30 September 2007

Seledri

Saya suka sekali aromanya. Karena suka itulah saya selalu mencari cara bagaimana bisa mengkonsumsinya lebih banyak selain lewat jus atau lewat sayur sop. Dilalap? Wah kayaknya ngga enak, wong dibuat jus aja baru terasa enak kalau dicampur wortel dan tomat plus madu. Tapi kalau lagi belanja di supermarket dan lihat seledri segar dipajang, saya selalu pingin ngambil. Cuma, kalo segitu banyak dibikin apa ya? Akhirnya jadilah ini. Judulnya Seledri Cah Daging. Rasanya? Kalo menurut saya sih enak-enak aja. Suami saya juga doyan meski awalnya merasa aneh, seledri kok ditumis, katanya.



Bumbunya: bawang putih, saos tiram, minyak ikan, kecap asin, royco cair, garam.
Cara masaknya: bawang putih digeprek lalu digoreng, masukkan daging yg sudah diiris tipis, masukkan bumbu cair, aduk2, lalu masukkan seledri. Angkat setelah seledrinya layu. Gampang kan?

23 September 2007

Saya itu.....

sebenernya males nulis yg gini-ginian, tapi karena saya dipaksa (eh dipaksa ngga sih??) sama Bu Gendut ini, jeng ini dan ibu cantik ini yaa terpaksalah saya beberkan aib saya, soalnya cuma ini yg pantas tayang, yg lainnya lebih paraaaahhh :P

1. suka males bawa dompet terutama kalo ke kolam renang. pernah beberapa kali terpaksa ngurangi belanjaan waktu belanja di mini market deket rumah, karna setelah ditotal, duitnya kurang hehehe

2. pembosan, terutama kalo baca buku. seringkali baca 2 buku bersamaan dan akhirnya ngga selesai kedua2nya hehe..

3. suka no-bra kalo pas di rumah: soalnya kata dokter payudara juga perlu 'bernafas' yo wes, buka aja :P

4. suka membiarkan pintu kamar mandi terbuka kecuali kalo sedang mandi

5. suka ganti baju di sembarang tempat; di ruang tamu, di dapur, pokoknya di mana aja di dalem rumah

6. suka mondar-mandir pake CD dan kutang doang di dalem rumah, ini dilakukan kalo pas lagi ganti baju, tiba2 pingin minum, jadi ke dapurnya pake pakian seadanya :P

7. jarang banget pake kosmetik meski peralatan standardnya selalu ada di tas. Alasannya? Males, gak ada yg liat ini.

8. Paling sebel lihat: orang gendut gak mau olah raga, perokok yg ngerokok sembarangan, orang sok jaim, sok imut, sok suci, dan sok sok yg laennya. Pokoknya semua yang muna-muna bikin saya pingin muntah (lho kok malah muring2????)

wes, selese tugasnya. sekarang saya mau lempar tugas ini ke:
mimi (nek gak gelem, rahasiamu tak bongkar)
pitik (kudu gelem!!!)
lutpi (habit golek buko gratis gak termasuk lho)
omith (koen duwe akeh pasti)
mendol(ayo buka en rahasiamu..selain soal rambut dan bakso)
kenny(in melayunese wae yo buk)
mei (gak termasuk soal jerawat lho)
dewie (biar ngga sedih lagi hehe)
gembul (posting sing paling nggilani yo, kudu gelem!!)
kw (pingin tahu 10 aja dari yg 100 itu :P )

tugasnya, posting 8 kebiasaan paling top (baca: paling buruk)

21 September 2007

A belated gift for my bojo

mas, aku punya kado untumu eh untukmu. Jupuk en nang kene...maap telat :D

10 September 2007

1000 Shura


Saya ngga tau mesti bangga ato malu atas keterlibatan saya dalam pembuatan film indie berjudul 1000 Shura. Seandainya saja tawaran itu datang 10 tahun lalu, pasti akan beda rasanya..:P

Malam itu telpon saya berdering. Dari Dita yang paginya sempat telpon tapi missed, gak keangkat.

(dialognya kira2 begini)
Dita : mbak bisa akting ngga?
Aku : (rodo bingung) akting apa?
Dita : bisa kan? Pasti bisa…..mbak besok mampir ke rumah ya…
Aku : (masih bingung) akting apa seeh?
Dita : wes pokoknya besok tak tunggu di rumah..

Karena jarak antara kantor saya dan rumah Dita cuma beberapa ratus meter, ya..sudahlah saya ngalah. Sampai di lokasi ada banyak anak-anak (saya sebut begitu karena sepertinya mereka pantas jadi anak saya). Lalu mereka menjelaskan, bahwa mereka sedang membuat film dan membutuhkan pemeran ibu untuk pemeran utama. Dan untuk membuat film senatural mungkin (halah apa lah istilahnya) maka dicarilah pemeran ibu yang memang sudah tua ibu-ibu. Dan pilihannya jatuh pada saya yang kebetulan bisa akting sedikit karena yg lain nggak mau.

Awalnya saya pesimis bisa memenuhi harapan mereka. Gimana ngga pesimis, karakter tokoh yang saya perankan adalah: ramah, tegar, sabar, santun dan -ini yg paling ngga gue banget- cantik :)). Tapi saya jadi tahu kenapa mereka memilih saya; mereka ngga punya waktu untuk cari yang lebih tepat :)). Tak ada rotan akar punjabi hehehe... Yo wes lah kuterima kenyataan ini. :P

Setelah beberapa hari latian, tibalah saat syuting. Saya ngga pernah membayangkan prosesnya begitu ribet. Harus take berulang-ulang, lebih2 kameranya cuma satu. Jadi untuk satu adegan harus take berulang-ulang dari berbagai macam angle. Akhirnya waktu yang saya perkirakan cuma sekian jam jadi molor. Syuting yang saya perkirakan bisa selesai dalam waktu sehari saja ternyata harus dilanjutkan keesokan harinya. Akhirnya saya kena semprot suami. Katanya terlalu banyak komitmen. Lhaaaa???

Sebenarnya saya bisa saja mengundurkan diri, toh ngga ada ruginya buat saya. Tapi kok rasanya kasihan anak-anak itu. Bukan soal ketersediaan penggantiku yang pasti berserakan di luar sana, tapi mereka pasti tidak punya waktu lagi untuk mencarinya. Akhirnya meski agak berat saya teruskan tugas saya menjadi bagian dari film mereka. Lagi pula mengasyikkan kok bekerja dengan mereka. Meski serius tapi tetap banyak ketawanya. Tapi perbedaan status dan usia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menyatu dengan mereka. Saya punya banyak keterbatasan. Pada saat matahari sudah condong ke barat, pikiran saya mulai tidak tenang. Ini saatnya saya ada di rumah. Tawa saya tidak lagi lepas lagi. Saya harus pulang.

Untunglah, scene saya tidak banyak. Hanya di ruang tamu dan di kamar. Hari kedua syuting cuma berlangsung sekitar 1 jam-an. Harusnya ngga ada hari ke 2 buat saya, tapi karena hari sebelumnya saya ngga mau nunggu sampai selesai (sudah terlalu malam) akhirnya syuting dilanjutkan keesokan harinya.

Terimakasih kalian sudah mempercayai saya menjadi bagian dari karya kalian. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan terus terang saya kapok syuting lagi (emange ada yag mau ngajak lagi??????)

Foto2 lain bisa diliat di sini

06 September 2007

Bebek itu telah pergi...

Kurang lebih 6 bulan lalu saya sempet ketemu dia waktu dia mau pamit pada orang tuanya di Jember untuk berangkat ke Aceh. Kesan saya, bebek orang yang ringan tangan, rendah hati dan pintar bergaul. Temannya banyak. Dia tidak canggung bergabung di komunitas manapun. Sifat ringan tangannya dia tunjukkan ketika dia membantu saya membenahi blog saya. Dengan sabar dia menuntun saya langkah demi langkah. Untuk orang awam seperti saya, ini bukan pekerjaan gampang, tapi dia dengan sabar mengajari saya, padahal saya cuma teman blogger yang baru sekali bertemu.

Terakhir ngobrol dengan Bebek kira-kira sebulan lalu, dia mengabarkan akan segera menikah. Saya bahkan dikenalkan pada calon istrinya lewat YM (mudah2an saya segera bisa menghubunginya). Makanya saya benar-benar tidak menyangka dan hampir tidak percaya ketika membaca pesan singkat dari Mas Hadik bahwa bebek telah pergi.

Selamat jalan Bebek, semoga kau menemukan kedamaian disisiNya…

posting terkait:
bebek
faniez
bahtiar
venus
vivink
pitik
kw
hedi

31 August 2007

Snack Jadul

Ada banyak nama untuk menyebut makanan ini: bipang, jipang, gipang bahkan ada yang menyebutnya brondong (wah nek sing iki pancen enak :D). Snack ini adalah favorit saya waktu masih kecil dulu selain arum manis dan permen. Rasanya manis dan renyah. Terbuat dari beras ketan (mungkin) yang diolah sedemikian rupa hingga berasnya mengembang berlipat2. Saya tidak tahu pasti ini makanan khas mana. Ada yang bilang ini makanan khas jawa timur tapi ada juga yang bilang ini makanan khas Banten.

Sempet nonton Discover China (ne gak salah) disana ternyata ada juga makanan ini. Cuma sayangnya saya telat nontonnya, jadi cuma sempat liat biji-biji bipang itu di aduk dalam gula karamel lalu di tuang dalam cetakan. Jadi penasaran gimana ya cara bikin biji2 beras itu bisa ngembang segede jagung. Enak kali ya kalo kita bisa menemukan varietas padi seperti itu. Ngga bakalan ada kelaparan di Indonesia. Lha berasnya aja segede itu. Untuk bikin nasi sebakul kita mungkin cuma butuh segenggam beras. Mosok yang gede-gede selalu datangnya dari Bangkok (meski konon katanya benihnya gak ada satupun yang dari Thailand). Nah timbang kangelan golek bekatul mending cari cara bikin padi varitas unggul sing iso segede biji bipang. Iso ra, Pi?

22 August 2007

Mahameru 2

Tadinya mau saya posting di sini. Tapi kok susah sekali ngatur le ot nya (ato aku yang oon?). Dibawah ini poto jadul waktu ke Semeru. Jangan tanya tahun berapa, ntar ketahuan kalo saya sudah tua hehehehe. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Menuju Ranu Pane

Ranu Pane

Ranu Pane juga

Di depan Pos Ranu Pane. Menuju Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo. Aku dan Yeti

Menuju Puncak. Lihat medannya. 3 jam kami 'merangkak'


Akhirnyaaa....sampe juga. Ki-ka Yoga, Deni, Anen, Yeti, Ali. Aku, Ronald

Poto bareng 'Gie'. Lihat kostumnya, jins semua, pinjem semua. Untung dalemnya masih ada baju lagi


Ali, Ronald, Yoga. Di mana mereka ya....


Perjalanan pulang.


Aku dan Deni. Kelelahan di hutan cemara

NB: Posting ini saya persembahkan (halah) untuk teman2 satu kost di Wisma Blambangan.

14 August 2007

Mahameru

Saya menyebutnya sisa-sisa masa kejayaan. Bayangin aja naik gunung pertama kali ke gunung tertinggi se Jawa pula. Siapa yang ngga bangga. Tapi rasa bangga itu justru muncul bertahun-tahun sesudah kejadian. Saya lupa tepatnya tahun berapa yang pasti bulan Agustus, saya -tanpa direncanakan sebelumnya- bergabung dengan teman-teman satu kost yang akan mendaki gunung Semeru. Keputusan saya untuk ikut mendaki saya buat hanya beberapa jam sebelum berangkat. Misi saya juga tidak sehebat misi Gie. Saya cuma ngga mau kesepian di kost karena semua pada mudik.

Karena memang bukan pendaki gunung (tapi saya pecinta alam lhooo) saya tidak punya perlengkapan untuk mendaki. Akhirnya sambil di susu-susu (diobrak teman2 maksute)saya cari pinjaman sepatu (sepatuku wes elek), jaket dan lain-lain. Pendek kata semuanya barang pinjeman kecuali sidi dan kutang hehe.. Jangan tanya soal kemampuan baca peta dan kompas karena kami tidak membawa 2 benda itu (pokoke benar2 bonek alias bondo nekat). Bekal? Kami cuma bawa mi instan tok!! Plus susu bubuk dan kornet. Perlengkapan lain saya tidak tahu menahu, karena backpack saya (yang biasa saya pake buat kuliah) cuma berisi mukenah (ben ketok alim), dan perlengkapan daleman, baju ganti, sarung tangan, topi plus makanan kecil dan air minum. Jadi bek pek nya kempes ngga seperti pendaki2 lain yang bek pek nya bisa melebihi tinggi kepalanya. Bahkan ada yang ditaruh di dada pula. Celana yang saya pakai pun celana jins. Norman Edwin pasti ketawa kalo lihat persiapan saya mendaki. Pokoknya perlengkapan yang kami bawa sangat standar kalau tidak boleh dibilang minim.

Sampai di Ranu Pane hari masih sore. Poto-poto merupakan acara utama. Ini salah satunya.

Malamnya saya kedinginan karena jaket dan celana saya dari bahan jins (oon tenan). Untung semua bisa teratasi sehingga perjalanan ke Ranu Kumbolo bisa dilanjutkan keesokan harinya. Disana poto2 lagi laaahhh�. Ini salah satunya.

Ranu Kumbolo ini lebih luas (14 ha) dan lebih indah dari Ranu Pane. Airnya pun jernih. (kami langsung meminumnya tanpa dimasak, ngeman parafin kata temen saya hahahaha kere tenan). Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami (6 cowo 2 cewe) berangkat menuju pos terakhir di Kalimati. Di awal perjalanan kami langsung dihadang bukit terjal kemudian melewati padang rumput luas yg dikelilingi bukit dan gunung. Namanya Oro-oro Ombo. Pokoknya indaaaaaaahh sekali. Setelah itu kami masuk hutan cemara, Cemoro Kandang (duuuhh pingin kesana lagi).

Sampai di pos Kalimati (2.700 m) kami (eh teman2ku ding) mendirikan tenda. Sudah magrib waktu itu. Aduuuuhhh indah sekali melihat sunset di alam terbuka tanpa diganggu suara mesin mobil dan dering telpon. Sambil menunggu tendanya berdiri. (aku dan Yeti, cuma duduk-duduk bak juragan :D). Yang ngambil air ke sumber (lupa namanya) juga yang cowok-cowok. Jadi kami berdua (aku dan Yeti) benar-benar tidak berguna sama sekali hehehe. Malamnya, lagi-lagi saya kedinginan gara-gara celana jins itu.

Besoknya perjalanan berlanjut ke Arcopodo (2900m) Sekitar 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang di tepi jalannya terdapat jurang yg sangat curam. Arcopodo ini adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Kami berangkat dini hari sekitar jam 2 karena estimasi waktu pendakian ke puncak Semeru sekitar 3-4 jam dengan medan yang cukup berat. Sungguh, seandainya saya tahu sebelumnya medannya akan seberat itu, saya yakin tidak akan ikut dalam pendakian. Saya sempat putus asa dan ingat mati (sungguh!!!) karena puncak yang kelihatannya dekat itu tak kunjung tercapai. Tanah (baca: pasir) yang saya injak selalu longsor. Kemiringan 45 derajat (mungkin lebih) membuat kami tidak bisa disebut berjalan tapi merangkak. Di sini kelihatan sekali watak asli teman-teman saya. Ada seorang teman yang mulai berhalusinasi berteriak-teriak minta kiriman helikopter. Ada bakat schizophrenia kayaknya hehehe (piiiissss Anen). Tapi akhirnya, meski tidak sempat menyaksikan asap dari Kawah Jonggringseloko, kami puas berhasil menjejakkan kaki di Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa....



Ini poto perjalanan pulang dengan latar belakang gunung Semeru


NB: Maaf fotonya agak burem. ini poto yg dipoto lagi pake kamera hp :P (mekso.com)

25 July 2007

Remote control

Belinya di emper toko alis kaki lima. Ngga sengaja alias iseng. Karena harganya cuma sepuluh ribu rupiah (lengkap dengan battery-nya) akhirnya saya beli. Palstiknya sengaja ngga saya buka soalnya saya ngga yakin bisa dipake dan penjualnya memberi money-back guarantee kalau ternyata remote nya ngga bekerja dengan baik.

Walhasil? Ajaib!! Remote cembanan itu bisa dipake. Horeeee!!! Sekarang saya ngga usah repot2 mendekat ke VCD player kalau mau mematikan atau mem-pause. Huh coba tahu dari dulu-dulu. Coba bayangkan sudah setahun ini setiap nonton VCD semua saya lakukan tanpa remote control. Akibatnya, ketika saya tidak bisa melanjutkan menonton film, padahal filmnya tinggal sedikit lagi tamat, saya harus mengulangnya dari awal. Kecuali kalau di pause. Tapi kalau kesempatan nonton lagi baru besok harinya, masak di pause seharian.

Kali ini iseng saya membawa berkah hehehe..
Tapi...ini termasuk barang bajakan bukan ya?

10 July 2007

01 July 2007

Kopdar

Tadinya kita mau makan pangsit di sby hari jumat malem. Saya udah kecewa krn ga bakal bisa ikut. Anak2 pasti protes kalo saya tinggal. Maklum mbok-mbok..
Tapi untungnya teman2 berbaik hati mengubah jadual ke hari sabtu. Hore saya bisa ikuut. suwun yo Ndol, hatimu memang semulia ibu peri....h


Anton, Sugeng, Fahmi, Syahwinda. Yg sebelah kiri itu dengkulnya Mendol.

Yang bikin saya semangat pingin dateng, terus terang, krn saya penasaran sama Mas ini. Foto di blognya gak jelas. Kebetulan jg fahmi ngajak si imyuuuut ini yg jg belum pernah ketemu.

Legok asri akhirnya jadi pilihan untuk ketemu (ealaah Sidoarjo juga akhirnya, Mi hahaha). Pengunjung yg tdk terlalu padat membuat kami bisa berlama-lama ngobrol dan kakak kikik. Pesan makan pun gak pake embel2: mas, gak pake lama yaaa. Kami merasa tidak keberatan berlama2 disitu krn sebenarnya acara makan2 adalah tujuan no 2. No 1 nya? Njeglak haha..... eh ketemu Fahmi ding hihihi.


Mereka dulu pernah pacaran sekantor.

Suasana sepi sejenak krn mulut kami sibuk mengunyah ayam goreng dan ayam bakar serta menu2 lain yg mengundang liur. Ah, pokoknya acara kemarin sama sekali menyenangkan. Meski hampir tiap hari saya ketemu siberat 1771, Anton dan Sugeng di kantor, tapi karena ada Fahmi dan Syahwinda, acara kumpul-kumpul kemarin jadi terasa absolutely exciting.



Si Imyyuuut itu.




Awalnya kami ber-7 mengelilingi makanan tapi ketika hujan turun dengan derasnya posisi jadi berubah, kami ngumpul di tengah piring bekas makan yang mengelilingi kami hahaha.. Mana gazebonya bocor lagi. Untung ngga sampe pangku-pangkuan duduknya. Ngga kebayang kan kalo Mendol yang segede itu dipangku Fahmi hahahaha. (ampun prends...). Akhirnya saya harus puas dengan hasil jepretan ala kadarnya dan cuma sedikit ini.
Ah hujan itu......

26 June 2007

Shame on...me

Entah ini kebiasaan buruk atau hanya bentuk kehati-hatian yang berlebihan. Setiap saya berenang (di kolam renang umum) saya selalu tidak pernah membawa perlengkapan apapun yg tidak ada hubungannya dengan kegiatan berenang. Takut ilang. Dompet dan segala isinya saya tinggalkan di rumah, lebih-lebih henpon. Uang saya masukkan di saku celana saja, itupun secukupnya. Untuk keperluan beli tiket dan makan.

Hari itu, dengan diantar suami pergilah kami berenang. Seingat saya, saya sudah bawa uang cukup, makanya ketika anak saya ( 2 orang) mengajak makan di Sari Bundo sepulang berenang, saya oke-in aja. Tempatnya tepat di depan kolam renang. Karena kelaparan abis berenang mereka makan lahap banget. Agak ngeper juga saya, melihat mereka makan begitu rakusnya, comot ini, comot itu. Lalu iseng-iseng saya raba kantong saya. Hah!!! Cuma 70 puluh sekian ribu. Cukup ngga ya buat bayar makanan ini?

Otak saya langsung berputar (biasanya gak pernah dipake hehehe) gimana nyari jalan keluar, kalau nanti ketika bill (halah bill, bon maksute) diserahkan ternyata uang saya kurang. Ada beberapa alternatif solusi yang sudah terbayang di benak saya:

  1. Nelpon temen (pake telp koin tentunya) yg rumahnya paling dekat dengan lokasi untuk minta bantuan.
  2. Ninggal anak-anak di tempat dan saya pulang ngambil duit. (jarak rumah dan lokasi tidak terlalu jauh, tapi kalo naik becak kayaknya kasian juga anak-anak kelamaan jadi jaminan hahaha)
  3. Nyuruh si sulung pulang naik becak buat ngambil duit (tapi kok kayaknya kelamaan)
  4. Nelpon suami di kantor, minta solusi (halah kok repot tenan, dia dimana aku dimana)

Untuk sementara saya agak tenang sambil liat kiri kanan kira2 makan saya abis berapa ya... Di meja sebelah saya ada pasangan suami istri dengan seorang anak kecil. Kalo dilihat sisa menunya, dia menghabiskan makanan lebih sedikit dari yang kami konsumsi. Ketika waiter datang menghampiri mereka untuk mengantarkan bon, saya pasang kuping baik-baik. Wah kok habisnya melebihi jumlah uang yg ada dikantongku, padahal mereka kan makannya lebih sedikit. Modar aku!! Akhirnya supaya ngga perlu menjalankan 3 alternatif solusi di atas eh 4 ding, saya berhenti makan. Pura-pura kenyang. Biar anak-anak aja yang makan. Aku makan nasi ama kuah aja (kayak yg di iklan itu hahaha). Soalnya malu udah kebayang di depan mata nih.

Akhirnya tibalah saat yang menegangkan itu. Saya panggil mas-mas nya, minta bill (halah bill maneh, bon gitu looohh).

Saya: Berapa mas?
Waiter: Seratus sekian ribu, Bu. (modiaaarrrr tenan…) Tapi karena hari ini ada diskon 25%, jadi totalnya tinggal sekian, Bu.

Setelah saya lihat jumlahnya, saya lega, kayaknya masih cukup nih uang dikantong. lalu saya keluarkan semua uang (yg kucel bin lecek) di saku celana. Semuanya, termasuk recehan. Jumlahnya pas, sisanya cuma 3 ratus perak. Ongkos becak buat pulang? Bayar di rumah aja. Oh ya, masih ada lagi cerita memalukan dari kolam renang selain yang ini. Tunggu besok.

Moral of this story: money can't buy everything (halah..)

22 June 2007

My first income

Sebenarnya saya ngga yakin saya bisa meraih ratusan dollar dari adsense, tapi saya pikir mencoba tidak ada salahnya, sambil terus belajar dari sana sini termasuk sama ahlinya.

Soal belajar ini saya sampe ngga bisa tidur gara2 adsense hahaha. Nggilani tenan. Yang kebayang kode banner dan earning report saya hehehe... Sumpah nggilani.

Postingan ini sudah mengalami perubahan. Skrinsyut earning report saya hapus krn ternyata melanggar TOS, yg ngga saya baca hehehe.

Suwun yo Mas

19 June 2007

Adsense


Akhirnya adsenseku di approved. Legaaaa. Bukan uangnya yang kebayang tapi asiknya punya mainan baru. Saya ngga tahu banyak soal adsense ini, tos-nya langsung saya terima, soalnya semuanya dalam bahasa Inggris. Yang penting saya tempel2 dulu lah. Maaf kalo tampilannya bikin mata anda jadi sepet hehehehe. Maap juga kalo beberapa hari ini saya jarang berkunjung balik ke tempat anda (emang siapa gua hehehe). Soalnya lagi sibuk ngutek-ngutek html e adsen yang kayaknya masih butuh waktu lama, soalnya saya termasuk slow-learner. Masih mau tanya2 gimana caranya tampilan blog bisa 3 kolom.

17 June 2007

Earn money from blog

Awalnya ketika berkunjung ke sebuah blog yang 'rame' dengan iklan ini itu, saya mikir: ngapain juga nih orang nempelin iklan di blognya, bikin mata jadi sepet, kemriyek dll. Tapi setelah saya tahu itu menghasilkan uang saya jadi malu sendiri (katro tenan hihih). Lalu saya jadi tertarik untuk mencoba. Iseng aja, gak ada resiko ini. Saya daftarin blog gak mutu ini ke adsense. Jawabannya ditolak mentah2, karena adsense tidak mendukung (ato apa lah istilahnya) blog berbahasa Indonesia. Ya sudah, gak pa-pa. Tapi bukan berarti saya jadi patah semangat. Saya terus mencari tahu gimana caranya dapet duit dari blog (hihihi kok ngoyo tenan).

Setelah tanya sana tanya sini, baca sana baca sini saya bikin blog berbahasa Inggris (maaf masih rahasia) trus tak daptarin ke adsense, katanya sih 2 hari biasanya udah dapet jawaban. Tapi ini sudah 2 hari kok gak ada jawaban juga ya. Yo wes lah, mungkin saya gak jodo ama adsense, sama gak jodonya dgn adbrite yg sudah berhari2 ngga jawab lamaran saya (asem tenan).

Nah hari ini kalo temen-temen melihat ada gambar tas dan berbagai perlengkapan wanita di side bar, itu saya pasang dalam rangka nyari duit dari blog, sapa tau bisa nyusul mbak ini hehehehe (mimpi kali yeee). Tapi karna saya ngga mbaca sampe detil tos-nya yo embuh lah entuk duite kapan, pokoke tak tempel ae. Itung-itung buat mainan baru, nek sampek sak ulan gak ada duit masuk yo tak buang aja, beres toh. Tapi kalo ndak salah katanya saya dapet duitnya kalo ada yg bertransaksi lewat klik di blog saya. Kalo nda salah lho, soale mbacanya sambil raba-raba alias ndak begitu ngerti bahasa Inggris. Kalo ada yang tahu mbok saya dikasih tahu... Suwun

13 June 2007

Ikhlas

Kau tak perlu memintaku melakukan hal yg kau anggap baik. Aku tau kapan mesti melakukannya.....
Dan ketika saat itu datang tak ada lagi pamrihku...

11 June 2007

Cinta

Tuhan, ajari aku mengenal cinta sebagaimana orang lain mengartikannya.
Karena, kata orang, dia adalah sumber segala2nya.

Pramoedya Ananta Toer

03 June 2007

I wish I were.....


Pernah nyoba ciuman gaya begini? Atau membayangkan menjadi Kristen Dunst dan kissing upside-down begini dengan Tobey Maguire, Nicholas Cage, Pierce Brosnan ato sama mas......halah!! Wes tuweeek!! Nyebuuuuttttt!!
Lho.. kalo cuma mbayangin kan ndak papa :P

Tip: buat yg pingin nyoba, cari tali dan gantungan yg kuat. Jo lali critani piye rasane ..

gambar diambil dari sini

28 May 2007

Il fil

Pergi bersama keluarga meski cuma makan-makan di warung lesehan kaki lima buat saya sudah cukup menyenangkan. Apalagi kalau kesempatan untuk itu sangat jarang sekali didapat. Kebersamaan yang sangat ditunggu dan tentu dengan harapan semua peserta menikmati kebersamaan dan bergembira.

Mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi, maka ketika ada sedikit saja yang salah di acara keluar bersama itu, saya langsung kecewa dan buntut2nya apalagi kalo bukan marah. Lebih marah lagi karena yang bikin suasana rusak adalah orang yang sudah ndak lucu lagi alias bojo dewe. Yang bikin tambah mangkel, kejadian ini gak cuma sekali dua tapi berkali-kali. Huuhhh!!! Akhirnya bayangan saya ttg suasana gembira penuh tawa hilang berganti dengan acara tukaran (berantem) sepanjang perjalanan. Sampeyan mau tahu rasanya? Seperti menemukan sehelai rambut di menu makan siang. Marah plus pingin muntah!!! Rrrrrggghhhh...

Wes sakmene wae nulise, daripada nulis panjang isine pisuhan tok!!!

gambar diambil dari sini

17 May 2007

Absurd?

Kalau mau jujur sebenarnya saya tidak memerlukan barang secanggih ini untuk berkomunikasi, karena fungsi HP buat saya hanya untuk menerima telpon dan sms, hp second 400 ribuan saja sudah cukup menjawab kebutuhan saya. Tapi mungkin, Paink, sahabat saya sejak SMP, agak kasihan melihat saya kemana-mana masih menggenggam hp monoponik kelas pembokat. Coba bayangkan pembokat saja sekarang ini sudah punya hp berkamera sementara saya tetap pede dengan hp tanpa kamera apalagi ber-symbian.

Kemudian, dalam sebuah kesempatan, Paink ingin membagikan sedikit dari bonus ribuan dollarnya untuk saya dalam bentuk N73. Dalam hati saya sempat ragu,(maaf Pank) meski saya tahu Paink bukan orang yang suka bohong. Tapi, barang yg dia janjikan kan bukan barang murah, paling tidak untuk ukuran saya.

Keraguan saya terjawab sudah. Dia tidak bohong.



Senang? Tentu, karena sekarang saya punya benda yang tidak akan mampu saya beli dengan uang sendiri. Tapi saya juga sedih karena hingga seusia ini saya masih belum bisa memijakkan kaki ditempat seharusnya saya berada. Absurd, paradox atau apa lah istilah yg tepat buat saya. Menggenggam N73 sementara saya masih naik angkot kemana-mana, masih pusing dengan tingginya harga beras dan minyak goreng yang membuat saya harus pintar-pintar mengatur keuangan keluarga.

Saya merasa belum tidak pantas memiliki benda ini, tapi saya tak mampu menolaknya. Jadi untuk sementara saya anggap ini sebagai nasib baik saya. Eniwei, many thanks to Paink. Mudah2an tahun depan bonusnya lebih gede, jadi bisa beliin aku yg music edition ato N yang lebih canggih lagi (halah!!!!)