan mengeringkan badan, giliran selanjutnya pake kutang dan CD kan? Tapi kemana 2 benda sakti itu? Ubek-ubek seluruh isi tas, tak berhasil juga kutemukan. Telpon rumah? Buat apa? Lagian kalo berenang saya tidak pernah bawa HP ato barang-barang berharga lainnya. Apalagi setelah Jeng Kenny pernah kecopetan di kolam renang.

Setelah ngga ada lagi tempat untuk mencari, akhirnya aku simpulkan si Mbak lupa memasukkan 2 benda itu dan aku pasrah. Maksudnya? Yo muleh ra nganggo kutang dan CD hehehe. Waduh, isiiisss meen..wakakak (tragicomedy). Untungnya benda sakti saya yg tertinggal itu tipenya (?)34 A, jadi ngga terlalu ngefek lah meski ndak pake. Malah keliatan seksi kayaknya, ngga perlu pake nipple tiruan. Wakakakak (kenthir). Makanya, Bu…siapin sendiri perlengkapannya. Kaya putri aja, segalanya minta diladenin) No pain..No Bra xixixixi.

Maap postingannya agak panjang.

14 January 2007

For Adult Only

Sebenarnya sudah beberapa kali saya penasaran pada jamu (ato vibrator he..he..) ini. Tapi baru kemarin saya berani minta petugas apotik untuk mengambilkan kotak ini, dengan taruhan malu, karena dilirik bapak-bapak di sebelah saya (cuek ajaa, ngga kenal ini..).

Judulnya Tongkat Nikmat (nyem..nyemmm glek..), khusus untuk wanita. Katanya bisa bikin rapet (lawang be'eeee). Seperti jamu-jamu lokal (baca ilegal) lainnya, selain alamat pabrik ngga jelas, bahasanya pun asik punya. Coba liat aturan pakai no 2: yang hitam dipakai kalau mau main lima menit sebelumnya. Main??? Main gaple?

11 January 2007

Falling in love..



CINTAI AKU LAGI

Setiap malam aku slalu merenung
Terbayang dapat menyentuh wajahmu
Ingin kuulangi sekali lagi
Rasa indah yang pernah kualami

Kurasakan
Kehampaan
Kuiinginkan
Kehangatan

Cintai aku lagi
Seperti waktu itu
Tak bisa kuhindari
Hati selalu merindu

Sayangi aku lagi
Tak mampu kusendiri
Tanpa hadirmu
Tanpa cintamu


Ngga seperti biasanya, beberapa hari belakangan saya suka sekali mendengarkan lagu ini. Seperti sedang jatuh cinta (lagi..:P)

Buat yang juga suka silakan download lagunya Disini

09 January 2007

Aku...

Ndasku ngelu
Anakku ulangan
Sampe kurang turu
Opo maneh kelonan

Aku jablayyy
Jarang dibelayyyy :P

05 January 2007

KALIREN

Sejak harga beras naik teman saya yang satu ini selalu mengeluh ndak bisa makan nasi dan terpaksa makan nasi aking. Setiap hari ituuuu melulu yang jadi bahan pembicaraan, sampai rasa iba saya berubah menjadi bosan. Kebetulan kemarin saya pulang bareng, jadi sekalian saya ajak dia makan enak.

Waduh, mentang-mentang ada yang nraktir, makannya banyak banget! Aku rodok curiga, jangan-jangan dia nogo-en (bukan cacingen), lha wong mangane wakeh banget jeeee. Ini buktinya:









Sebenarnya ada 2 piring lagi yang isinya nasi goreng dan teman-temannya yg cukup berat. Piring yang satunya lagi isinya spageti, cuma sayang fotonya burek, jadi ndak saya tampilkan. Tak pikir 12 gambar ini sudah cukup mewakili untuk menyebutnya Wrikodara alias perut srigala. Untungnya kita makan di restoran all u can eat, jadi aku ndak perlu ketar-ketir mbayare, soale wes mbayar nang ngarep. Denger-denger katanya, setelah makan gila-gilaan itu, semalam sampai pagi ini dia belum makan apapun, karena belum lapar (koyok ulo ae mari mangan akeh trus turu seminggu.. wakakakak)

NB: gambar fruit cocktail memang sengaja ditampilkan 2 kali, soale temenku itu memang ambil 2 kali.

31 December 2006

HUJAN-HUJANAN

Bagi sebagian orang kehujanan mungkin jadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Apalagi kalau kehujanan pada saat dandanan masih rapi. Sumpah serapah tak jarang muncul pada saat karunia Tuhan sedang tercurah seperti ini. Manusia memang mau enaknya sendiri. Kalau bisa dia yang ngatur kapan hujan turun, kapan matahari bersinar. Wenaaak tenaaaannn dadi tuhan, gitu kali ya.. (Jadi inget film Bruce Almighty..I Got The Power!!!). Tapi bagi saya kehujanan merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu. Paling tidak sampai tadi malam.

Surabaya di guyur hujansejak siang sampai malam. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan hujan terus turun sampai saya pulang kantor. Selama ini setiap turun hujan, kalau tidak sedang dalam angkot, di rumah, ya di kantor. Jadi ngga ada kesempatan buat hujan-hujanan dan memakai jas hujan baru saya. Sudah sebulan lebih saya menunggu saat memakai pakaian kebesaran ini. Ingin menikmati diciprati air hujan. Ingin menikmati dinginnya diguyur air hujan, soalnya ngga mungkin kan lari-lari di depan rumah cuma pake CD doang he..he.. (bisa melotot mata Pak RT ku melihat bodiku yg seksi ini kikikik). Dan akhirnya saat itupun tiba. Huajn tlah tiba..hujan tlah tiba (dinyanyikan seperti lagunya Tasya Libur tlah Tiba). Aku hujan-hujanaaaaannnn...



Keterangan gambar:
Lokasi: rumah lengang Christie
Kostum: Girogiro Armani
Sepatu: Manollo Blantik (maaf tidak tampak di gambar)
Make Up: Peter F Semirang
Fotografer: Darwis Dardurung

25 December 2006

NGISIN-NGISINIIIII

Meskipun sudah berulangkali dirugikan oleh sikap ceroboh saya, tapi saya tetap tidak pernah kapok bersikap ceroboh, menganggap remeh sesuatu. Yang terakhir saya alami hari Sabtu kemarin. Teman saya menikah. Undangannya sudah saya terima kira-kira 5 hari sebelumnya. Setelah saya lihat tanggal, jam dan tempatnya, saya tutup undangan itu dan membiarkannya tergeletak di meja bercampur dengan koran dan majalah.

Ketika tiba hari H, tanpa melihat lagi undangan yang sudah tenggelam di tumpukan koran dan majalah, kami langsung berangkat menuju pesta. Begitu sampai di sana, saya langsung mengisi buku tamu memasukkan amplop ke dalam rumah-rumahan (mboh opo jenenge iku), lalu melangkah masuk gedung. Tapi di ambang pintu saya jadi ragu, nama pengantin yang ditempel di pintu kok bukan nama temanku ya? Lalu saya kembali lagi ke mbak-mbak penerima tamu tadi. Saya tanyakan nama lengkap pengantinnya. Ternyata nama yang disebutkan mbak itu bukan nama yang kukenal. Segera saya teringat sebaris kata yang tertera di undangan teman saya, tempat: Pool Side. Ya, tempatnya di pool side bukan di dalam gedung. Waduh gimana nih, amplopnya sudah kadung dimasukkan ke rumah-rumahan itu. Diminta lagi, ngga ya? Saya bingung.

*)Daripada malu akhirnya saya masuk aja ke dalam, bergabung dengan tamu-tamu yang lain dan berlagak pilon. Dalam hati saya berucap: wah gimana nih, ngga jadi dateng ke pesta temenku dong. Lha wong amplope cuma siji. Mosok yo di lobokno mudho ngono, gak atek amplop. Sambil makan, saya mikir buat nyari amplop ato apa aja yg bisa buat mbungkus duit. Untungnya waiternya ada yg baik, saya di berinya amplop satu. jadinya, hari itu saya buwu ke 2 tempat. Waduuuh tanggal tuweeekkk, tambah entek duitku..
(iki versi mbujuk)

(yang ini versi non fiksi)

Untungnya ada perempuan sepuh (mungkin kerabat sang pengantin) yang menangkap kebingungan saya. Katanya:

+ Kenapa mbak?
- Hhhmmm anu ..saya salah, Bu. Pesta teman saya ternyata di pool side, bukan disini. Maaf..
+ Oooh mboten nopo-nopo, diambil saja lagi. Ndak pa-pa..
- Trimakasih bu, maaf…


Lalu dengan muka agak ditekuk, mbak penerima tamu tadi membuka rumah-rumahan tadi dan mengambil amplop saya..(untuuung ada ibu itu, coba kalo ngga, rugi dooong gueee he..he..). Untunge omah-omahan iku gak dikunci (soalnya biasanya kan dikunci dan kuncinya dibawa yang punya hajat). Untungnya lagi tamu yang datang bersama saya tidak banyak jadi mbak penerima tamu itu masih mau mencarikan amplop saya sing isine duit dollar (hehe sing iki mbujuk ). Untungnya (maneh), amplopnya saya kasih nama di luar, biasanya saya masukkan kartu nama di dalamnya, tapi berhubung kartunama lagi habis, akhirnya identitas saya tulis di luar. Untung yang berikutnya adalah saya belum makan jadi ndak malu ngambil amplop saya lagi (ndak malu apa ndak punya malu? hihihi..Lapo isin wong aku gak korupsi kok, gak ngrampok kok, sing korupsi ae malah gak isin blas.. he..he.. bela diri kiii, padahal asline peliiiitt).