10 September 2007

1000 Shura


Saya ngga tau mesti bangga ato malu atas keterlibatan saya dalam pembuatan film indie berjudul 1000 Shura. Seandainya saja tawaran itu datang 10 tahun lalu, pasti akan beda rasanya..:P

Malam itu telpon saya berdering. Dari Dita yang paginya sempat telpon tapi missed, gak keangkat.

(dialognya kira2 begini)
Dita : mbak bisa akting ngga?
Aku : (rodo bingung) akting apa?
Dita : bisa kan? Pasti bisa…..mbak besok mampir ke rumah ya…
Aku : (masih bingung) akting apa seeh?
Dita : wes pokoknya besok tak tunggu di rumah..

Karena jarak antara kantor saya dan rumah Dita cuma beberapa ratus meter, ya..sudahlah saya ngalah. Sampai di lokasi ada banyak anak-anak (saya sebut begitu karena sepertinya mereka pantas jadi anak saya). Lalu mereka menjelaskan, bahwa mereka sedang membuat film dan membutuhkan pemeran ibu untuk pemeran utama. Dan untuk membuat film senatural mungkin (halah apa lah istilahnya) maka dicarilah pemeran ibu yang memang sudah tua ibu-ibu. Dan pilihannya jatuh pada saya yang kebetulan bisa akting sedikit karena yg lain nggak mau.

Awalnya saya pesimis bisa memenuhi harapan mereka. Gimana ngga pesimis, karakter tokoh yang saya perankan adalah: ramah, tegar, sabar, santun dan -ini yg paling ngga gue banget- cantik :)). Tapi saya jadi tahu kenapa mereka memilih saya; mereka ngga punya waktu untuk cari yang lebih tepat :)). Tak ada rotan akar punjabi hehehe... Yo wes lah kuterima kenyataan ini. :P

Setelah beberapa hari latian, tibalah saat syuting. Saya ngga pernah membayangkan prosesnya begitu ribet. Harus take berulang-ulang, lebih2 kameranya cuma satu. Jadi untuk satu adegan harus take berulang-ulang dari berbagai macam angle. Akhirnya waktu yang saya perkirakan cuma sekian jam jadi molor. Syuting yang saya perkirakan bisa selesai dalam waktu sehari saja ternyata harus dilanjutkan keesokan harinya. Akhirnya saya kena semprot suami. Katanya terlalu banyak komitmen. Lhaaaa???

Sebenarnya saya bisa saja mengundurkan diri, toh ngga ada ruginya buat saya. Tapi kok rasanya kasihan anak-anak itu. Bukan soal ketersediaan penggantiku yang pasti berserakan di luar sana, tapi mereka pasti tidak punya waktu lagi untuk mencarinya. Akhirnya meski agak berat saya teruskan tugas saya menjadi bagian dari film mereka. Lagi pula mengasyikkan kok bekerja dengan mereka. Meski serius tapi tetap banyak ketawanya. Tapi perbedaan status dan usia membuat saya tidak bisa sepenuhnya menyatu dengan mereka. Saya punya banyak keterbatasan. Pada saat matahari sudah condong ke barat, pikiran saya mulai tidak tenang. Ini saatnya saya ada di rumah. Tawa saya tidak lagi lepas lagi. Saya harus pulang.

Untunglah, scene saya tidak banyak. Hanya di ruang tamu dan di kamar. Hari kedua syuting cuma berlangsung sekitar 1 jam-an. Harusnya ngga ada hari ke 2 buat saya, tapi karena hari sebelumnya saya ngga mau nunggu sampai selesai (sudah terlalu malam) akhirnya syuting dilanjutkan keesokan harinya.

Terimakasih kalian sudah mempercayai saya menjadi bagian dari karya kalian. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan terus terang saya kapok syuting lagi (emange ada yag mau ngajak lagi??????)

Foto2 lain bisa diliat di sini

Labels: