22 November 2006

BELUT ELEK

Mumpung Mbak ini lagi pergi, saya akan ambil kaplingnya: nulis tentang makanan. Kalo selama ini Jeng ini, Jeng ini dan Jeng ini ini selalu teriak-teriak minta bebek, rawon, rujak cingur dlsb, saya mau kasih tahu satu lagi bahan teriakan. Namanya Pecel Belut Elek.

Biasanya pemilik usaha restoran akan membuat nama sebagus mungkin untuk menu di tempatnya tapi Haji Poer rupanya punya pikiran lain. Dia justru berusaha menarik perhatian orang untuk mencoba menu di warungnya dengan memberikan nama yang berkonotasi negatif: elek. Saya termasuk yang jadi korban. Karena sudah tahu nikmatnya belut goreng Haji Poer ini, saya coba memesannya dan ternyata memang enak. Menurut penjualnya (yang naujubila cuantiiik banget, istrinya kali), diberi nama elek karena tampilannya yang coklat (biasanya putih) dan warna coklat ini terbentuk karena ketika menggoreng, ditambahi saos Raja Rasa. Ini gambarnya, ngga sebagus hasil jepretannya Mas ini memang, tapi lumayan kan?



Pak Haji Poer memang hebat, kata suami saya yang rumahnya deket ama warungnya Pak Haji ini, beliau jualan sudah sejak 25 th yang lalu! Mulai dari warung kecil sampe sekarang (masih kecil siih tapi pelanggannya itu lho..). Kata mbak yg melayani saya kemaren, sehari Haji Poer bisa menghabiskan belut sampai 70 kg. Belutnya juga bukan belut biasa tapi belut tambak yang katanya lebih empuk dibanding belut sawah.

Nah, untuk Jeng-jeng yang pingin nyoba, kalau ke Surabaya coba mampir ke warung Haji Poer di Banyu Urip Bok Abang. Naik terus, sampe di lapangan bola, kalo blom keliatan, tanya deh ama tukang becak di sana, pasti mereka tau. Kalo tukang becaknya pura-pura ngga tahu coba ajak dia makan bareng, bilang mo ditraktir, pasti dia mau nunjukin. Ato kalo mau nyoba cabangnya yang di Sidoarjo, boleh. Alamatnya pokoknya di pertigaan RS Siti Hajar dan Matahari, tepatnya di ruko baru, yang pojok sendiri. He..he.. alamate gak jelas...