Kalau usaha terakhir penanganan lumpur gagal, kajian BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Tehnologi) semburan baru akan mereda setelah tigapuluh satu tahun. Artinya bukan hanya Sidoarjo yang tenggelam, tapi juga Surabaya. Duh..Gusti..ampuni dosa kami...
Kemarin saya dan suami jalan-jalan ke Porong. Memang sengaja jalan-jalan, ke rumah teman sambil melihat sendiri bagaimana keadaan disana. Harusnya banyak yang bisa saya potret, tapi suami melarang saya.
Bojo: kamu bukan sedang dalam tugas jurnalistik. Ini bukan main-main. Ini bencana. Bukannya prihatin, malah poto-poto.
Aku: nek ngono kartu pers mu tok no. Bilang aja mau liputan.
Bojo: Itu bohong namanya.
Aku: ya jangan bohong lho.
Bojo: maksutmu, aku mbok kongkon nulis ngono tah? Iku jenengi nambahi kerjaan. Gak usah. Tujuannya tadi bukan untuk ini.
Aku: yo wes, nek ngono aku pake kartuku ae. (pancet ngeyel)
Bojo: sudahlah, kamu kan tidak sedang bertugas. Itu bohong namanya. Untuk apa sih? Akan lebih baik kalau kamu memberikan bantuan untuk mereka.
Aku: bantuan? Gak kliru tah Mas. Mereka itu bukan orang miskin. Ganti ruginya gede.
Bojo: Ngga semuanya begitu. Kalaupun memang iya, sekarang mereka sedang
menderitaYa.. memang tidak sepantasnya saya poto-poto kalo hanya untuk kepentingan blog dan memang bukan untuk itu tujuan saya kesana. Untung ada yang mengingatkan, dan mudah2an dia ngga bosan mengingatkan istrinya yang sering
mbeller, sembrono, pemalas, boros, cerewet dan gak becus masak ini. Pendek kata dari tiga 'ur', dapur-sumur-kasur, saya cuma hebat di yang terakhir, itupun subyektif. Maksutnya kalau sudah di kasur saya pasti langsung ngorok he..he.. Makanya daripada berantem, saya milih nurut (bukan ngalah, karena ngga biasa ngalah. Maunya ngalahin terusssss) aja.
Jadi inilah hasil jalan-jalan saya kemarin.
.jpg)
Lokasi toko ini ada di Jalan Raya Porong. Pemiliknya, Ibu Rahmawati mengaku sejak jalan di depan tokonya macet, omzet tokonya menurun drastis. Sekarang, beliau tidak lagi menambah stok barang tapi hanya menghabiskan barang yang ada. Suaminya yang pernah menjadi sales dan sedikit tahu ilmu marketing berusaha menarik pembeli dengan memasang spanduk ini di depan tokonya. Ketika ditanya tentang mengungsi, Rahmawati menjawab ngga ada persiapan sama sekali. "Saya sih pasrah aja, Mbak," katanya sambil tersenyum. Padahal desa Siring di sebelah tempatnya tinggal sudah dalam keadaan seperti dibawah ini.


Jalanan di depan toko Cendrawasih milik Rahmawati memang macet total. Itu yang menyebabkan tokonya sepi pembeli. Panas matahari yang menyengat dan asap dari kendaraan yang terjebak kemacetan membuat saya sulit mendapatkan udara segar bahkan untuk sekedar berteduhpun sulit sekali. Kolong jembatan tol yang sering dijadikan lahan berjualan pun sekarang jadi tidak aman, bahkan untuk sekedar berteduh sekalipun. Karena jembatan bisa runtuh sewaktu-waktu. Kata Surbakti Syukur, Kepala Cabang Tol Surabaya-Gempol, terjadi pergeseran dudukan jembatan dan tumpuan jembatan 6 cm terpantau sejak 9 Oktober lalu (Kompas, 2 Desember 2006)
.jpg)
Sekarang jalan tolnya bisa dilewati sepeda motor lho....
.jpg)
Enam ratus meter lagi...
.jpg)
Karena masih ada acara ngajak anak-anak berenang, akhirnya kami pulang. Siangnya kita jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Ini poto jagoan saya yang nomer satu, Reza.

Sayangnya di acara yang menyenangkan ini, kacamata kesayangan dan satu-satunya milik saya hilang. Hiks..