31 August 2007

Snack Jadul

Ada banyak nama untuk menyebut makanan ini: bipang, jipang, gipang bahkan ada yang menyebutnya brondong (wah nek sing iki pancen enak :D). Snack ini adalah favorit saya waktu masih kecil dulu selain arum manis dan permen. Rasanya manis dan renyah. Terbuat dari beras ketan (mungkin) yang diolah sedemikian rupa hingga berasnya mengembang berlipat2. Saya tidak tahu pasti ini makanan khas mana. Ada yang bilang ini makanan khas jawa timur tapi ada juga yang bilang ini makanan khas Banten.

Sempet nonton Discover China (ne gak salah) disana ternyata ada juga makanan ini. Cuma sayangnya saya telat nontonnya, jadi cuma sempat liat biji-biji bipang itu di aduk dalam gula karamel lalu di tuang dalam cetakan. Jadi penasaran gimana ya cara bikin biji2 beras itu bisa ngembang segede jagung. Enak kali ya kalo kita bisa menemukan varietas padi seperti itu. Ngga bakalan ada kelaparan di Indonesia. Lha berasnya aja segede itu. Untuk bikin nasi sebakul kita mungkin cuma butuh segenggam beras. Mosok yang gede-gede selalu datangnya dari Bangkok (meski konon katanya benihnya gak ada satupun yang dari Thailand). Nah timbang kangelan golek bekatul mending cari cara bikin padi varitas unggul sing iso segede biji bipang. Iso ra, Pi?

23 August 2007

Jilbab=fashion?

Sudah lama saya ingin mengungkapkan ini, tapi saya ragu dan takut akan menimbulkan reaksi keras dari sampeyan semua. Tapi sepertinya sekarang saya harus menuliskannya di sini, tanpa bermaksud melecehkan, merendahkan atau menghina tapi untuk mendapat masukan dari anda sekalian.

Beberapa waktu yang lalu, saya nganter anak saya berenang. Di tengah perjalanan, ada mobil di belakang saya berusaha mendahului. Klakson dibunyikan berkali-kali. Saya menangkap kesan pengemudinya marah karena saya tidak memberinya jalan untuk mendahului. Sebenarnya saya bukan tidak mau memberinya jalan tapi keadaan jalan tidak memungkinkan. Setelah beberapa meter, mobil tadi berhasil menyalip, di depan saya sang sopir (ibu muda berjilbab) mengacungkan jari tengahnya ke luar jendela. Misuhi (memaki) saya. Saya kaget setangah mati. Tidak menyangka akan mendapatkan reaksi sekeras itu (karena saya tidak bermaksud menghambat laju kendaraannya). Anak saya ( kelas 1 SMP) yang melihat itu langsung emosi. Kejar, Ma, ngko tak pisuhi pisan. Jilbaban kok misuhan. Gak cocok blas, gitu kata anak saya.

Untung hati saya sedang bersih :P. Saya redam kemarahan anak saya. Tapi benak saya masih terganggu kalimat anak saya: jilbaban kok misuhan. Salahkan anak saya berkata begitu? Dia menuntut wanita berjilbab harusnya tidak mengucap kata2 kasar. Untung baru 1 yang dia tahu. Berjilbab tapi tidak keberatan mengucap: fak yu. Bagaimana kalau dia tahu kalau ternyata di luar sana ada yang lebih parah (saya ndak usah sebutkan di sini). Untung juga dia tidak bertanya lagi, jadi saya ngga bingung menjelaskannya. Tapi saya merasa harus meluruskan dan saya ingin mendapat masukan dari anda sekalian.

Masih ingat film Catatan Si Boy? Tokoh film yang booming thn 86-an itu sempat menjadi idol anak-anak muda di jaman itu. Ganteng, kaya, digandrungi cewek2 dan...alim. Solat iya tapi cipokan juga okeeehhhh. Dan untuk menggambarkan kealimannya di mobilnya selalu ada tasbih yg digantung di spion dalam. Seperti itukah gambaran pria alim metropolitan? Sama seperti wanita berjilbab metropolitan yang nyante aja tidur dengan suami orang, apalagi cuma bilang fak yu.

Saya kagum pada Novia Kolopaking yang tidak serta merta menutup kepalanya dengan jilbab meski dia menikah dengan seorang kyai kondang. Dia tidak lantas berganti gaya berpakaian hanya untuk memenuhi tuntutan penggemarnya. Karena jilbab memang bukan hanya sekedar menutup aurat saja. Ada konsekuensi yang mengikutinya supaya tidak ada keutuhan antara penampilan dan perilaku. Ibarat lagu, harus ada harmoni antara musik dan lagunya supaya nadanya tidak sumbang.

Meski tidak ada larangan seorang dengan tubuh penuh tato, lidah dan hidung di piercing, rambut dipilin ala Bob Marley sholat jumat di mesjid (anggap saja preman tobat) tapi apakah anda yakin tidak bertanya2? Ngga salah nih? Begitu juga sebaliknya. Pake jilbab tapi doyan selingkuh. Ngga salah nih? Lalu dia anggap apa jilbabnya itu? Rambut kepala ditutupi tapi rambut yg lain malah di ler. Jadi gimana nih? Masih setuju pakaian dan perilaku gak ada hubungannya.

Saya tidak sekeras Gadis Arivia ato Nawal El Saadawi soal jilbab. Tapi bagi saya jilbab dan kebiasaan misuh atau selingkuh atau hal-hal negatif lainnya jelas bertentangan. Memang betul kata mbah ini bahwa memakai jilbab itu sebuah kewajiban bagi muslimah dan kewajiban harus dilaksanakan. Tapi kok saya ngga setuju kalau dikatakan ngga ada hubungannya antara jilbab dan kebiasaan yang bertentangan dgnnya. Duh gimana ya cara ngomongnya. Saya ngga tahu banyak soal agama. Saya menjadi muslim karena orang tua saya muslim. Saya solat karena Dia memerintahkan begitu. Keimanan saya masih rendah. Pengetahuan saya juga sangat dangkal. Saya tidak layak menggugat soal jilbab. Tapi kejadian bersama anak saya itu membuat saya prihatin, ah bukan..bukan prihatin…marah… ya… yaa.. mungkin itu lebih tepat atau… kecewa… ya K E C E W A. Saya kecewa bukan karena saya tidak bisa membalas makiannya tapi saya kecewa karena perempuan itu memakai jilbab hanya untuk alasan fashion saja. Mudah2an saya keliru. Tapi yang jelas dia selangkah lebih baik daripada saya. Dia berjilbab dan saya belum.

22 August 2007

Mahameru 2

Tadinya mau saya posting di sini. Tapi kok susah sekali ngatur le ot nya (ato aku yang oon?). Dibawah ini poto jadul waktu ke Semeru. Jangan tanya tahun berapa, ntar ketahuan kalo saya sudah tua hehehehe. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Menuju Ranu Pane

Ranu Pane

Ranu Pane juga

Di depan Pos Ranu Pane. Menuju Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo. Aku dan Yeti

Menuju Puncak. Lihat medannya. 3 jam kami 'merangkak'


Akhirnyaaa....sampe juga. Ki-ka Yoga, Deni, Anen, Yeti, Ali. Aku, Ronald

Poto bareng 'Gie'. Lihat kostumnya, jins semua, pinjem semua. Untung dalemnya masih ada baju lagi


Ali, Ronald, Yoga. Di mana mereka ya....


Perjalanan pulang.


Aku dan Deni. Kelelahan di hutan cemara

NB: Posting ini saya persembahkan (halah) untuk teman2 satu kost di Wisma Blambangan.

14 August 2007

Mahameru

Saya menyebutnya sisa-sisa masa kejayaan. Bayangin aja naik gunung pertama kali ke gunung tertinggi se Jawa pula. Siapa yang ngga bangga. Tapi rasa bangga itu justru muncul bertahun-tahun sesudah kejadian. Saya lupa tepatnya tahun berapa yang pasti bulan Agustus, saya -tanpa direncanakan sebelumnya- bergabung dengan teman-teman satu kost yang akan mendaki gunung Semeru. Keputusan saya untuk ikut mendaki saya buat hanya beberapa jam sebelum berangkat. Misi saya juga tidak sehebat misi Gie. Saya cuma ngga mau kesepian di kost karena semua pada mudik.

Karena memang bukan pendaki gunung (tapi saya pecinta alam lhooo) saya tidak punya perlengkapan untuk mendaki. Akhirnya sambil di susu-susu (diobrak teman2 maksute)saya cari pinjaman sepatu (sepatuku wes elek), jaket dan lain-lain. Pendek kata semuanya barang pinjeman kecuali sidi dan kutang hehe.. Jangan tanya soal kemampuan baca peta dan kompas karena kami tidak membawa 2 benda itu (pokoke benar2 bonek alias bondo nekat). Bekal? Kami cuma bawa mi instan tok!! Plus susu bubuk dan kornet. Perlengkapan lain saya tidak tahu menahu, karena backpack saya (yang biasa saya pake buat kuliah) cuma berisi mukenah (ben ketok alim), dan perlengkapan daleman, baju ganti, sarung tangan, topi plus makanan kecil dan air minum. Jadi bek pek nya kempes ngga seperti pendaki2 lain yang bek pek nya bisa melebihi tinggi kepalanya. Bahkan ada yang ditaruh di dada pula. Celana yang saya pakai pun celana jins. Norman Edwin pasti ketawa kalo lihat persiapan saya mendaki. Pokoknya perlengkapan yang kami bawa sangat standar kalau tidak boleh dibilang minim.

Sampai di Ranu Pane hari masih sore. Poto-poto merupakan acara utama. Ini salah satunya.

Malamnya saya kedinginan karena jaket dan celana saya dari bahan jins (oon tenan). Untung semua bisa teratasi sehingga perjalanan ke Ranu Kumbolo bisa dilanjutkan keesokan harinya. Disana poto2 lagi laaahhh�. Ini salah satunya.

Ranu Kumbolo ini lebih luas (14 ha) dan lebih indah dari Ranu Pane. Airnya pun jernih. (kami langsung meminumnya tanpa dimasak, ngeman parafin kata temen saya hahahaha kere tenan). Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami (6 cowo 2 cewe) berangkat menuju pos terakhir di Kalimati. Di awal perjalanan kami langsung dihadang bukit terjal kemudian melewati padang rumput luas yg dikelilingi bukit dan gunung. Namanya Oro-oro Ombo. Pokoknya indaaaaaaahh sekali. Setelah itu kami masuk hutan cemara, Cemoro Kandang (duuuhh pingin kesana lagi).

Sampai di pos Kalimati (2.700 m) kami (eh teman2ku ding) mendirikan tenda. Sudah magrib waktu itu. Aduuuuhhh indah sekali melihat sunset di alam terbuka tanpa diganggu suara mesin mobil dan dering telpon. Sambil menunggu tendanya berdiri. (aku dan Yeti, cuma duduk-duduk bak juragan :D). Yang ngambil air ke sumber (lupa namanya) juga yang cowok-cowok. Jadi kami berdua (aku dan Yeti) benar-benar tidak berguna sama sekali hehehe. Malamnya, lagi-lagi saya kedinginan gara-gara celana jins itu.

Besoknya perjalanan berlanjut ke Arcopodo (2900m) Sekitar 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang di tepi jalannya terdapat jurang yg sangat curam. Arcopodo ini adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Kami berangkat dini hari sekitar jam 2 karena estimasi waktu pendakian ke puncak Semeru sekitar 3-4 jam dengan medan yang cukup berat. Sungguh, seandainya saya tahu sebelumnya medannya akan seberat itu, saya yakin tidak akan ikut dalam pendakian. Saya sempat putus asa dan ingat mati (sungguh!!!) karena puncak yang kelihatannya dekat itu tak kunjung tercapai. Tanah (baca: pasir) yang saya injak selalu longsor. Kemiringan 45 derajat (mungkin lebih) membuat kami tidak bisa disebut berjalan tapi merangkak. Di sini kelihatan sekali watak asli teman-teman saya. Ada seorang teman yang mulai berhalusinasi berteriak-teriak minta kiriman helikopter. Ada bakat schizophrenia kayaknya hehehe (piiiissss Anen). Tapi akhirnya, meski tidak sempat menyaksikan asap dari Kawah Jonggringseloko, kami puas berhasil menjejakkan kaki di Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa....



Ini poto perjalanan pulang dengan latar belakang gunung Semeru


NB: Maaf fotonya agak burem. ini poto yg dipoto lagi pake kamera hp :P (mekso.com)

03 August 2007

Ebuddy

For those who love to chat here is a mobile application that enables you to chat with your MSN, AOL and Yahoo buddies without having to install any program or Java applet.
To install this application, from your mobile phone go to http://ebuddy.com/mob then follow the instruction.Once you have installed ebuddy on your mobile phone, you can directly use it. Check chat site and status you want to use.




next step






After you click on a buddy you want to chat with on a chat screen. Click on chat to send a message and this page will appear. Write tour message and press joystick to send

You can also send a quick massage as below

and emoticons..


If you have Mig33 or Shmessenger on your mobile phone you will find that using ebuddy is much more easier however Agile is still the best.