Ini kopdarku bukan kopdarmu
Cuma satu kata: Lawan eh Seru! (maklum saya jarang kopdar). Meski yang heboh cuma Siwi dan Zam tapi udah bisa bikin suasana jadi seger dan ngga ngerasa udah berjam-jam kita nongkrong. Kalian yang ngga sempet gabung paling tidak lewat gambar kalian bisa merasakan serunya.
ini kopdar susulan tgl 18 malem sama
vivink
Labels: friends, Madly, Truly
Mahameru
Saya menyebutnya sisa-sisa masa kejayaan. Bayangin aja naik gunung pertama kali ke gunung tertinggi se Jawa pula. Siapa yang ngga bangga. Tapi rasa bangga itu justru muncul bertahun-tahun sesudah kejadian. Saya lupa tepatnya tahun berapa yang pasti bulan Agustus, saya -tanpa direncanakan sebelumnya- bergabung dengan teman-teman satu kost yang akan mendaki gunung Semeru. Keputusan saya untuk ikut mendaki saya buat hanya beberapa jam sebelum berangkat. Misi saya juga tidak sehebat misi Gie. Saya cuma ngga mau kesepian di kost karena semua pada mudik.
Karena memang bukan pendaki gunung (tapi saya pecinta alam lhooo) saya tidak punya perlengkapan untuk mendaki. Akhirnya sambil di susu-susu (diobrak teman2 maksute)saya cari pinjaman sepatu (sepatuku wes elek), jaket dan lain-lain. Pendek kata semuanya barang pinjeman kecuali sidi dan kutang hehe.. Jangan tanya soal kemampuan baca peta dan kompas karena kami tidak membawa 2 benda itu (pokoke benar2 bonek alias bondo nekat). Bekal? Kami cuma bawa mi instan tok!! Plus susu bubuk dan kornet. Perlengkapan lain saya tidak tahu menahu, karena backpack saya (yang biasa saya pake buat kuliah) cuma berisi mukenah (ben ketok alim), dan perlengkapan daleman, baju ganti, sarung tangan, topi plus makanan kecil dan air minum. Jadi bek pek nya kempes ngga seperti pendaki2 lain yang bek pek nya bisa melebihi tinggi kepalanya. Bahkan ada yang ditaruh di dada pula. Celana yang saya pakai pun celana jins. Norman Edwin pasti ketawa kalo lihat persiapan saya mendaki. Pokoknya perlengkapan yang kami bawa sangat standar kalau tidak boleh dibilang minim.
Sampai di Ranu Pane hari masih sore. Poto-poto merupakan acara utama. Ini salah satunya.

Malamnya saya kedinginan karena jaket dan celana saya dari bahan jins (oon tenan). Untung semua bisa teratasi sehingga perjalanan ke Ranu Kumbolo bisa dilanjutkan keesokan harinya. Disana poto2 lagi laaahhh�. Ini salah satunya.

Ranu Kumbolo ini lebih luas (14 ha) dan lebih indah dari Ranu Pane. Airnya pun jernih. (kami langsung meminumnya tanpa dimasak, ngeman parafin kata temen saya hahahaha kere tenan). Setelah bermalam di Ranu Kumbolo kami (6 cowo 2 cewe) berangkat menuju pos terakhir di Kalimati. Di awal perjalanan kami langsung dihadang bukit terjal kemudian melewati padang rumput luas yg dikelilingi bukit dan gunung. Namanya Oro-oro Ombo. Pokoknya indaaaaaaahh sekali. Setelah itu kami masuk hutan cemara, Cemoro Kandang (duuuhh pingin kesana lagi).
Sampai di pos Kalimati (2.700 m) kami (eh teman2ku ding) mendirikan tenda. Sudah magrib waktu itu. Aduuuuhhh indah sekali melihat sunset di alam terbuka tanpa diganggu suara mesin mobil dan dering telpon. Sambil menunggu tendanya berdiri. (aku dan Yeti, cuma duduk-duduk bak juragan :D). Yang ngambil air ke sumber (lupa namanya) juga yang cowok-cowok. Jadi kami berdua (aku dan Yeti) benar-benar tidak berguna sama sekali hehehe. Malamnya, lagi-lagi saya kedinginan gara-gara celana jins itu.
Besoknya perjalanan berlanjut ke Arcopodo (2900m) Sekitar 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang di tepi jalannya terdapat jurang yg sangat curam. Arcopodo ini adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Kami berangkat dini hari sekitar jam 2 karena estimasi waktu pendakian ke puncak Semeru sekitar 3-4 jam dengan medan yang cukup berat. Sungguh, seandainya saya tahu sebelumnya medannya akan seberat itu, saya yakin tidak akan ikut dalam pendakian. Saya sempat putus asa dan ingat mati (sungguh!!!) karena puncak yang kelihatannya dekat itu tak kunjung tercapai. Tanah (baca: pasir) yang saya injak selalu longsor. Kemiringan 45 derajat (mungkin lebih) membuat kami tidak bisa disebut berjalan tapi merangkak. Di sini kelihatan sekali watak asli teman-teman saya. Ada seorang teman yang mulai berhalusinasi berteriak-teriak minta kiriman helikopter. Ada bakat schizophrenia kayaknya hehehe (piiiissss Anen). Tapi akhirnya, meski tidak sempat menyaksikan asap dari Kawah Jonggringseloko, kami puas berhasil menjejakkan kaki di Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa....

Ini poto perjalanan pulang dengan latar belakang gunung Semeru

NB: Maaf fotonya agak burem. ini poto yg dipoto lagi pake kamera hp :P (mekso.com)
Labels: Madly, Truly
Shame on...me
Entah ini kebiasaan buruk atau hanya bentuk kehati-hatian yang berlebihan. Setiap saya berenang (di kolam renang umum) saya selalu tidak pernah membawa perlengkapan apapun yg tidak ada hubungannya dengan kegiatan berenang. Takut ilang. Dompet dan segala isinya saya tinggalkan di rumah, lebih-lebih henpon. Uang saya masukkan di saku celana saja, itupun secukupnya. Untuk keperluan beli tiket dan makan.
Hari itu, dengan diantar suami pergilah kami berenang. Seingat saya, saya sudah bawa uang cukup, makanya ketika anak saya ( 2 orang) mengajak makan di Sari Bundo sepulang berenang, saya oke-in aja. Tempatnya tepat di depan kolam renang. Karena kelaparan abis berenang mereka makan lahap banget. Agak ngeper juga saya, melihat mereka makan begitu rakusnya, comot ini, comot itu. Lalu iseng-iseng saya raba kantong saya. Hah!!! Cuma 70 puluh sekian ribu. Cukup ngga ya buat bayar makanan ini?
Otak saya langsung berputar (biasanya gak pernah dipake hehehe) gimana nyari jalan keluar, kalau nanti ketika bill (halah bill, bon maksute) diserahkan ternyata uang saya kurang. Ada beberapa alternatif solusi yang sudah terbayang di benak saya:
- Nelpon temen (pake telp koin tentunya) yg rumahnya paling dekat dengan lokasi untuk minta bantuan.
- Ninggal anak-anak di tempat dan saya pulang ngambil duit. (jarak rumah dan lokasi tidak terlalu jauh, tapi kalo naik becak kayaknya kasian juga anak-anak kelamaan jadi jaminan hahaha)
- Nyuruh si sulung pulang naik becak buat ngambil duit (tapi kok kayaknya kelamaan)
- Nelpon suami di kantor, minta solusi (halah kok repot tenan, dia dimana aku dimana)
Untuk sementara saya agak tenang sambil liat kiri kanan kira2 makan saya abis berapa ya... Di meja sebelah saya ada pasangan suami istri dengan seorang anak kecil. Kalo dilihat sisa menunya, dia menghabiskan makanan lebih sedikit dari yang kami konsumsi. Ketika waiter datang menghampiri mereka untuk mengantarkan bon, saya pasang kuping baik-baik. Wah kok habisnya melebihi jumlah uang yg ada dikantongku, padahal mereka kan makannya lebih sedikit. Modar aku!! Akhirnya supaya ngga perlu menjalankan 3 alternatif solusi di atas eh 4 ding, saya berhenti makan. Pura-pura kenyang. Biar anak-anak aja yang makan. Aku makan nasi ama kuah aja (kayak yg di iklan itu hahaha). Soalnya malu udah kebayang di depan mata nih.
Akhirnya tibalah saat yang menegangkan itu. Saya panggil mas-mas nya, minta bill (halah bill maneh, bon gitu looohh).
Saya: Berapa mas?Waiter: Seratus sekian ribu, Bu. (modiaaarrrr tenan…) Tapi karena hari ini ada diskon 25%, jadi totalnya tinggal sekian, Bu.Setelah saya lihat jumlahnya, saya lega, kayaknya masih cukup nih uang dikantong. lalu saya keluarkan semua uang (yg kucel bin lecek) di saku celana. Semuanya, termasuk recehan. Jumlahnya pas, sisanya cuma 3 ratus perak. Ongkos becak buat pulang? Bayar di rumah aja. Oh ya, masih ada lagi cerita memalukan dari kolam renang selain yang
ini. Tunggu besok.
Moral of this story: money can't buy everything (halah..)
Labels: Madly, Truly
I wish I were.....

Pernah nyoba ciuman gaya begini? Atau membayangkan menjadi Kristen Dunst dan kissing upside-down begini dengan Tobey Maguire, Nicholas Cage, Pierce Brosnan ato sama mas......halah!! Wes tuweeek!! Nyebuuuuttttt!!
Lho.. kalo cuma mbayangin kan ndak papa :P
Tip: buat yg pingin nyoba, cari tali dan gantungan yg kuat. Jo lali critani piye rasane ..
gambar diambil dari sini
Labels: Madly
Il fil
Pergi bersama keluarga meski cuma makan-makan di warung lesehan kaki lima buat saya sudah cukup menyenangkan. Apalagi kalau kesempatan untuk itu sangat jarang sekali didapat. Kebersamaan yang sangat ditunggu dan tentu dengan harapan semua peserta menikmati kebersamaan dan bergembira.
Mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi, maka ketika ada sedikit saja yang salah di acara keluar bersama itu, saya langsung kecewa dan buntut2nya apalagi kalo bukan marah. Lebih marah lagi karena yang bikin suasana rusak adalah orang yang sudah ndak lucu lagi alias bojo dewe. Yang bikin tambah mangkel, kejadian ini gak cuma sekali dua tapi berkali-kali. Huuhhh!!! Akhirnya bayangan saya ttg suasana gembira penuh tawa hilang berganti dengan acara tukaran (berantem) sepanjang perjalanan. Sampeyan mau tahu rasanya? Seperti menemukan sehelai rambut di menu makan siang. Marah plus pingin muntah!!! Rrrrrggghhhh...
Wes sakmene wae nulise, daripada nulis panjang isine pisuhan tok!!!
gambar diambil dari sini
Labels: Madly, Truly
Ngantuk poooollllll
Saya baru tahu kalo anak kecil ternyata tidak tahu kalau ketika ngantuk harus merebahkan badan supaya tidak doyong sana doyong sini he..he..
Note: pidio kiriman teman.
Labels: Madly
Yaaaaahhh..nabrak deh...
Pagi ini saya berangkat ke kantor jam 4.25 wib. Shift pagi. Ngga ada firasat apa2. Tapi tau-tahu di perjalanan, entah siapa yang salah, mobil saya srempetan sama sedan biru. Nyenggolnya cuma dikit sih, cuma bunyi duk gitu. Saya cuek aja, toh mobil saya sudah banyak goresannya, lagian saya juga mesti buru2. Harus on time. Jam lima harus sudah nyalain radio. Babu gitu loh.
Saya jalan aja terus, ngga nambah kecepatan, karena saya pikir senggolannya cuma dikiiiit banget. Eh ternyata mas itu mencoba mengejar dan menghalangi mobil saya. Wah kayak di film2 aja. Ya sudah akhirnya saya menepi meskipun sebenarnya saya bisa aja ngebut terus.
Dia turun dari mobilnya. Jendela saya buka. Lebar. Tanpa curiga.
Saya: kenapa mas
Dia: mana KTP nya!!
Saya: ngga!!
Karena saya ngga mau ngasih KTP, tiba-tiba dia langsung meraih kontak mobil saya. Untung saya juga sigap. Saya lebih dulu menyelamatkan. Jadi posisi tangan saya memegang kontak yg masih nempel ditempatnya sementara tangannya masih berusaha merebut dari tangan saya.
saya: mas saya lagi buru2. Jam lima saya harus siaran. saya ngga boleh telat. kalo mas mau mas bisa ikut saya ke kantor. Kita bicara disana.
dia: saya juga mau kekantor (dia ndak nyebutin kantornya dimana? Penyiar juga kali. Makanya sama2 buru-buru)
dia: mana KTP nya
saya: Memangnya anda siapa? Gini aja, ikut saya ke kantor. Kita ngobrol di sana. tolong lepasin tangannya.
dia: ngga bisa! KTP! (masih ngotot dan pake nada tinggi)
saya: Oke. ini name tag saya. Alamat kantor ada disitu. Saya harus ke kantor.
dia: saya bisa bikin ibu ngga nyampe kantor (wah ngancem nih)
saya: kenapa? Sampeyan mau bunuh saya?!!!! (nada saya tinggi)
Dia diem sambil tangannya terus berusaha meronta merebut kunci kontak. Akhirnya karena saya juga ngotot ngga mau ngasih KTP, dia pergi juga sambil membawa name tag saya. Cuma itu percakapan yg saya ingat. Saya bukan pemberani kalo lagi salah. Tapi bila pada kondisi sebaliknya saya bisa segarang macan!!! (macan betina boooo). Saya ngga merasa salah, kalaupun saya salah, dia juga ikut menyumbang kesalahan. Wes mbuh!!!
Kalo anda tanya kenapa saya berikan name tag (yang sudah beberapa kali menyelamatkan saya dari tilang he..he..). Jawabannya: kalau saya ngasih KTP, ngurusnya lebih susah. Penyerahan name tag itu bukan sebagai bentuk pengakuan rasa bersalah saya, tapi hanya untuk meyakinkan mas itu bahwa saya tidak berniat kabur dan saya mau menyelesaikan masalah ini plus saya mau cepet2 sampe kantor.
Mudah2an aja urusannya ngga jadi panjang. Males! Apalagi disuruh ganti rugi.
Maaf tulisane kacau. Lagi esmosi nih!!!
Labels: Madly, Truly
$#@*&%?+*&%$#
Saya lagi pingin ngumpat-ngumpat dan misuh-misuh. Rrrrrrrgggghhhhhh!! Ada yang mau jadi voluntir?
Labels: Madly
No Pain No Bra
Ulangan anak-anak selesai. Seperti biasa, anak-anak menuntut perhatian lebih. Ngga peduli mamanya sudah teler karena kerjaan di kantor nambah (tapi tidak berbanding lurus dengan gaji), kemarin pulang kantor mereka nodong ngajak renang. Karena masih terlalu siang, saya minta ijin untuk tidur dulu sejenak, karena sejak di perjalanan saya sudah ngantuk banget. Tidak lupa saya pesan anak-anak untuk membereskan perlengkapan berenang. Sementara saya pesan si mbak untuk menyiapkan punya saya (bukan contoh yang baik hihihi).
Bagun tidur, seperti biasa kalau mau berenang, baju renang saya pakai sejak dari rumah, jadi di kolam tingal copot baju saja. Tanpa memeriksa isi tas, saya langsung cabut sama anak-anak.
Di kolam, seperti biasa, TP-TP (walah gak nyebuuuttt). Maksudnya pamer sama orang-orang yang ada di kolam (terutama brondong-brondong dan bapak-bapak yg bisanya cuma berendam doang), liat gue nih, biar udah emak-emak, masih kuat berenang 3-4 putaran tanpa jeda. *sombong.mode*
Setelah cape, kami mentas. Lebih dulu saya mandikan si kecil. Acara mandi bilas ini tidak terlalu makan waktu karena hari itu kolamnya sepi pengunjung. Maklum weekdays. Setelah saya selesai mandi dan mengeringkan badan, giliran selanjutnya pake kutang dan CD kan? Tapi kemana 2 benda sakti itu? Ubek-ubek seluruh isi tas, tak berhasil juga kutemukan. Telpon rumah? Buat apa? Lagian kalo berenang saya tidak pernah bawa HP ato barang-barang berharga lainnya. Apalagi setelah Jeng Kenny pernah kecopetan di kolam renang.
Setelah ngga ada lagi tempat untuk mencari, akhirnya aku simpulkan si Mbak lupa memasukkan 2 benda itu dan aku pasrah. Maksudnya? Yo muleh ra nganggo kutang dan CD hehehe. Waduh, isiiisss meen..wakakak (tragicomedy). Untungnya benda sakti saya yg tertinggal itu tipenya (?)34 A, jadi ngga terlalu ngefek lah meski ndak pake. Malah keliatan seksi kayaknya, ngga perlu pake nipple tiruan. Wakakakak (kenthir). Makanya, Bu…siapin sendiri perlengkapannya. Kaya putri aja, segalanya minta diladenin) No pain..No Bra xixixixi.
Maap postingannya agak panjang.
Labels: Madly, Truly
For Adult Only
Sebenarnya sudah beberapa kali saya penasaran pada jamu (ato vibrator he..he..) ini. Tapi baru kemarin saya berani minta petugas apotik untuk mengambilkan kotak ini, dengan taruhan malu, karena dilirik bapak-bapak di sebelah saya (cuek ajaa, ngga kenal ini..).
Judulnya Tongkat Nikmat (nyem..nyemmm glek..), khusus untuk wanita. Katanya bisa bikin rapet (lawang be'eeee). Seperti jamu-jamu lokal (baca ilegal) lainnya, selain alamat pabrik ngga jelas, bahasanya pun asik punya. Coba liat aturan pakai no 2: yang hitam dipakai kalau mau main lima menit sebelumnya. Main??? Main gaple?
.jpg)
Labels: Madly
Aku...
Ndasku ngelu
Anakku ulangan
Sampe kurang turu
Opo maneh kelonan
Aku jablayyy
Jarang dibelayyyy :P
Labels: Madly
KALIREN
Sejak harga beras naik teman saya yang satu ini selalu mengeluh ndak bisa makan nasi dan terpaksa makan nasi aking. Setiap hari ituuuu melulu yang jadi bahan pembicaraan, sampai rasa iba saya berubah menjadi bosan. Kebetulan kemarin saya pulang bareng, jadi sekalian saya ajak dia makan enak.
Waduh, mentang-mentang ada yang nraktir, makannya banyak banget! Aku rodok curiga, jangan-jangan dia nogo-en (bukan cacingen), lha wong mangane wakeh banget jeeee. Ini buktinya:











Sebenarnya ada 2 piring lagi yang isinya nasi goreng dan teman-temannya yg cukup berat. Piring yang satunya lagi isinya spageti, cuma sayang fotonya
burek, jadi ndak saya tampilkan. Tak pikir 12 gambar ini sudah cukup mewakili untuk menyebutnya Wrikodara alias perut srigala. Untungnya kita makan di restoran
all u can eat, jadi aku ndak perlu
ketar-ketir mbayare, soale wes mbayar nang ngarep. Denger-denger katanya, setelah makan gila-gilaan itu, semalam sampai pagi ini dia belum makan apapun, karena belum lapar (
koyok ulo ae mari mangan akeh trus turu seminggu.. wakakakak)
NB: gambar fruit cocktail memang sengaja ditampilkan 2 kali, soale temenku itu memang ambil 2 kali.
Labels: Madly
HUJAN-HUJANAN
Bagi sebagian orang kehujanan mungkin jadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Apalagi kalau kehujanan pada saat dandanan masih rapi. Sumpah serapah tak jarang muncul pada saat karunia Tuhan sedang tercurah seperti ini. Manusia memang mau enaknya sendiri. Kalau bisa dia yang ngatur kapan hujan turun, kapan matahari bersinar. Wenaaak tenaaaannn dadi tuhan, gitu kali ya.. (Jadi inget film Bruce Almighty..I Got The Power!!!). Tapi bagi saya kehujanan merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu. Paling tidak sampai tadi malam.
Surabaya di guyur hujansejak siang sampai malam. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan hujan terus turun sampai saya pulang kantor. Selama ini setiap turun hujan, kalau tidak sedang dalam angkot, di rumah, ya di kantor. Jadi ngga ada kesempatan buat hujan-hujanan dan memakai jas hujan baru saya. Sudah sebulan lebih saya menunggu saat memakai pakaian kebesaran ini. Ingin menikmati diciprati air hujan. Ingin menikmati dinginnya diguyur air hujan, soalnya ngga mungkin kan lari-lari di depan rumah cuma pake CD doang he..he.. (bisa melotot mata Pak RT ku melihat bodiku yg seksi ini kikikik). Dan akhirnya saat itupun tiba. Huajn tlah tiba..hujan tlah tiba (dinyanyikan seperti lagunya Tasya Libur tlah Tiba). Aku hujan-hujanaaaaannnn...

Keterangan gambar:
Lokasi: rumah lengang Christie
Kostum: Girogiro Armani
Sepatu: Manollo Blantik (maaf tidak tampak di gambar)
Make Up: Peter F Semirang
Fotografer: Darwis Dardurung
Labels: Madly
NGISIN-NGISINIIIII
Meskipun sudah berulangkali dirugikan oleh sikap ceroboh saya, tapi saya tetap tidak pernah kapok bersikap ceroboh, menganggap remeh sesuatu. Yang terakhir saya alami hari Sabtu kemarin. Teman saya menikah. Undangannya sudah saya terima kira-kira 5 hari sebelumnya. Setelah saya lihat tanggal, jam dan tempatnya, saya tutup undangan itu dan membiarkannya tergeletak di meja bercampur dengan koran dan majalah.
Ketika tiba hari H, tanpa melihat lagi undangan yang sudah tenggelam di tumpukan koran dan majalah, kami langsung berangkat menuju pesta. Begitu sampai di sana, saya langsung mengisi buku tamu memasukkan amplop ke dalam rumah-rumahan (mboh opo jenenge iku), lalu melangkah masuk gedung. Tapi di ambang pintu saya jadi ragu, nama pengantin yang ditempel di pintu kok bukan nama temanku ya? Lalu saya kembali lagi ke mbak-mbak penerima tamu tadi. Saya tanyakan nama lengkap pengantinnya. Ternyata nama yang disebutkan mbak itu bukan nama yang kukenal. Segera saya teringat sebaris kata yang tertera di undangan teman saya, tempat: Pool Side. Ya, tempatnya di pool side bukan di dalam gedung. Waduh gimana nih, amplopnya sudah kadung dimasukkan ke rumah-rumahan itu. Diminta lagi, ngga ya? Saya bingung.
*)Daripada malu akhirnya saya masuk aja ke dalam, bergabung dengan tamu-tamu yang lain dan berlagak pilon. Dalam hati saya berucap: wah gimana nih, ngga jadi dateng ke pesta temenku dong. Lha wong amplope cuma siji. Mosok yo di lobokno mudho ngono, gak atek amplop. Sambil makan, saya mikir buat nyari amplop ato apa aja yg bisa buat mbungkus duit. Untungnya waiternya ada yg baik, saya di berinya amplop satu. jadinya, hari itu saya buwu ke 2 tempat. Waduuuh tanggal tuweeekkk, tambah entek duitku..
(iki versi mbujuk)
(yang ini versi non fiksi)
Untungnya ada perempuan sepuh (mungkin kerabat sang pengantin) yang menangkap kebingungan saya. Katanya:
+ Kenapa mbak?
- Hhhmmm anu ..saya salah, Bu. Pesta teman saya ternyata di pool side, bukan disini. Maaf..
+ Oooh mboten nopo-nopo, diambil saja lagi. Ndak pa-pa..
- Trimakasih bu, maaf…
Lalu dengan muka agak ditekuk, mbak penerima tamu tadi membuka rumah-rumahan tadi dan mengambil amplop saya..(untuuung ada ibu itu, coba kalo ngga, rugi dooong gueee he..he..). Untunge omah-omahan iku gak dikunci (soalnya biasanya kan dikunci dan kuncinya dibawa yang punya hajat). Untungnya lagi tamu yang datang bersama saya tidak banyak jadi mbak penerima tamu itu masih mau mencarikan amplop saya sing isine duit dollar (hehe sing iki mbujuk ). Untungnya (maneh), amplopnya saya kasih nama di luar, biasanya saya masukkan kartu nama di dalamnya, tapi berhubung kartunama lagi habis, akhirnya identitas saya tulis di luar. Untung yang berikutnya adalah saya belum makan jadi ndak malu ngambil amplop saya lagi (ndak malu apa ndak punya malu? hihihi..Lapo isin wong aku gak korupsi kok, gak ngrampok kok, sing korupsi ae malah gak isin blas.. he..he.. bela diri kiii, padahal asline peliiiitt).
Labels: Madly, Truly
MAU JADI APA?
Kalo ada reinkarnasi, kamu pilih jadi apa? Laki ato perempuan. Temen saya langsung jawab lantang: Laki-laki. Kenapa? Soale dadi wong lanang iku enak. Iso sak kareppe dewe. Iso mblakrak, gak onok sing protes. Masio doyan wedok, gak onok sing ngilokno. Bisa punya istri lebih dari satu. Wes poko'e wenak tenan dadi wong lanang!!! Coba aja liat, suami selingkuh bukannya digugat cerai malah didampingi minta maaf di depan pers! Wuih, jiannn istri idaman, berbakti pada suami (gak tau di belakang, abis lempar-lempar piring kali he..he..).
Ada lagi yang minta ijin kawin lagi soalnya sering tugas keluar kota, bininya gak bisa di ajak. Gimana bisa diajak, lha wong anake sak renteng. Kalo ikut suami, siapa yang jaga anak-anak? (Ato jangan-jangan emang sengaja bininya dikasih banyak anak supaya ngga bisa diajak ke luar kota he..he.., suudzon iki..) Makanya, sang suami nyari 'penjaga' yg bisa ngurusin kalo dia lagi keluar kota. Sekali lagi jadi laki-laki itu wenaaaaakkk, bisa punya bini di berbagai kota.
Mau contoh lain? Coba sampeyan yang perempuan main laki-laki, apa kata orang? Dasar perempuan gatel, murahan, binal dll. Tapi coba kalo sebaliknya, paling banter komentarnya cuman gini: ya wajar lah laki-laki. Sukur-sukur bukan bininya yang disalahkan; abis bininya sih gak bisa ngeladeni, ya gitu lah suaminya kelayapan. Weleh, kita lagi yang salah. Sekali lagi wenaaak tenan dadi wong lanang isok selingkuh sana selingkuh sini...
Makanya mbesok kalo ada tawaran; mau jadi apa kau kalau dilahirkan kembali. Aku akan dengan lantang menjawab: MAU JADI LAKI-LAKI!!! Bukan mau jadi jahanam tapi cuma buat cari senang ha..ha.. ngutip Pingkan Mambo nih.
Kalo ngga kuat poligami minimal bisa menikmati polipantai laaahhh..
Labels: Madly