27 April 2007

Piau; piao; piaw

Untuk orang yang tidak bisa disiplin dalam mengelola keuangan seperti saya, menyimpan uang dalam bentuk tabungan bukan pilihan tepat. Kemudahan menarik kapan dana kapan saja justru menjadi ancaman buat saya. Pilihan menyimpan dana -yang tidak seberapa ini- akhirnya jatuh pada asuransi, tabungan berjangka atau arisan! Arisannya bermacam-macam, mulai dari yang cuma 25 ribuan sampe yang sejuta perbulan saya ikuti.

+: wah duite akeh men hehehehe
=: jangan salah, duit itu termasuk jatah belanja jugak. Makanya jangan heran kalo menu hariannya cuma tempe, tahu ama krupuk ha..ha..


Dari sekian banyak arisan ada satu arisan yang menurut saya paling menguntungkan. Namanya arisan Piau/piao/piaw. Umumnya pesertanya adalah etnis cina.

Begini ilustrasinya:
Katakan dalam satu kelompok terdapat 10 anggota. Masing-masing anggota wajib menyetor sejumlah uang sesuai yang telah disepakati bersama. Sebut saja 1 juta. Seperti lazimnya orang yang ikut arisan, semuanya pasti ingin menjadi orang pertama yg narik arisannya, nah disinilah bedanya arisan Piau dengan arisan2 lain. Setiap orang bisa menjadi orang kedua yg narik (kesempatan narik pertama biasanya jadi hak ketua). Tapi tentu saja ada harga yang harus dibayar.

Mereka harus 'membeli' kesempatan itu dengan cara memasukkan sejumlah uang dalam amplop (nge-piau). Jumlahnya hanya diketahui oleh yang bersangkutan. Jumlah uang dalam amplop ini menandakan kesediaan ybs mengurangi jumlah uang yg harus dibayarkan anggota arisan ain sejumlah uang di dalam ampop.

Bingung ya?

Begini: misalnya A memasukkan uang 50 ribu dalam amplop, dan jumlah itu adalah yang terbesar diantara amplop2 lainnya. Berarti A adalah pemenang. Dia akan mendapatkan kesempatan narik di bulan itu, dengan catatan, peserta lain hanya membayar 950 ribu rupiah (1 juta-50 ribu). Jadi total dia hanya mendapat 9,5 juta. Setelah pemenang diketahui, uang dalam amplop kemudian dikembalikan pada pemiliknya. Permainan ini bisa berulang di bulan-bulan berikutnya. Siapapun bisa narik duluan asal dia mau nge-piau. Tapi biasanya jumlah piau semakin lama semakin kecil.

Lalu bagaimana kewajiban peserta yang narik pertama dan hanya mendapat 9,5 juta? Dia tetap harus membayar penuh 1 juta perbulan, meskipun di bulan-bulan berikutnya ada peserta lain yang nge-piau, karena peserta yang sudah pernah nge-piau tidak berhak atas pengurangan itu.

Arisan model ini enak, karena
  1. Pesertanya tidak harus berkumpul tiap bulan. Uang bisa ditransfer setelah ketua mengabari -lewat telpon atau sms- pada semua peserta.
  2. Peserta yang nge-piau pun tidak merasa rugi meski dia tidak mendapatkan utuh 10 juta, karena dia bisa mendapatkan 'pinjaman' uang dengan cepat dan 'bunga' nya (jml piau) dia sendiri yg menentukan.
  3. Peserta yang tidak pernah nge-piau pun tidak merasa dirugikan, karena meski dia narik belakangan, jumlah yang dia bayarkan tidak sampai 10 juta sementara dia mendapatkan utuh 10 juta di akhir periode.
Yen ngoten, pripun, Mbah

Ngantuk poooollllll

Saya baru tahu kalo anak kecil ternyata tidak tahu kalau ketika ngantuk harus merebahkan badan supaya tidak doyong sana doyong sini he..he..



Note: pidio kiriman teman.

24 April 2007

Voice mail Tukul

Buat yang penasaran pingin dengerin voice mailnya Tukul silakan unduh di sini :D. Tapi hanya untuk yang punya akun di multiply :P (ndak penting blaassss he..he..)

15 April 2007

Sms saja...

08111121**

Tuuuut..tuuuttt..tuutttt

lalu terdengar suara dengan logat katroknya: maaf, disms saja, pasti dibalas, trimakasiii

Setelah itu saya dial lagi nomer yang sama hanya untuk mendengarkan suara mas Tukul hahaha. Penasaran ngeliat saya terkekeh-kekeh, temen saya ganti nelpon bergiliran, Nia, Arti, Fiki lalu Lia. Sekarang jadi ngga jelas mana yang ndeso mana yang katrok. Wakakakak...

13 April 2007

Diganggu kampret

Sudah seminggu ini saya di telpon orang ngga jelas, miskol, sms gak mutu. Huh!!! Menjengkelkaaaaaannn. Ndak mutuuu. Kampreeeet (maaf terpaksa harus keluar kata ini, mangkel jeeee). Mungkin ada yang tau gimana cara ngatasi orang usil seperti ini. Hp saya tidak dilengkapi fitur screened list, jadi semua sms masuk ke inbox.
Tolong�

NB: tadinya saya mau mencantumkan no telp pengganggu itu di sini, tapi saya takut terornya tambah dahsyat. Jadi gimana?

04 April 2007

Ceting

Suatu pagi dua orang ibu sedang ngobrol. Yang satu pake Meebo, satunya pake YM.



*klik untuk memperbesar

01 April 2007

Satu saja,sebaiknya...


Jika kau menginginkan satu jangan ambil dua, karena
satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.

dari: Filosofi Kopi, Dee untuk seorang teman

23 March 2007

14 March 2007

Prime

gambar diambil dari sini

Beda usia yang cukup jauh (14 th) ternyata tidak menghalangi David (Bryan Bloomberg) untuk jatuh cinta pada Rafi Gardet (Uma Thurman). Sebagai wanita paruh baya (37 th) yang baru saja bercerai, Rafi sangat kaget ketika tahu teman kencannya ternyata seorang anak kemaren sore yang lebih pantas menjadi adiknya. Tapi cinta memang tidak memandang usia, kencan mereka jalan terus. Rafi bahkan menceritakan hubungannya dengan David pada Lisa (Meryl Streep) terapisnya.

Ceritanya menjadi lucu ketika Lisa tahu bahwa pemuda ingusan yang dikencani pasiennya adalah anaknya sendiri. Mimik muka Lisa menjadi tidak karuan ketika dalam sesi konsultasi Rafi dengan lancarnya manggambarkan dengan detil 'barang' Dave, bagaimana mereka bercinta dan hal-hal tabu lainnya. Akting Meryl Streep bagus sekali.

Dua hal yang membuat Lisa menentang hubungan mereka; beda usia yang terlalu jauh dan Rafi bukan Yahudi seperti dirinya. Sikap Lisa mulai melunak ketika tahu hubungan Rafi dan Dave ternyata membuat Dave makin dewasa. Dia juga sangat bijak menyikapi hubungan anaknya. Lisa tidak bersikap frontal menentang hubungan mereka, tapi tetap menunjukkan ketidaksetujuannya dengan cara yang elegan. Filmnya lucu banget dan yang penting he..he..banyak adegan syuuuuuurrrnya... :))

10 March 2007

Bengkok deh.....



Inilah akibat tindakan kekerasan kemarin. Sampai siang ini si mas belom dateng juga. Rupanya dia sudah cukup puas menyimpan name tag saya yang sakti itu hehehehe...

08 March 2007

Yaaaaahhh..nabrak deh...

Pagi ini saya berangkat ke kantor jam 4.25 wib. Shift pagi. Ngga ada firasat apa2. Tapi tau-tahu di perjalanan, entah siapa yang salah, mobil saya srempetan sama sedan biru. Nyenggolnya cuma dikit sih, cuma bunyi duk gitu. Saya cuek aja, toh mobil saya sudah banyak goresannya, lagian saya juga mesti buru2. Harus on time. Jam lima harus sudah nyalain radio. Babu gitu loh.

Saya jalan aja terus, ngga nambah kecepatan, karena saya pikir senggolannya cuma dikiiiit banget. Eh ternyata mas itu mencoba mengejar dan menghalangi mobil saya. Wah kayak di film2 aja. Ya sudah akhirnya saya menepi meskipun sebenarnya saya bisa aja ngebut terus.

Dia turun dari mobilnya. Jendela saya buka. Lebar. Tanpa curiga.
Saya: kenapa mas
Dia: mana KTP nya!!
Saya: ngga!!

Karena saya ngga mau ngasih KTP, tiba-tiba dia langsung meraih kontak mobil saya. Untung saya juga sigap. Saya lebih dulu menyelamatkan. Jadi posisi tangan saya memegang kontak yg masih nempel ditempatnya sementara tangannya masih berusaha merebut dari tangan saya.

saya: mas saya lagi buru2. Jam lima saya harus siaran. saya ngga boleh telat. kalo mas mau mas bisa ikut saya ke kantor. Kita bicara disana.
dia: saya juga mau kekantor (dia ndak nyebutin kantornya dimana? Penyiar juga kali. Makanya sama2 buru-buru)
dia: mana KTP nya
saya: Memangnya anda siapa? Gini aja, ikut saya ke kantor. Kita ngobrol di sana. tolong lepasin tangannya.
dia: ngga bisa! KTP! (masih ngotot dan pake nada tinggi)
saya: Oke. ini name tag saya. Alamat kantor ada disitu. Saya harus ke kantor.
dia: saya bisa bikin ibu ngga nyampe kantor (wah ngancem nih)
saya: kenapa? Sampeyan mau bunuh saya?!!!! (nada saya tinggi)

Dia diem sambil tangannya terus berusaha meronta merebut kunci kontak. Akhirnya karena saya juga ngotot ngga mau ngasih KTP, dia pergi juga sambil membawa name tag saya. Cuma itu percakapan yg saya ingat. Saya bukan pemberani kalo lagi salah. Tapi bila pada kondisi sebaliknya saya bisa segarang macan!!! (macan betina boooo). Saya ngga merasa salah, kalaupun saya salah, dia juga ikut menyumbang kesalahan. Wes mbuh!!!

Kalo anda tanya kenapa saya berikan name tag (yang sudah beberapa kali menyelamatkan saya dari tilang he..he..). Jawabannya: kalau saya ngasih KTP, ngurusnya lebih susah. Penyerahan name tag itu bukan sebagai bentuk pengakuan rasa bersalah saya, tapi hanya untuk meyakinkan mas itu bahwa saya tidak berniat kabur dan saya mau menyelesaikan masalah ini plus saya mau cepet2 sampe kantor.

Mudah2an aja urusannya ngga jadi panjang. Males! Apalagi disuruh ganti rugi.
Maaf tulisane kacau. Lagi esmosi nih!!!

06 March 2007

Drive save

Photobucket - Video and Image Hosting
gambar diambil dari dari sini

Kiri...kiri...poll kiri.. balasss...balaaaaaassss...balas Mbaaaakk. Braaaak. Waduh nabrak deh. Makanya toh Mbaaaakk, kalo mau parkir, kaca jendelanya diturunin, radionya dimatiin. Jadi ngga denger aba-aba saya kan. punya SIM ngga sih, Mbak?

J 1, liat tukang parkir itu saya jadi pingin ngaplok 2. Saya sudah punya SIM jauh sebelum saya bisa nyetir, Paaaakk!! Tapi gimana lagi, udah terjadi jee. Tambah lagi goresan di mobil tua saya dan di mobil yang saya senggol he..he.. Lumayan juga gara-gara sering nyenggol itu, saya jadi banyak kenalan. Kenalan ama tembok, pohon, becak, sepeda motor, bok 3 dan banyak bon yang harus dibayar he..he..

Tapi apa bener sih perempuan katanya nyetirnya ngga becus. Perasaan setelah sekian belas tahun, nyetir saya udah bagusan sekarang. Parkir juga udah pinter. Kata artikel ini kita para perempuan tidak perlu merasa kecil hati atau malu kalau sering kena tilang karena melanggar rambu lalulintas atau kesalahan2 lain. Hormon testosteron kita sedikit!! Padahal -masih kata artikel itu- untuk bisa menyetir dengan cantik dibutuhkan testosteron dalam jumlah yg cukup besar. Wah berarti cuma lelaki dong yang bisa nyetir oke? Perempuan tidak? Ndak juga ah..

1: Misuh yang artinya jorok itu lhoooo he..he..
2: Namparrrrr
3: waduh apa ya artinya? Aku bingung jeee..mmm anu paling jembatan..ya..ya.. jembatan

27 February 2007

Atas Nama Kehormatan

Foto diambil dari sini


Andai boleh memilih, mungkin Souad memilih untuk tidak dilahirkan atau memilih mati saja. Terlahir sebagai perempuan berarti lekat dengan ketidak berdayaan, kepatuhan dan sederet penderitaan lain. Tidak ada hak apapun bagi perempuan di tempat ini, bahkan dia tidak berhak atas tubuhnya sekalipun. Semuanya menjadi milih lelaki; ayah dan suaminya kelak.

Stempel charmuta (pelacur) akan diberikan hanya karena seorang perempuan bertatap mata dengan sengaja dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Selanjutnya, pukulan dengan tongkat atau cambuk dengan sabuk akan menjadi ganjarannya untuk kesalahan -yang bagi orang-orang modern- sepele itu. Semua dilakukan dengan alasan membela kehormatan.

Atas nama kehormatan perempuan harus menerima nasib mati di tangan para lelaki. Atas nama kehormatan seorang ibu bahkan tega membunuh bayi-bayinya sesaat setelah dia sadar bayi itu punya vagina diantara selangkangannya. Rasanya para pejuang kesetaraan gender harus bekerja lebih keras lagi untuk mengurangi jumlah negara yang memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua, yang menghargai perempuan tidak lebih dari seekor hewan.

Souad lahir di sebuah dusun di Tepi Barat dimana tatanan sosial disana mengharuskan perempuan tunduk dan patuh hingga taraf yang -menurut saya- paling menjijikkan. Amarah saya serasa bangkit menatap huruf demi huruf di buku ini. Betapa makhluk yang bernama lelaki itu bisa seenak perutnya memaksakan kehendak mereka atas perempuan. Rasanya ingin sekali membalaskan sakit hati Souad pada para lelaki itu, pada sistim yang menempatkan perempuan di posisi yang sangat lemah. Buat saya novel ini punya alur yang tidak bertele-tele sehingga saya nyaman membacanya. Dan selalu saja buku yang berisi testimoni menarik untuk dibaca tak terkecuali buku ini. Bagi orang yang sangat mendukung kesetaraan gender seperti saya pengakuan Souad benar-benar membuat hati saya teriris sekaligus kagum; saya tidak menemukan satupun kalimat keras yang menyiratkan dendam Souad pada kakak iparnya yang telah membakarnya hidup-hidup.

Souad memang tidak bisa memilih di mana dan dari ibu mana dia dilahirkan tapi dia beruntung masih bisa memilih kehidupan mana yang akan ditempuhnya. Souad, perempuan luar biasa yang mampu mengusir kesumat dari dalam hatinya dengan cinta seperti matahari memudarkan wangi melati dengan sinarnya.

Judul Buku: Burned Alive
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet
Harga: Rp. 35.000

26 February 2007

S.O.S

Lagi ndak enak bodi.... :-(

20 February 2007

Mari mulai nguli berbisnis

foto diambil dari sini

Bukannya tidak percaya atau meremehkan buku-buku motivasi macam Rich Dad Poor Dad dan semacamnya, tapi karena saya selalu gagal berbisnis, saya jadi ogah membaca buku-buku beginian. Mending baca novel. Alasannya kita tidak bisa meniru kesuksesan seseorang (baca: nasib baik), yang bisa kita tiru cuma usahanya saja. Soal hasil itu sepenuhnya urusan Yang Di Atas. Masalahnya, ketika kita membaca buku-buku itu, harapan kita, hasil yang kita dapat dari usaha kita –dengan mengikuti petunjuk buku- akan sama atau paling tidak mendekati hasil yang dicontohkan dalam buku. Kenyataannya? 2 kali saya mencoba memraktekkan tips sukses berbisnis selalu saja gagal (baru dua kali udah keok he..he..).

Tapi buku karangan Lisa Rogak ini sempat membuat tangan saya meraihnya. Iseng aja. Di halaman daftar isi saya lihat satu persatu, barang kali ada pekerjaan yang tidak saya kenal. Tapi ternyata hampir semua jenis pekerjaan yang terteta di situ saya kenal, atau paling tidak dari judulnya saya bisa meraba. Ada 100 pilihan pekerjaan yang bisa anda pilih. Tiap-tiap pekerjaan dilengkapi dengan deskripsi, alasan mengapa pekerjaan ini layak dicoba, investasi yang dibutuhkan, informasi lebih lanjut ttg bisnis tsb. Kuncinya pilih pekerjaan yang 100% menyenangkan.

Mata saya lalu terhenti pada tulisan 'Tukang Bangunan' (hal 118).Wah ini pasti tukang bangunan yang ngga biasa, begitu pikir saya.

Saya buka halaman 118 dan inilah yang saya temui:

Tukang bangunan
Deskripsi bisnis: sebuah jasa di mana para pekerja menyusun batu untuk membuat tembok dan lantai
Ketrampilan yg dibutuhkan: ketahanan dan kekuatan fisik dan kecermatan penempatan dan detail.
Tukang banguan tenan jebule. Benar-benar tanpa resiko, paling banter kulit item karena terbakar.

Lalu saya kembali lagi ke halaman index. Ketemu ini: Membersihkan jendela (hal 90). Saya buka halamannya, sambil menduga-duga, jangan-jangan kayak tukang bangunan tadi. dan inilah yang saya temukan.

Membersihkan Jendela

Deskripsi Bisnis: tugasnya membersihkan jendela bagian luar dan dalam. Untuk kantor dan pemukiman.
Ketrampilan yang dibutuhkan: ketelitian, berorientasi kesempurnaan dan memiliki kekuatan dan yg pasti tidak takut ketinggian. (Bisnis ini bisa cepat menghasilkan dan tanpa resiko terutama kalau anda sendiri yang menjadi tenaga pembersihnya ).

Saya ndak melanjutkan membaca buku ini, pemiliknya sudah ada di depan saya sambil berkacak pinggang karena saya meminjamnya tanpa ijin he..he..










16 February 2007

Selingkuh? Ayo, siapa takut.

India's National Commission for Women (NCW) has proposed that adultery by a married man should be considered as social offense and not criminal offense. Surprisingly women are excluded. Woman involved in illicit relationship with a married man should be considered as victim than a wrongdoer .

Begitu pesan offline yang ditinggalkan teman maya di YM saya kemarin (14 feb 2007). Di akhir kalimat dia juga menanyakan kondisi di Indonesia dan pendapat saya.

Saya jadi bertanya2 apa motif dibalik proposal itu (weleh). Sungguh saya ndak habis pikir, bagaimana mungkin perselingkuhan tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Kalau iya proposal itu disetujui dan dijadikan UU, enak dong para lelaki itu, ngga ada sanksi hukum kalau mereka berselingkuh.

Menurut teman saya itu, hari itu masalah tsb dibicarakan di hampir seluruh koran terbitan ibukota India. Beberapa informasi di sini sebenarnya menarik dan bisa menjawab pertanyaan mengapa harus ada proposal semacam itu, tapi karena keterbatasan waktu dan kemampuan berbahasa, saya cuma sempat membuka tanpa sempat membaca.

Saya jadi ingat novel Burned Alive, yang menceritakan bagaimana menderitanya terlahir sebagai wanita di sebuah desa di Tepi Barat. Mereka tidak lebih berharga dari hewan. Tidak ada istilah bermain dimasa kanak-kanak mereka. Hari-hari anak perempuan di sana hanya berisi bekerja dan disiksa setiap hari. Perempuan berselingkuh? Mati imbalannya. Salah satunya dengan cara dibakar hidup-hidup seperti yang diceritakan di novel itu. Jadi kondisi perempuan disana -menurut novel itu- memang -bisa dibilang- samasekali tanpa perlindungan.

Kembali ke proposal tadi, saya jadi tertarik mengetahui seberapa beratkah hukuman bagi pria berselingkuh sampai-sampai NCW mengusulkan pelakunya dianggap sebagai pelanggar etika saja bukan pelanggar hukum (denger-denger sih katanya 5 th penjara), dan sudah sedemikian parahkah hukuman bagi wanita pezinah, sehingga mereka perlu melindungi mereka dgn menganggap para wanita peselingkuh itu hanya korban, bukan pelaku kesalahan? (wah enak banget dong, ayooo rame-rame selingkuh..).

Mungkin temen-temen yang sekarang sedang belajar di India bisa memberikan pencerahan (kalo bisa dalam bahasa Indonesia saja).

14 February 2007

Coto de Kikil

Berbekal pengetahuan bisnis yang –menurut saya- sudah ndak kalah ama Hermawan Kartajaya, 2 tahun lalu saya mencoba-coba membuka lapangan kerja. Buka warung. Yang dijual? Soto kikil bikinan mama tercintah. Ide ini bukan murni ide saya, tapi ide teman2 yang mengaku kalo soto kikil bikinan mama saya katanya weenak banget.

Modal saya waktu itu cuma uang sekitar 5 jutaan dan sedikit pengetahuan tentang 4P (Place, Product, Price, Promotion, mbuh urutane bener opo ndak). Dengan gagah saya langsung ke P yang pertama. Nyari tempat. Dapet. Warungnya kecil, ukuran 3 kali 3. Setelah renovasi sana-sini dengan berbagai pertimbangan bisnis macem-macem, bahkan soal warna pun dibahas secara detil, bagaimana supaya eye catching, berkesan bersih dll., dsb.

Lalu ke P yang ke dua. Product. Hubungin mama, njelasin sistim kerjanya. Soal tanggung jawabnya dan segala macem. Dasar doyan masak, doi seneng-seneng aja, asal ada yang bantu katanya. Beres, Ma!

P yang ketiga. Masih melibatkan mama, karena dia yang tahu cost untuk membuat sepanci soto kikil. Akhirnya sepakat harga permangkok dijual Rp. 5000, soalnya melayani pegawai negri yang lokasi kantornya di sekitar warung.

Nah sekarang P yang ke 4. Pesan neon sign dan spanduk. Wah pokoknya waktu semangat kita 45 banget dah. Terbayang sukses di depan mata. Soalnya kita buka warung pake ilmunya Hermawan Kartajaya (maaf cuma nama ini yg saya kenal he..he..). Terus terang waktu itu kita agak memandang sebelah mata pada warung-warung yang lebih dulu ada: Soto Cak Miskun, Kikil Wak Jo, Warung Yu Mi, Nasi Goreng Cak To dll. Saya merasa bisnis warung saya lebih well prepared. Sampe di tahap ini saya dan suami sibuk banget dah pokoknya, pulang kerja, di sela2 kerja selalu ngomongin soal warung. Anak-anak sampe bingung. Si sulung juga sempet nanya,

Sulung: Ma, Papa mau brenti kerja tah?
Aku : Iya, kenapa? (tak buju’i de’e)
Sulung: Trus mau jualan kikil tah?
Aku : Iya.
Sulung: Halah Maaa. Trus aku gimana?
Aku : Apanya yang gimana?
Sulung: Aku kan malu. (dia sangat bangga pada profesi papanya yang wartawan meski cuma koran lokal. Apalagi kalo poto papanya muncul di koran, dia seneng banget)
Aku : Kenapa?
Sulung: Nanti kalo ngisi formulir aku nulisnya gimana? Mosok penjual kikil, kan malu Ma.. (dasar anak-anak, dari pada jadi wartawan bodrek alias wartawan amplop kan masih terhormat jadi penjual kikil toh, Leee)

Akhirnya tibalah saat soft opening warung. Sebar-sebar leaflet alias selebaran potokpian lengkap dengan potongan kupon beli 2 gratis satu, saya lakukan, dengan mengerahkan tenaga suami dan saya sendiri, serta satu orang gajian (wwuiiih nggethu yoooo..hahahaha. Jadi pingin ketawa kalo inget waktu itu). Teman-teman yang sebelumnya sudah saya undang lewat SMS mulai datang. Lumayan lah, warung jadi semarak. Kayaknya rame gitu, padahal mereka cuman undangan yang makannya gratis ha..ha.. tapi ndak pa-pa lah, kan memang memang harus ada ongkos promosi, ato apa lah namanya.

Hari kedua, ketiga masih bertahan, meskipun dagangan ngga selalu habis. Hari ke 4 mama mulai mengurangi produksi. Dari yang sepanci gede jadi sepanci kecil. Yang jaga warung mulai ngeluh2, katanya ngantuk jaga warung, soalnya yang beli jarang2. Aku yo heran, wong kikil wenak ngene kok ra eneng sing tuku toh? Ada sih yg beli tapi mereka bukan repetitive buyer. Mungkin mereka baru balik lagi seminggu atau 2 minggu atau bisa saja sebulan kemudian.

Lha terus selama menunggu mereka kembali, siapa yang akan beli. Mosok aku terus2an berdiri di lampu merah mbagi-bagi selebaran. Emang ndak ada kerjaan laen. Plis deeeeh. Akhirnya saya baru sadar, orang-orang seperti Cak Miskun Yu Mi dan Cak To dan Wak Jo dkk itu lebih tough dari saya. Mereka mencurahkan seluruh pikirannya hanya untuk warungnya, jadi mereka akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan warungnya. Sementara saya, buka warung cuma untuk gagah-gagahan eksperimen sambil memamerkan mempraktekkan ilmu marketing dan bisnis saya yang ndak seberapa itu. Akhirnya genap satu bulan setelah soft opening, tepatnya sehari setelah saya memenuhi pesanan untuk sebuah acara di sebuah kantor di sekitar warung saya, warung soto kikil saya tutup.

Saya lalu mencoba merenung mencari penyebab lain kegagalan saya, selain karena kuran total. Akhirnya saya temukan jawabannya. Saya berbisnis bukan murni ingin membuka peluang kerja, tapi ingin mengeruk untung sebanyak2nya. Karena dari beberapa teman, saya tahu berjualan makanan bisa mendapat laba 100% lebih. Tuhan memang sudah menakar rejeki untuk masing-masing umatNya. Dan saya merasa beruntung telah diingatkanNya untuk tidak serakah *sok-wise-mode-on*.

Dengan terpaksa saya mengembalikan pegawai saya yg cuma 1 orang ke profesi aslinya, pengangguran. Yaaahh memang saya ndak ditakdirkan jadi wiraswastawati kali. Nasiiiib jadi orang gajian teruuuussssss… Salut buat pedagang kaki lima yang kucing-kucingan sama kamtib. Maju terus pantang mundur!!

11 February 2007

The Late Anna...

Foto diambil dari sini



Tidak banyak yang saya tahu tentang Anna Nicole Smith (soale pancen dudu koncone). Yang saya tahu tentang dia hanya bahwa dia pernah jadi covernya Playboy, meski saya belum pernah liat majalahnya (maksutnya yg covernya Anna tok yang ndak saya liat he…he..).

Hari ini (Sabtu, 10 February, 2007) ndak cuma stasiun tv ini yang menyiarkan berita ttg Anna lewat The Hollywood Story, bahkan CNN pun lewat acara Larry King Live membahas kematian bintang sensaional itu. Wuaaahhh benar-benar sensasional, mungkin Anna tersenyum di alam sana, melihat masyarakat begitu heboh membicarakan kematiannya.

DR Cyril Wech seorang ahli forensik juga diundang di acara Larry King Live untuk memberikan pendapatnya (sayang aku ra ngerti sing diomongke, dadi cuma ndlahom.com).

Kaget juga ketika pertama kali membaca berita tentang kematiannya yang tragis. Tidak hanya akhir hidupnya yang tragis, perjalanan hidupnyapun sungguh membuat banyak orang -terutama yang mengklaim dirinya sebagai orang baik-baik- geleng kepala. Gimana ngga geleng2 kepala, Anna sudah menikah ketika umur 16 tahun, punya anak lalu 2 tahun kemudian bercerai. Kemudian diusia 26 dia menikah dengan seorang yang lebih pantas menjadi kakeknya. Setahun setelah pernikahannya itu, suami bangkotannya meninggal dunia dan Anna dihadapkan pada masalah rebutan harta waris dengan anak tirinya. Sampe sekarang belum kelar.

Ngga cuma itu, sampai saat kematiannya Anna belum memberikan kepastian pada publik tentang siapa bapak dari anak perempuan yg berusia 5 bulan Dannielynn Smith. Larry Birkhead dan Howard K Stern sama-sama ngotot mengaku ayah si bayi (sampeyan mau ikut ngotot? Monggo, lumayan kan numpang ngetop he..he..). Harusnya tgl 21 Februari nanti Anna harus memberikan kepastian siapa ayah bayinya lewat tes DNA, meskipun di akta kelahirannya, katanya, tertulis nama Howard sebagai ayahnya. Tapi nasib berkata lain, maut keburu menjemput. Anna menyusul anak sulungnya yang tewas 10 September tahun lalu karena overdosis. Kematiannya masih dalam penyelidikan sampai saat ini.

So what should I say? Poor Anna or poor baby?

Ato gini aja: Anna, send my best regards to Marilyn Monroe..

08 February 2007

Bubur Sengkolo

Foto by Rudi Sujanto. Diambil tanpa ijin

Namanya Bubur Sengkolo. Nenek saya dulu bikin bubur ini untuk menolak balak (bencana). Bahannya dari tepung beras, santan gula dan pewarna bangjoningtireng, abang ijo kuning putih ireng (merah, hijau, kuning, putih hitam). Biasanya setelah matang bubur dibagi-bagikan ke tetangga, dengan harapan mereka yang menerima bubur ikut mendoakan keselamatan pemberinya. Cara menyajikannya bisa dengan cara disusun atau bisa juga dipisah-pisah. Warga Jakarta mungkin perlu juga bikin bubur kayak gini, sambil berdoa mudah2an banjir ngga datang lagi he..he.. Paling ngga kalo seluruh warga Jakarta bikin bubur kayak gini di hari yg bersamaan, banjirnya bukan banjir air lagi, tapi banjir lumpur eh bubur ding he..he..


07 February 2007

Ciliwung.....

Ciliwung th 1872. Foto diambli dari sini


Jakarta kaline banjir, ojo sumelang ra dipikir...


Mudah-mudahan Waljinah ndak marah Semarang nya saya ganti Jakarta. Tapi apa ya kita masih bisa ojo sumelang kalo korban meninggal sampai hari ini sudah 29 orang, hanya karena Ciliwung banjir.

Kalau kita melihat sungai-sungai yang ada di berbagai negara (negara maju tentu saja), banyak yang bisa dimanfaatkan dari situ. Sungai Thames misalnya: kita bisa melihat Istana Westminster beserta menara jam legendaris, Big Ben. Selain itu dengan feri orang bisa melihat Tower Bridge, jembatan dengan dua menara klasik yang dibangun pada abad ke-19. Belum lagi bangunan-bangunan klasik lainnya, termasuk Tower of London, bisa disaksikan dengan menyusuri Sungai Thames.

Atau sungai Potomac misalnya, meskipun tidak seindah sungai Thamess, tapi sungai ini tidak pernah marah pada warga Washington DC. Airnya tidak pernah meluber bahkan di saat awal musim semi pun, saat salju mulai mencair. Atau sungai-sungai di Venesia yang begitu romantis bagi mereka yang berasyik masyuk di atas gondola. Hmmmm…I wish I could be there..

Lalu, bagaimana dengan Ciliwung? Ah sampeyan mbok jangan ngenyeeek. Mosok mbandingin Ciliwung sama sungai Thames. Yang bener aja. Lha kalo mau bandingin ya ama yang bagus sekalian. Bukankah untuk hal-hal yang positif kita harus melihat ke atas dan kayaknya bukan ngga mungkin sungai kita seperti sungai-sungai itu. Toh konsep megapolitan sudah di galang mantan gubernur DKI Ali Sadikin dulu. Gimana supaya sungainya ndak bikin banjir. Tapi kok ya ndak jalan juga sampe sekarang. Ah mbuh, saya ndak ngerti. Saya cuma bisa nggedabrus he..he..

Konon katanya dulu muara Ciliwung memungkinkan kapal-kapal dagang , perahu-perahu Melayu, Jepang, Cina dan berbagai ragam kapal dari sebelah timur masuk dan berlabuh dengan aman. Airnya tidak berlumpur dan penuh endapan seperti sekarang. Kapal-kapal yang singgah dulu bahkan bisa mengambil airnya untuk mengisi botol dan guci mereka sebagai persediaan untuk pelayaran. Dulu, muara Ciliwung juga jadi tempat hiburan warga Belanda, termasuk muda-mudi yang tengah kasmaran menyanyi dan bermain gitar di perahu-perahu, persis seperti di Venesia. Lengkapnya ttg Ciliwung tempoe doeloe bisa dibaca di sini

Ciliwung sekarang beda dengan yang dulu. Sekarang Ciliwung ringkih, suka muntah-muntah kalo kena hujan sedikit aja. Yaaahh mudah-mudahan saja, Ciliwung ndak muntah lagi, soalnya menurut BMG katanya puncak hujan tertinggi akan terjadi akhir Februari dan Jakarta masih berpotensi hujan lebat. Maaf bukan nakut-nakuti, tapi sebaiknya mulai belajar berenang atau siapkan selalu pelampung di rumah.

Foto diambil dari sini, sini dan sini